INFINITE (2021) – PERSETERUAN BERABAD NIHILISTS DAN BELIEVERS

Dalam film “Infinite” yang disutradarai Antoine Fuqua (dengan naskah ditulis oleh Ian Shorr, diadaptasi dari novel The Reincarnationists Papers karya D.Eric Maikranz), orang-orang yang memiliki keistimewaan tersebut jumlahnya 500 orang. Mereka disebut Infinites yang terbagi ke dalam dua kubu: Believers dan Nihilists. Dua kelompok ini telah berseteru selama berabad-abad. Hingga para Nihilist menemukan semacam teknologi yang disebut “the Egg” yang dapat memusnahkan tujuh milyar manusia di bumi dengan seketika. Treadway, salah satu anggota Believer merebut the Egg dan tidak ada yang tahu dimana ia menyimpannya. Sampai ia bereinkarnasi menjadi Evan (Mark Wahlberg), Believer dan Nihilist musti berjibaku merebut ingatan Evan agar mereka tahu dimana keberadaan benda berbahaya tersebut. Satu ingin menyelamatkan, satu lagi ingin melenyapkan.

Nihilisme seringkali dihubungkan dengan pandangan yang dimiliki Nietzsche, dimana manusia di dunia tidak memiliki satu tujuan dan menggugat keberadaan Tuhan. Moral nihilists juga pernah disebutkan oleh Budha dalam Mahayana Tripitaka, dimana mereka punya beberapa prinsip, salah satunya: perbuatan baik dan buruk tidak membuahkan hasil. Dalam film “Infinite” yang dirilis langsung melalui platform Paramount+ (di Indonesia lewat Mola TV), Para Nihilist yang dipimpin oleh Bathurst (Chiwetel Ejiofor) berkali-kali menantang Tuhan. Seperti Para Believer, mereka mampu untuk bereinkarnasi dan mengingat dengan detail kehidupan mereka sebelumnya. Namun tidak seperti Believer yang menanggap itu sebagai anugerah, mereka justru menganggap itu kutukan dan harus dimusnahkan, beserta manusia keseluruhan. Dengan demikian mereka menganggap niat jahat tersebut tidak akan menghasilkan apapun bagi mereka dan menolak aspek-aspek eksistensi manusia.

Sedari awal film, aksi kebut-kebutan di jalan raya membuat film ini menjanjikan cerita laga-ilmiah yang seru dengan mengambil kepercayaan suatu agama. Tapi lambat laun, plot terasa berlompat-lompat yang mengakibatkan alur cerita tidak mulus. Para tokoh yang awalnya berada di suatu tempat, beralih ke tempat lainnya tanpa penjelasan yang cukup. Begitupun kehadiran berbagai teknologi yang tanpa perkenalan. Akting beberapa pemainnya pun makin membuat plot tersebut terasa janggal. Apalagi mendengar Mark Wahlberg mengatakan, “you need a ride?” dengan ekspresi datar membuat geleng-geleng kepala. Tapi secara keseluruhan film ini tetap menghadirkan hiburan yang layak, walaupun sangat disayangkan adanya kekurangan di banyak sisi

“Infinite” mengingatkan kita pada suatu pertanyaan: perlukah kita menggugat atas apa saja yang terjadi pada diri kita?

Share