Berbagai isu terkait dengan perempuan menjadi hal yang tidak pernah habis untuk diceritakan dalam media film. Untuk memahami segala permasalahan yang dihadapi oleh perempuan, tentu akan lebih terasa jika film tersebut diarahkan oleh perempuan sendiri. Walaupun terkadang lelaki berhasil menafsirkan, di baliknya pasti ada sosok perempuan yang memberinya inspirasi atau membantunya untuk berkarya.
Tapi sayang sekali, jumlah sineas perempuan masih sangat sedikit jumlahnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith dkk (2020) dari tahun 2007 sampai 2019, dari 1.300 film populer yang dirilis, perbandingan sutradara lelaki dengan perempuan adalah 20 berbanding 1. Ini tentu saja menunjukkan jumlah yang amat memprihatinkan. Apalagi jika dikaitkan dengan golongan tertentu.
Keadaan di Indonesia tidak jauh berbeda. Tapi walaupun belum banyak, Indonesia memiliki deretan sutradara perempuan dengan karya-karya yang sangat menonjol dan istimewa. Diantara mereka ada yang film-filmnya berjaya di berbagai festival internasional, ada pula yang mencetak box office. Bayangkan jika jumlah sineas perempuan ini semakin banyak. Film-film mereka menghadirkan karakter-karakter perempuan dengan persoalan masing-masing. Ini membuat kita, para lelaki bisa lebih dekat untuk memahami isu-isu yang mereka alami.
Nia Dinata
Nia Dinata memiliki peran yang sangat besar dalam kebangkitan film Indonesia di awal 2000-an bersama Kalyana Shira Film yang ia dirikan. Film-filmnya menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang masih kita ingat sampai sekarang. Arisan! (2003) – peraih film terbaik dalam FFI 2004 – mengenalkan kita pada Meimei yang tengah menghadapi persoalan dalam rumah tangga. Ketakutan pada banyak perempuan akhirnya Meimei alami. Pada akhirnya, ia mengambil langkah berani demi dirinya sendiri. Kisah Meimei ini berlanjut dalam Arisan! 2 (2011) dimana ia harus menghadapi fase yang lebih berat dari sebelumnya. Meimei lagi-lagi memilih langkah untuk dirinya sendiri. Meimei adalah gambaran perempuan perkotaan mandiri yang walaupun sebagai perempuan ia tidak bisa lepas dari permasalahan tertentu, ia masih bisa memegang kendali dalam hidupnya.
Film arahan Nia Dinata yang belum lama dirilis melalui Netflix adalah A World Without. Film ini mengenalkan kita pada tiga perempuan muda yang berusaha mencari kebahagiaan tapi terjebak dalam sebuah sistem yang mengakar. Salina, Tara dan Ulfah harus berontak demi meraih kebebasan mereka, dibanding harus menjalani kebahagiaan palsu dalam kekangan.
Mouly Surya
Mouly menjadi salah satu sineas termuda yang meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik pada tahun 2008 untuk film panjang perdananya, fiksi. (juga menjadi film terbaik FFI 2008). Dalam fiksi. kita bertemu dengan Alisha, seorang gadis yang asyik dengan dunianya sendiri. Hingga pada suatu hari seseorang membuatnya keluar dari istana dan membuatnya mengenal dunia luar. Ia pun mengambil cara adaptasi di dalam jalan yang begitu gelap. Alisha adalah gadis yang pintar. Begitu pintarnya hingga bisa melanjutkan cerita fiksi dengan cara nyata.
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) membawa Mouly ke panggung Cannes dan membuat namanya terkenal ke seantero dunia. Film unik ini membawa kita mengikuti kisah Marlina, seorang perempuan kuat yang menuntut keadilan. Kisah Marlina masih banyak kita temukan hingga hari ini, dimana perempuan-perempuan masih memperjuangkan keadilan atas kehormatan yang mereka pertahankan.
Gina S. Noer
Sebelum menyutradarai filmnya sendiri, Gina telah menulis banyak skenario film box office. Pengalaman itu ia bawa ke dalam film debut penyutradaraannya, Dua Garis Biru (2019) yang berhasil mengajak lebih dari dua setengah juta penonton ke bioskop. Film ini menunjukkan permasalahan klasik ketika seorang gadis yang sangat belia terpaksa menjadi dewasa belum pada waktunya: memiliki rumah tangga dan mengurus anak. Tapi rupanya semua itu tidak menghalangi Dara untuk tetap mengejar mimpi-mimpinya.
