TEKA-TEKI TIKA (2021) – CARA ERNEST BERMAIN TEKA-TEKI DAN KELUAR DARI RUANG NYAMAN

Keluar dari ruang nyaman seringkali menjadi kebutuhan bagi orang-orang tertentu, apapun profesinya. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki fokus pada dunia seni, melakukan eksperimen menjadi pilihan satu-satunya keluar dari kejenuhan berkarya. Film sebagai medium perkumpulan berbagai jenis seni, dari visual sampai musik, menjadi wahana bermain kreativitas bagi para sineas. Mereka bisa saja melakukan eksperimen dari berbagai sisinya, entah sinematografi, cara bertuturnya dan sebagainya.

Banyak pecinta film yang sebelumnya sudah akrab dengan dua karya Edwin: “Babi Buta Yang Ingin Terbang” dan “Kebun Binatang” yang telah berkeliling ke berbagai festival internasional. Lalu tiba-tiba ia membuat “Posesif” yang walaupun kita masih bisa melihat Edwin di dalamnya, tapi secara keseluruhan film ini membuat Edwin keluar dari ruang nyamannya, memberikan ia spotlight lebih dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik di tahun 2017. Sineas yang seringkali tidak betah berada di ruang nyaman adalah Joko Anwar. Lihat saja filmografinya, beragam genre sudah ia cicipi dan mayoritas penonton suka-suka saja dengan usaha yang ia lakukan dengan bonus bermacam penghargaan.

Kita kembali pada topik utama tulisan ini. Ernest Prakasa dengan film panjang keenamnya “Teka-Teki Tika” yang digadang sebagai karyanya yang sangat berbeda. Apakah berhasil mengikuti para pendahulunya dalam bermain dengan kreativitas dan keluar dari ruang nyamannya selama ini? Ya…walaupun film ini barangkali belum menjadi karya yang memberikan Ernest penghargaan sutradara terbaik, eksperimen yang ia lakukan di “Teka-Teki Tika” patut diapresiasi. Film ini boleh dicatat sebagai langkah berani Ernest di genre thriller setelah lima film sukses besar sebelumnya di ranah komedi.

“Teka-Teki Tika” mengenalkan kita pada Budiman Limanto (Ferry Salim) dan Sherly Winata (Jenny Zhang), sepasang pengusaha yang tengah merayakan hari jadi pernikahan bersama kedua putra mereka: Arnold (Dion Wiyoko) dan Andre (Morgan Oey), juga istri Arnold, Laura (Eriska Rein) dan pacar baru Andre, Jane (Tansri Kemala). Perayaan tersebut tiba-tiba berjalan runyam dengan kehadiran Tika (Sheila Dara Aisha) yang mengaku sebagai putri Budiman dan menambah masalah baru, selain kondisi bisnis mereka yang tengah sekarat. Apalagi Tika juga meminta sejumlah uang agar ia bisa tutup mulut.

Lantas penonton dibuat bertanya-tanya, apakah betul Tika ini putri kandung Budiman?

Sayang sekali, cara Ernest bermain teka-teka dalam film ini terasa masih gagap. Ada hal-hal yang masih kurang sana-sini sebagai sajian thriller dan tentu saja kesimpulan kasus yang seolah dipaksakan. Isu korupsi yang ia masukkan sebetulnya bisa menjadi keunikan tersendiri dalam film ini, tapi pesan-pesan di penghujung membuat bagian tersebut seperti iklan layanan masyarakat. Namun syukurlah, kita masih bisa melihat jajaran pemain yang berakting dengan tepat sesuai porsinya masing-masing, gerakan kamera yang atraktif dan set yang enak untuk dilihat. Secara keseluruhan, dibalik keluhan di atas, film ini tetap menjadi hiburan seutuhnya. Apalagi bagian akhirnya seolah menjanjikan kelanjutan-kelanjutan yang lebih seru (entah sekuel, spin off atau serial seperti yang terjadi pada film-film Ernest sebelumnya).

Walaupun “Teka-Teki Tika” terasa berbeda dari karya Ernest sebelumnya, terutama dalam hal genre, kita masih bisa melihat ciri khas sang sineas: celetukan-celetukan yang mengundang tawa, chinese culture dan tentu saja keluarga. Ernest selalu memberikan kisah keluarga yang menarik, tidak terkecuali dalam film ini. Dengan karakter-karakter dan dinamikanya masing-masing, keluarga menjadi kekuatan Ernest dalam mengolah cerita. Barangkali ke depannya pun kita masih diberikan kisah tentang keluaga-keluarga lainnya sembari Ernest memecahkan teka-teki lainnya dalam berkarya.

Share