BRIDGET JONES: MAD ABOUT A BOY (2025) – BRIDGET JONES DALAM EPISODE MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DAN HIDUP BARU DI USIA PARUH BAYA

Bridget Jones: Mad About the Boy dirilis di bioskop internasional oleh Universal Pictures. Film ini melengkapi tiga film Bridget Jones sebelumnya—Bridget Jones’s Diary (2001), Bridget Jones: The Edge of Reason (2004), dan Bridget Jones’s Baby (2016). Ketiganya telah meraih lebih dari 800 juta dolar AS di seluruh dunia.
Genre rom-com ini dimulai sejak film Bridget Jones Diary yang rilis di tahun 2001 yang merupakan adaptasi novel rilisan 1996 karangan Helen Fielfing ini cukup membekas bagi para penggemar genre tersebut.
Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, itu menjadi bab baru romansa Bridget Jones dengan gaya pendekatan yang sama dengan film-film sebelumnya.
Sembilan tahun berlalu sejak film Bridget Jones’s Baby dan, setelah melihat kehidupan Bridget dari seorang wanita karier menjadi ibu, di film keempat yang disebut jadi kisah akhir ini, Bridget kembali menjalani fase baru.
Meski sudah menjadi Mrs. Darcy, Bridget harus menerima takdir hidup, dan menjadi orang tua tunggal. Tak hanya itu, ia pun memutuskan untuk kembali berkarier, serta menemukan cinta baru. Hingga suatu saat, ia bertemu dengan lelaki yang usianya jauh lebih muda yaitu Roxster (Leo Woodall) disitulah ia menemukan kembali cinta dan rasanya seperti hidup kembali.

Seperti seri-seri terdahulu, Bridget Jones: Mad About the Boy masih sanggup menjadi pilihan nonton karena jarangnya genre komedi romantis yang dirilis belakangan ini. Lelucon yang diusung patut diacungi jempol dan akan sukses membuat satu studio bioskop tertawa. Walau Renée Zellweger sekarang terlihat lebih ramping dan melakukan operasi wajah, ia masih mantap memerankan karakter Bridget Jones.

Michael Morris selaku sutradara coba “membumikan” penyajian cerita film ini dengan cara memberi kesempatan mengolah keintiman kisah yang otomatis menjadi kekuatan film ini. Walau sayangnya, alur film ini masih tampil formulaik, baik dari segi bentuk maupun timing penempatan konflik dan resolusi. Ditambah lagi Michael Morris masih seringkali terlalu lama berputar di satu titik penceritaan.

Setengah durasi film kita dibuat merasakan betapa lelah dan susahnya Bridget menjalani hidup sendirian tanpa pasangan. Begitu muncul Roxter (Leo Woodall) yang secara visual tampak muda, bertenaga, dan tegap, unsur romance khas Bridget Jones akhirnya muncul kembali. Sosok Mr. Walliker (Chiwetel Ejiofor) yang juga sebagai love interest, namun selalu berjarak setiap bertemu dengan Bridget, cukup mencuri perhatian. Membuat penasaran hal apa yang kiranya membuat keduanya saling suka sehingga saat gong-nya mereka berdua merasakan benih cinta, penonton bisa bertepuk tangan.

Jika disesuaikan dengan judul, kisah Bridget Jones di Mad About the Boy bukanlah Bridget Jones yang tergila-gila (atau dibikin gila) oleh laki-laki. Justru hadirnya para lelaki ini membuat ibu ini lebih bisa menemukan diri dan passion-nya yang hilang. Ditambah lagi lewat terbukanya obrolan soal kehilangan, kematian, dan bagaimana kita yang hidup harus tetap bergerak meski dunia terasa berhenti. Bukan obrolan penuh teori, namun yang bisa langsung terasa masuk ke hati.

Komedi romantis Bridget Jones: Mad About the Boy adalah tontonan yang menghibur sekaligus menyentuh. Film ini memberi pesan pada usia paruh baya sekalipun, perempuan tetap harus mengupayakan kebahagiaan dan kemandiriannya.

Bridget Jones: Mad About the Boy tayang di bioskop Indonesia mulai Jumat, 14 Februari 2025.

Share