Film panjang kedua arahan Gina S. Noer – Cinta Pertama, Kedua & Ketiga (2021) – merupakan perjuangan seorang anak perempuan dan ibunya dalam keterbatasan. Sang anak berusaha membuat ibunya bahagia, begitupun sebaliknya apa yang dilakukan ibunya. Sebuah siklus yang tidak pernah putus.
Sammaria Simanjuntak
Saya masih ingat apa yang disampaikan Sammaria Simanjuntak bersama rekannya, Sally Anom Sari ketika menerima Piala Citra untuk Skenario Asli Terbaik di tahun 2009. Saat itu tengah santer peraturan siapa yang berhak membuat film. Dua perempuan ini berani menyindir kebijakan yang ada dan seolah menjadi kemenangan yang sempurna.
Tahun 2013 Sammaria hadir dengan film Demi Ucok yang ia garap dengan cara crowdfunding. Film ini pun berhasil menjalani proses pasca-produksi bersama dengan para pecinta film yang bersedia untuk menjadi co-produser. Kita bisa lihat daftar panjang di credit title. Senang sekali bisa menemukan nama sendiri ketika itu di antara tumpukan nama-nama yang kita kenal. Demi Ucok mengenalkan kita pada Glo dan Ibunya, Mak Gondut yang sering tidak akur. Mak Gondut ingin sekali melihat Glo hidup bahagia dengan lelaki yang layak, sementara Glo ingin menjadi perempuan mandiri dengan mimpi-mimpinya. Ia dan Ibunya pun dipersatukan dalam sebuah produksi film.
Guru-Guru Gokil, filmnya yang dirilis 2020 lalu melalui Netflix mengajak kita mengenal para guru dalam keterbatasan mereka. Diantaranya adalah Bu Nirmala. Cobalah berkunjung ke sekolah-sekolah. Disana banyak perempuan seperti Bu Nirmala yang mengandung tapi masih semangat untuk mengajar.
Hadrah Daeng Ratu
Ia boleh saja sutradara perempuan paling junior dalam daftar ini. Tapi ia termasuk yang paling produktif. Sejak kiprahnya sebagai mahasiswa dan membuat film pendek di tahun 2009, sampai saat ini ia telah menyutradarai sekitar sebelas film panjang dengan beragam genre. Salah satu yang dirilis tahun lalu dan menjadi original film Indonesia pertama dari Netflix: A Perfect Fit. Sebuah drama komedi romantis yang menceritakan tentang Saski, seorang perempuan yang hidup antara tradisi dan modernitas. Tapi diantara konflik kedua hal tersebut, cintanya muncul seolah tidak terbendung.
Semua film yang disebutkan di atas – dengan karakter-karakter perempuan yang kuat arahan para sutradara perempuan dengan keunikan masing-masing – bisa ditonton melalui Netflix. Apalagi sekarang Netflix berkolaborasi dengan IndiHome yang merupakan bagian dari Telkom Group yang berpengalaman menghadirkan internet keluarga dengan WiFi cepat. Dengan kerjasama ini, semakin mudah bagi kita para pelanggan untuk nonton puas tanpa batas film-film berkualitas.
Paket berlangganan Netflix melalui IndiHome tersedia untuk pelanggan baru (bundling) dan pelanggan lama (Add-on) dengan cara aktivasi yang sangat mudah, yaitu mengklik link yang dikirimkan Netflix ke email yang terdaftar di aplikasi myIndiHome atau bisa juga melalui channel-channel IndiHome lainnya.
Telkomsel juga menyediakan paket bundling kuota dan berlangganan Netflix mulai dari Rp. 62.000 untuk 1 bulan (menggunakan pulsa). Harga tersebut termasuk tambahan kuota data MAXstream sebesar 6GB selama berlangganan dan kuota data MAXstream hingga 20GB untuk bulan pertama. Kualitas resolusi tayangan pun hingga Ultra High Definition (4K) dan dapat digunakan oleh empat perangkat berbeda secara bersamaan.
Berbagai kemudahan ini dengan akses nonton puas tanpa batas harusnya membuat kita turut serta memberantas bajakan sampai tuntas. Dukungan kita untuk menonton dengan cara legal akan memberikan sumbangsih pada bertambahnya sineas-sineas perempuan baru yang bersemangat menghasilkan karya-karya berkualitas.
Referensi:
Smith, Stacy L., et al. (2020). Inclusion in the Director’s Chair: Analysis of Director Gender & Race/Ethnicity Across 1,300 Top Films from 2007 to 2019. Annenberg Inclusion Initiative. Annenberg Foundation.

Tinggal di Planet Bekasi!






