DEAR YOU (2026) – KISAH EPIK CINTA, KEGIGIHAN & KETULUSAN YANG MENGHANGATKAN JIWA

Kisah cinta kerap divisualisasikan dalam film dalam bentuk romansa dua insan yang yang mencinta dengan formula pertemuan, kedekatan dan perjuangan menggapai cinta. Ada sebuah sub genre dalam drama roman yang jarang diproduksi dengan pertimbangan budget pada tata produksinya adalah period drama, dan kali ini film Dear You dari Tiongkok siap hadir dengan drama roman periodik yang akan mengharubirukan penonton bioskop Indonesia.

Disutradarai oleh Lan Hongchun dan dibintangi Li Sitong, Wang Yantong, Wang Xiaohui dan Wu ShaoqingDear You membagikan kisah epik cinta sepanjang zaman yang epik, emosional dan memberikan gambaran kegigihan pemuda Teochew dari negara bagian Chaosan di masa ketidakpastian politik dan ekonomi yang terpaksa bermigrasai dan berjuang dengan tulus dan setia untuk mencari nafkah buat keluarga.

SINOPSIS

Kemerdekaan Cina dari penjajahan Jepang pasca Perang Dunia II ternyata memicu perebutan kekuasaan dan ketegangan politik di daratan Cina, salah satunya adalah Chaosan. Akibatnya banyak pria muda Chaosan yang memilih untuk bermigrasi ke Asia Tenggara daripada hidup tanpa ketidakpastian politik dan ekonomi. Salah satunya adalah Zheng Museng (Wang Yantong) yang terpaksa meninggalkan istrinya Shurou (Wang Xiaohui) dan ketiga anaknya.

Sebuah berita terbaru muncul saat nama Zheng Museng diabadikan di beberapa sekolah di Thailand. Merasa sang kakek jadi orang kaya, salah satu cucu Museng pun datang ke Thailand mencoba merebut warisan meskipun Shurou sudah lebih 40 tahun kecewa mendengar Museng menikah lagi di Thailand dan tak pernah kembali. Namun, kedatangan sang cucu ke Bangkok membuka rahasia yang tersimpan selama lebih dari empat dekade tersebut. Sebuah rahasia tentang cinta, kesetiaan, persahabatan dan kegigihan seorang Zheng Museng dan seorang wanita bernama Xie Nanzhi (Li Sitong)

REVIEW

Berhentilah sejenak membaca ulasan ini dan segera membeli tiket online untuk film Dear You ini. Bagi kami Dear You adalah sebuah pencapaian sinema yang layak disaksikan di layar besar bioskop dengan kisahnya yang hangat, mengharukan dan emosional. Sebuah perjalanan emosi layaknya roller coaster selama 118 menit durasi filmnya.

Sutradara Lan Hongchun (Proud of Me, Back To Love) membuat film ini dengan sensitivitas tinggi dan pemahaman lebih pada karakter masyarakat di masa sulit akhir tahun ‘40-an dengan menggambarkan mereka bukan sebagai sosok yang mudah menyerah, tetapi pejuang gigih penuh rasa solidaritas. Bukan hanya karakter Zheng Museng yang digambarkan sebagai pria yang tangguh, tetapi para pemuda Teochew di pecinan Bangkok bergabung dalam komunitas yang solid saling mendukung satu sama lain di perantauan.

Saling membantu dalam tempat tinggal, pendidikan dan pekerjaan, komunitas Teochew di film ini mengambil hati seorang pemilik kontrakan Xie Nanzhi yang lambat laun akan terlibat dalam kehidupan Museng. Bagaimana para penulis naskah membangun kisah Museng dan Nanzhi serta keterlibatan Shurou di tengah kisah mereka jadi bagian yang mengejutkan dalam film yang menampilkan dua periode waktu dan dua negara ini.

Mengangkat kisah dari latar tulisan-tulisan surat para pria perantau kepada istri dan keluarga mereka di Chaosan yang disertai kiriman uang ini menurut kami jadi bagian yang sangat emosional dan historis. Siapa sangka, mereka yang merasa ‘tersisih’ berjuang di negara lain justru menjadi bagian dari sejarah yang membangkitkan ekonomi Cina di masa sulit tersebut. Di akhir film, kita diberikan dokumentasi berbagai surat yang masih utuh dan disimpan sebagai koleksi yang dikumpulkan dalam museum.

Dari sisi akting film memang berpusat pada sosok Zheng Museng yang dimainkan penuh optimisme oleh Wang Yantong. Namun, durasi tampil panjang banyak diambil oleh Li Sitong yang memainkan sosok Xie Nanzhi dengan apik. Sosok perempuan mandiri, tahu apa yang ia mau, tegas serta tangguh tapi penuh belas kasihan dalam sosok Nanzhi menjadi kunci dalam film ini.

Sementara Shurou yang dimainkan Wang Xiaohui kebagian peran yang menderita sebagai single parent yang terpaksa mengurus 3 anaknya sendiri selama empat dekade. Sosok Shurou tua justru mendapat porsi penggalian emosi yang lebih dalam. Dimainkan oleh Wu Shiaoqing, nenek Shurou harus memainkan dinamika emosi yang tak mudah hingga akhir film yang hangat, dramatis dan manis. Kemunculan aktris senior Thailand, Usha Seamkum yang dikenal sebagai Amah dari film How To Make Millions Before Grandma Dies juga memberi kejutan manis di film ini.

Dari sisi teknis produksi, kemampuan tim production designer Dear You dalam menciptakan suasana pecinan Bangkok tahun 1950-an hingga 1970-an layak diacungi jempol. Lau Hongchun dan timnya mampu membawa penonton hanyut ke dalam kisah dua periode dengan mulus. Penggunaan tone warna untuk membedakan zaman pun sangat baik tanpa berubah terlalu drastis. Pujian yang sama juga berlaku untuk tim wardrobe dan penata suara serta musik.

Sekadar informasi dalam film ini ada sebuah lagu berbahasa Indonesia yang mengalun di tengah adegan, yakni sebuah lagu berjudul Harapanku yang dinyanyikan oleh Chen Jia. Lagu ini merupakan versi Indonesia dari lagu klasik Nan Hai Niang Niang atau Gadis Laut Selatan.

Film Dear You adalah tipe film klasik dan epik bergenre drama periodik yang pantang dilewatkan. Hangat, mengharukan serta penuh kejutan, film ini sukses memberikan gambaran tentang para pemuda Teochew yang gigih, setia dan tulus dalam memperjuangkan keluarga mereka di kampung halaman. Dear You sukses menjadi etalase karakter warga negara serta budaya Tiongkok yang kaya.

Dear You tayang di bioskop mulai hari ini, Jumat 7 Agustus 2026.

Share