Tahun 2013 lalu sinema Korsel menghasilkan sebuah drama komedi keluarga yang sukses dalam peredarannya di bioskop baik dalam maupun luar negara Korea Selatan. Indonesia adalah salah satu negara yang merasakan hype kesuksesan film Miracle in Cell No. 7 tersebut baik secara komersil yang meraih 80,3 juta dollar, maupun kegemilangan kualitasnya di mata para kritikus.
Kini, setelah diremake di 7 negara yang berbeda, di antaranya di Turki, Filipina dan India, Indonesia lewat rumah produksi Falcon Pictures turut serta memproduksi film versinya. Menggandeng sutradara kenamaan Hanung Bramantyo (Get Married, Tanda Tanya) dan didukung oleh talenta berbakat Vino G. Bastian, Indro Warkop, Tora Sudiro, Bryan Domani, Mawar Eva de Jongh, Indra Jegel, Rigen Rakelna dan aktor cilik Graciella Abigail.
SINOPSIS
Dodo Rozak (Vino G. Bastian) adalah seorang tukang balon penderita keterbelakangan mental dan autisme yang juga menjadi orang tua tunggal dan hidup bersama putrinya Kartika (Graciella Abigail). Keseharian mereka yang sederhana, bila tak mau disebut kekurangan dilalui penuh kebahagiaan. Namun suatu hari, sebuah tragedi menimpa Dodo saat ia dituduh membunuh seorang anak kecil bernama Melati.
Dodo pun dipenjara dan tidak dapat berkelit lagi dikarenakan bukti yang kuat dan ketidakmampuannya berkomunikasi dengan baik. Di dalam penjara selama menunggu vonis, Dodo menempati sel nomer 7 bersama para napi lain, di antaranya pemimpin preman Japra (Indro Warkop), si badan bongsor Zaki (Tora Sudiro), ahli retas Asrul (Bryan Domani) dan 2 penjahat kroco Atmo (Indra Jegel) dan Yunus (Rigen). Di dalam sel nomer 7 itu Dodo yang awalnya disiksa dan dijauhi bertemu dengan keluarga barunya. Sementara di luar penjara Kartika dewasa (Mawar Eva de Jongh) bekerja keras mencoba membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah.
REVIEW
Tugas berat yang diemban oleh Hanung Bramantyo dalam meremake film Miracle in Cell No. 7 ia akui adalah sebuah beban yang teramat berat dengan tekanan untuk minimal menyamai kualitas film aslinya, plus tekanan dari studio agar menghasilkan hasil box office yang menghasilkan profit, mengingat bujet besar yang dikeluarkan oleh pihak produser untuk mengadaptasi dan memproduksi film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia ini.
Naskah adaptasi yang digarap oleh penulis naskah kawakan, Alim Sudio (Twivortiare, 12 Cerita Glen Anggara) memang cenderung tidak jauh berbeda dari versi Korea, dengan penyesuaian sana-sini seperti contohnya iklim 2 musim dan penggunaan lagu islami di salah satu momen. Perbedaan yang signifikan juga dengan mengubah karakter antagonis yang disesuaikan sedemikian rupa jabatannya, dari polisi menjadi politisi. Perubahan-perubahan itu tidak mengubah banyak dan malah menambah relevansi dan sambung rasa dengan penonton lokal. Spirit kisah cinta ayah-anak dan perlawanan pada hukum yang tidak berkeadilan juga ditampilkan dengan baik di film berdurasi 145 menit ini.
Hanung Bramantyo yang karya-karya terakhirnya cukup banyak menimbulkan kritik secara kualitas, termasuk film Satria Dewa Gatotkaca, sepertinya kembali menemukan sentuhan emasnya dalam menggarap film yang disyuting di tengah masa pandemi ini. Rintangan-rintangan selama syuting seperti batalnya penggunaan sel penjara asli mampu dilewati dengan membangun set penjara yang terasa riil, demikian ruang persidangan. Dua set utama sel penjara dan ruang persidangan adalah yang memiliki durasi lama di sepanjang film.
Kerjasama Hanung dengan sinematografer Yunus Pasolang (Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Susi Susanti) dan art director Frans Paat (Perempuan Tanah Jahanam, 3 Nafas Likas) layak diacungi dua jempol dengan tampilan yang cantik dari film Miracle in Cell No. 7 ini. Belum lagi kombinasi apik editor dan penata musik yang kinerja menghasilkan adegan-adegan dramatis jadi mengalir lebih baik dengan alunan musik melodius yang membuat adegan demi adegan, terutama di adegan klimaks terasa dramatis. Lagu soundtrack Andaikan Kau Datang milik Koes Plus yang diaransemen khusus untuk film ini dan dinyanyikan oleh Andmesh makin menambah emosional adegan puncak film.
Dari sisi akting Vino G. Bastian (Toba Dream, Serigala Terakhir) menjadi yang paling menonjol dengan kualitas aktingnya sebagai Dodo, single parent dengan keterbelakangan mental dan autisme. Sebuah peran yang sulit dan menantang ditaklukkan oleh Vino dengan riset panjang dan konsultasi mendalam dengan psikolog lengkap dengan observasi Vino di sekolah anak-anak berbakat di sekolah anaknya. Sebuah etos kerja yang layak dicontoh dengan hasil yang sangat luar biasa.
Dua aktor pemeran Kartika di film ini juga layak diberikan kredit. Mawar Eva de Jongh (Bumi Manusia, Teman Tapi Menikah 2) sebagai Kartika dewasa mampu memberikan monolog panjang mengesankan dalam sebuah adegan yang sulit bersama Vino di ruang sidang. Sementara Graciella Abigail (Asih 2, Hari Yang Dijanjikan) di usia mudanya menampilkan akting prima, terutama di klimaks film yang menjadi signature film Miracle in Cell No. 7 versi aslinya. Chemistry Vino dan Graciella adalah salah satu poin yang terbaik di dalam film ini.
Satu yang tidak boleh dilewatkan adalah lima karakter sahabat Dodo di penjara. Indro Warkop (Pintu Surga Terakhir, Dongkrak Antik) tak canggung untuk tampil sok berwibawa padahal konyol, Tora Sudiro (Arisan, Banyu Biru) tampil total dan rela melakukan hal-hal gila dan Bryan Domani (SIN, Merindu Cahaya de Amstel) berakting cool dan keren di samping Indra Jegel (Ngeri-Ngeri Sedap) dan Rigen Rakelna (Sabar Ini Ujian) yang menjadi duet pemantik tawa dengan celetukan konyol dan lawakan fisik yang benar-benar lucu natural. Kelimanya tampil kompak dan menjadi ansambel yang mengesankan.
SUMMARY
Miracle in Cell No. 7 adalah salah satu remake dari film asing terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Berkat pengarahan cemerlang dari Hanung Bramantyo, naskah yang mampu menangkap spirit filmnya dengan baik, kualitas akting kelas satu para aktornya serta dukungan teknis ciamik, membuat film drama komedi dengan sentuhan tragedi ini menjadi tontonan yang wajib untuk disaksikan di bioskop. Siapkan tisu atau sapu tangan untuk menyeka air mata di film tentang ayah-anak yang akan membuatmu tertawa di awal dan menangis haru di akhir film.
Miracle in Cell No. 7 tayang serentak di bioskop mulai 8 September 2022.

