PENYALIN CAHAYA (2021) – APIK, MERINDING DAN MENGHARUKAN

Setelah menjadi buah bibir di dunia maya menjadi perwakilan Busan International Film Festival tahun ini, Penyalin Cahaya atau Photocopier akhirnya bisa ditonton di JAFF ke-16. Ditambah lagi film Penyalin Cahaya berhasil meraih 12 Piala Citra di tahun ini. Sebuah keberuntungan bagi yang mendapatkan tiket Penyalin Cahaya dan merasakan pengalaman yang berbeda pastinya ketika menonton sebuah film di layar lebar. Berikut review singkat dari kami mengenai film Penyalin Cahaya.

Film Penyalin Cahaya bercerita tentang seorang mahasiwi jurusan IT angkatan pertama, Suri, yang masuk dalam sebuah organisasi teater di kampusnya, Mata Hari. Walaupun disibukkan dengan pekerjaan sebagai web designer event teater Mata Hari, Suri, dirinya tidak lupa juga untuk memperjuangkan beasiswa untuk pendidikannya di kampus. Suatu hari Teater Mata Hari, berhasil memenangkan sebuah kompetisi yang akhirnya mengirim mereka ke Tokyo untuk sebuah kompetisi Internasional. Kejadian malam perayaan kemenangan, membuat Suri khilaf hingga akhirnya mabuk dan viral di social media karena dirinya mempublikasikan selfie dirinya dengan kondisi mabuk. Beasiswa yang selama ini dia perjuangkan pun mau tidak mau berada di ujung tanduk karena tindakan Suri tersebut di mata dosen dan pendonor beasiswa tidak mencerminkan mahasiswa yang layak mendapatkan beasiswa penuh. Suri pun tidak tinggal diam saja. Dirinya mencari tahu dengan bantuan Amin, teman masa kecilnya, yang kebetulan juga ikut hadir dalam pesta perayaan itu.

Tidaklah mengherankan jika 12 Piala Citra berhasil diraih film Penyalin Cahaya tahun ini. Ya film ini memang layak untuk meraih itu semua. Dengan durasi 130 menit, Wregas Bhanuteja sang sutradara benar-benar terlihat ingin memadatkan durasi film dengan berbagai persoalan demi persoalan yang terjadi di sepanjang film. Penonton benar-benar dibuat penasaran dan akan tertarik untuk ikut menebak siapa sebenarnya dalang dari kejadian yang menimpa Suri di pesta tersebut. Dari awalnya iba kemudian kesal sendiri hingga iba kembali bahkan cenderung emosi, karena pergerakan konflik film ini tidak berhenti di satu titik saja. Problematika film Indonesia pada umumnya, terlihat dari third act yang begitu lemah. Namun Wregas sepertinya belajar dari kesalahan film-film Indonesia yang sudah tayang di bioskop selama ini. Third act dari film Penyalin Cahaya pun begitu apik dan makin mantap penampilannya hingga akhir film. Bagi yang lupa atau tidak tahu Wregas ini siapa, karya-karya film pendek beliau sebelumnya yang berjudul Prenjak dan Lemantun sempat menjadi buah bibir juga di kala waktu itu.

Shenina Syawalita Cinnamon sebenarnya juga bisa saja meraih sebagai pemeran utama wanita terbaik FFI tahun ini, namun performa Arawinda Kirana dalam film Yuni terlihat jauh lebih kuat dibandingkan Shenina yang terlihat kuat karena didukung pemeran pendukung. Awalnya terlihat pesimis apakah mungkin para pemain-pemain muda yang bermain di film Penyalin Cahaya bisa melakoni karakternya begitu baik. Eh ternyata malah berkat pemain pendukung justru harus diakui Penyalin Cahaya memiliki assemble pemain yang apik dan kece. Tontonlah Penyalin Cahaya atau Photocopier mulai 13 Januari 2022 di Netflix.

Share