Aktris berbakat Maggie Gyllenhaal makin serius menapaki jalur sutradara dan penulisan naskah dalam film terbarunya, The Bride. Mengambil kisah lanjutan dari adaptasi cerita legendaris milik Mary Shelley, Frankenstein dan film terdahulunya, Bride of Frankenstein, Maggie mencoba menginjeksikan pemikiran kontemporer dari sosok wanita secara umum untuk membedakannya dari film yang terdahulu.
Dibintangi Jessie Buckley, The Bride versi baru ini tak lagi bisu, melainkan lantang menyuarakan kehidupan dan perspektif perempuan di masa kini. Duet Buckley dan Christian Bale memesona didukung Annette Bening, Peter Sarsgaard, Penelope Cruz dan Jake Gyllenhaal
The Bride tayang mulai hari ini di bioskop Indonesia.
THE RE-BIRTH OF THE BRIDE
Kedatangan sang monster buatan Frankenstein (Christian Bale) ke Dr. Euphronius (Annette Bening) untuk membantunya menciptakan wanita pendamping menjadi permulaan kisah lahirnya sosok The Bride (Jessie Buckley). Ia bukan hanya pendamping sempurna untuk Sang Monster, ia adalah The Bride sang penggagas! Penggerak perempuan untuk memperjuangkan otoritasnya.
Sang Monster jatuh cinta, keduanya berkelana bak Bonnie and Clyde, memadu cinta mereka melewati segala batas dan norma. Penguasa tak suka, mafia, polisi, politikus memburu secara simultan. Akankah Sang Monster bersatu dengan Sang Mempelai? Tentu saja, karena kematian tak lagi bisa memisahkan.
HOW TO PUT CHAOTIC AND POETIC IN ONE SENTENCE
The Bride adalah perwujudan dari ambisi! Maggie Gyllenhaal dengan karya keduanya seakan bereksperimen mencampuradukkan berbagai gaya penceritaan dengan treatment visual yang tak lazim, seakan melawan berbagai kaidah runutan penceritaan. Memanfaatkan tembok keempat untuk karakter Mary Shelley, sang pembisik di pikiran The Bride.
The Bride sendiri dulu bernama Ida yang digunakan tubuh dan pikirannya oleh Mary Shelley yang mengaku menulis Frankenstein dalam tekanan dunia yang maskulin. Tapi kini dalam The Bride semua berbeda. Naskah yang Gyllenhaal tulis sendiri seakan condong pada kemarahan sosok Mary Shelley yang tidak puas dengan buku Frankenstein karyanya sendiri.
Semua pakem akan sosok The Bride dan The Monster diobrak-abrik oleh Gyllenhaal agar tidak lagi menjadi sebuah film horor dengan sentuhan romance, menjadi sebuah film romance yang bermuara pada kisah horor tentang sepasang kekasih melawan batasan, norma dan nilai hidup yang tak sesuai zamannya lagi.
Chicago dan New York di tahun 1930-an adalah masa dimana wanita adalah properti, rawan dieksploitasi. Tidak bagi The Bride. Ia menggagas pergerakan Brain Attack! Wanita memiliki pemikirannya sendiri, berotonomi pada tubuhnya dan tentu saja bebas mencintai secara konsensual. Berani dan berisik, Gyllenhaal memastikan dua hal tersebut ada dalam The Bride.
Sinematografi tak biasa dengan gaya pencahayaan noir tapi penuh warna, apa yang ditawarkan The Bride bukan visual indah penuh lanskap cantik. Melainkan kekusaman, kekotoran, ketimpangan sosial dan secuil keindahan cinta yang ada di dalamnya. Cinta yang merusak? Tergantung dari perspektif mana.
Dipenuhi karakter-karakter abu-abu dalam sosok agen yang memburu The Bride. Sosok Peter Sarsgaard (Green Lantern) dan Penelope Cruz (Volver, Vanilla Sky) hadir sebagai pemburu yang dipenuhi agenda dalam pikiran masing-masing. Keduanya tampil gemilang dengan dialog timbal balik yang informatif.
Tapi tak ada yang segila duet Jessie Buckley (Hamnet, Wild Rose) dan Christian Bale (American Psycho, The Fighter). Saat saling merayu tampak seperti bertengkar, saat bertengkar malah lebih romantis. Buckley dominatrix yang sesungguhnya, Bale sebagai seorang monster jatuh terpuruk di hadapan Buckley. Sebuah simbol wanita yang mengendalikan pria di balik karier suksesnya.
YAY OR NAY?
Tenty saja YAY! Meski garapannya terasa eksperimental, namun pengkarakteran dan journey The Bride jadi sebuah tontonan segar yang unik, menarik dan nyentrik. The Bride adalah sebuah tontonan yang bisa jadi menasbihkan karier Jessie Buckley untuk meraih nominasi aktris terbaik untuk sekian kalinya di tahun depan.
The Bride tayang mulai hari ini 4 Maret 2026 di bioskop Indonesia.





