CHALLENGERS (2024) – FILM SPORT DENGAN DRAMA PERCINTAAN SEGITIGA DAN “BUMBU” THRILLER

Tema cinta segitiga yang dibawa Challengers merupakan film yang digarap oleh Luca Guadagnino, sutradara di balik film Suspiria (2018) dan Call Me by Your Name (2017). Sementara naskah film ini dikerjakan oleh penulis Justin Kuritzkes. menjadi pembeda dari Challengers ketimbang film genre olahraga lain  yang cenderung menghidupkan tema-tema underdog atau kebangkitan kemenangan seorang atlet, tanpa mengurangi keseruan elemen olahraga yang dibawa dalam film.

Zendaya dikabarkan mendapat bayaran sebesar US$10 juta (sekitar Rp150,8 miliar) untuk perannya dalam film Challengers. Selain itu, ia menghabiskan tiga bulan pelatihan dengan pelatih sekaligus mantan pemain tenis, Brad Gilbert, yang juga bertindak sebagai produser dan konsultan di film tersebut.

SINOPSIS

Film Challengers mengisahkan tentang seorang juara Grand Slam tenis yang harus berhadapan dengan mantan kekasih istrinya yang juga mantan sahabatnya di sebuah turnamen challenger.

Patrick Zweig dan Art Donaldson adalah pemain tenis ganda pria yang sudah akrab sejak menjadi teman sekamar di asrama di usia 12 tahun. Bahkan, mereka juga masuk ke sekolah tenis yang sama dan bertanding bersama. Namun, persahabatan keduanya terancam bubar saat mencintai gadis yang sama, Tashi Duncan, seorang pemain junior tenis yang ambisius. Saat Tashi memilih Patrick sebagai kekasihnya, Art yang cemburu berusaha merebut dengan cara yang halus.

Batas antara pertemanan, profesionalisme, dan cinta segitiga pun mulai kabur ketika ketiganya bertemu lagi di sebuah final penentu.

REVIEW

Salah satu aspek yang paling memukau dari film Challengers adalah alur non-linear yang digunakan. Dengan menggunakan serangkaian kilas balik, penonton diperkenalkan pada sisi-sisi yang kompleks dari setiap karakter, menjadikan film ini semakin mendalam. Melalui serangkaian flashback, penonton diajak untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi dengan ketiga karakter. Bagian akhir dari film yang dibuat seperti menggantung, mempersilakan penonton menduga siapa pemenang dari pertandingan, atau sesungguhnya ketiga sama-sama memenangi cinta sejati mereka, yaitu tenis.

Pergerakan kamera yang dinamis memang menjadi salah satu keunggulan film ini dalam menggambarkan pertandingan tenis sehingga sanggup membuat penonton merasakan betapa intensnya permainan adu hantam bola ini. Satu lagi yang menarik dari Challengers adalah penggunaan musiknya yang terasa tepat untuk membangun mood. Namun, Guadagnino juga sadar bahwa penggunaan musik saat pertandingan justru malah akan merusak suasana sehingga kita akan diberikan pertandingan yang sunyi sehingga bisa mendengar hantaman raket, dentuman bola, hingga  napas dan teriakan para pemain.

Zendaya berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya yang karismatik dan memukau sebagai Tashi, yang terjebak dalam hubungan rumit di antara dua pria.Penonton diajak untuk mempertanyakan siapa sebenarnya yang dicintainya, dan apakah cinta sejati baginya hanya sebatas permainan tenis belaka.

Dalam satu masa, mungkin kita akan terkagum-kagum dengan Tashi. Namun ketika mundur kembali ke belakang, mungkin kita akan sebal dengannya dan menyadari bahwa ia adalah sosok pengendali yang manipulatif, lalu kita berbalik bersimpati dengan Patrick. Namun seiring pecahan-pecahan cerita terkumpul, opini kita bisa jadi akan berubah-ubah lagi.

Pemilihan musik yang digunakan dalam beberapa adegan mungkin akan patut dipertanyakan, karena terkadang mengganggu hingga membuat dialog yang diucapkan para pemain menjadi kurang jelas karena volume yang ditinggikan dan tempo beatnya yang memang kencang.

Challengers merupakan film sport drama yang sarat twist dan bumbu thriller, ditambah pengambilan shot-shot kamera yang memukau di filmnya.

Penampilan dari Zendaya yang semakin matang, didukung para aktor-aktor berkualitas menjadikan cerita Challengers menarik buat diikuti dari awal hingga filmnya berakhir.

Film Challengers tayang di bioskop Indonesia mulai Jumat, 26 April 2024

Share