HATCHING (2022) – SUGUHAN BUAT FANS FILM MONSTER DAN BODY HORROR!

Menyebut negara Finlandia di kancah perfilman sungguhlah sangat asing di telinga. Barisan filmnya masih tertinggal dari negara tetangga Swedia dan Denmark. Untuk pasar di Indonesia beberapa film mungkin bisa tayang lewat festival-festival, salah satunya di Europe on Screen yang baru saja lewat, Finlandia diwakili oleh film The Blind Man Who Did Not See Titanic yang mendapat sambutan dan ulasan-ulasan baik.

Kini sebuah film horor hadir mewakili, film bertajuk Hatching yang mengambil sub genre creature feature dan body horror yang disutradarai Hanna Bergholm ini tayang di beberapa bioskop di Indonesia mulai 29 Juni 2022.

Film berpusat pada seorang remaja perempuan bernama Tinja (Siri Solalinna) yang hidup di sebuah keluarga yang ‘terkesan’ normal dari luar namun menyimpan masalah terpendam karena sang Ibu (Sophia Heikkila) yang dominan. Kariernya sebagai seorang vlogger menuntut kesempurnaan dari Tinja dan keluarganya. Sementara sang Ayah (Jani Volanen) adalah sosok submisif, penurut dan sangat legowo justru sang adik Matias (Oiva Olilla) menjadi sosok adik manja yang tantrum saat keinginannya tidak dipenuhi. Kehidupan keluarga ‘bahagia’ mereka ini menjadi sebuah segmen di vlog sang Ibu.

Sebuah kejadian saat Ibu membunuh seekor burung gagak yang mengacau di rumah pelan-pelan mengubah cara pandang Tinja pada ibunya. Film ini kemudian menggambarkan Tinja menemukan sebuah telur di dekat jasad burung gagak tersebut dan dengan rasa iba mencoba mengerami telur tersebut. Alih-alih menetaskan gagak tanpa diduga telur itu membesar dan menetaskan seekor burung monster yang aneh nan menjijikan yang akan mengubah hidup Tinja selamanya.

Monster Atau Khayalan?

Genre horor memiliki beragam sub genre yang kerap dimanfaatkan para pembuat film untuk menakut-nakuti, membuat jijik maupun menyampaikan kritik sosial politik dalam bentuk metafora dan alegori. Hatching memiliki layer cerita seperti itu dengan sederhana dan tidak pretensius. Film ini tetap memposisikan diri sebagai sebuah film monster dengan sentuhan body horror yang banyak menggunakan efek praktis.

Kisahnya yang sederhana tentang anak memelihara monster tanpa diketahui keluarganya dapat pula diartikan lain bagi penggemar film dengan plot ambigu. Niat menceritakan kisah keluarga yang ingin anak sempurna, serta anak yang menyimpan dalam-dalam trauma dan depresinya dituturkan tanpa mengganggu teror horor yang dilakukan oleh sang monster di banyak kesempatan.

Sutradara Hanna Bergholm cukup andal menakut-nakuti penonton lewat sudut-sudut kamera yang lazim di film-film horor berkualitas, serta berhasil memanfaatkan practical effect yang terlihat jelas menggunakan budget minimal dengan hasil gemilang. Teror-teror dan jumpscare-nya terbilang cukup efektif dan efisien serta terbayarkan tanpa adanya fake jumpscare yang kerap muncul mengganggu flow film.

Penampilan monster burung di film ini juga menjadi highlight. Tim spesial efek yang dominan menggunakan efek praktis serta tim desain monsternya layak diberikan kredit lebih. Walaupun terlihat rapuh dan tidak mobile namun kesan menjijikan dan mengerikannya tetap didapat saat kemunculannya di layar.

Di luar dari banyak kelebihannya, film ini masih memiliki kekurangan dari sisi penulisan naskah yang tidak mengembangkan karakter ayah dan adik di film ini. Keduanya juga sering tidak dilibatkan di momen-momen krusial yang sedikit tidak masuk akal mengingat eskalasi teror makin meninggi di klimaks film. Khusus karakter Ayah, terasa kurang dimensi dengan sikap legowo dan cueknya. Beruntung senyum sang aktor pemerannya mampu memberikan nuansa creepy di tiap kemunculannya.

Meski menjadi kekurangan terbesar, tetapi naskah film ini memiliki klimaks yang memuaskan di babak ketiga serta ujung film yang akan membuat penonton terbelah antara “kok gitu doang?” atau malah “oh, gitu maksudnya”. Hatching tayang di bioskop mulai 29 Juni 2022.

Share