Sosok Emerald Fennell adalah nama yang terhitung baru saat muncul dengan film feminis provokatifnya di era woke Hollywood, Promising Young Woman, dengan sosok karakter perempuan penuh gejolak. Kini menggali karakter yang senada dari adaptasi bebas novel sastra klasik, Fennell mencoba membelokkan genre romance ke arah dark dan gothic lewat versi mutakhir dari Wuthering Heights karya Emily Bronte.
Dibintangi oleh Margot Robbie, Jacob Elordi, Hong Chau dan Alison Oliver, serta original soundtrack dari penyanyi kontemporer Charli XCX, Wuthering Heights rasa berbeda ini akan tayang mulai hari ini, Rabu 11 Februari 2026.
SINOPSIS
Kehidupan Cathy Earnshaw muda (Charlotte Mellington) di Wuthering Heights semakin berwarna setelah ayahnya menampung seorang anak kecil yang Cathy beri nama Heathcliff (Owen Cooper). Masa kecil dan remaja mereka lalui bersama hingga cinta pun bersemi di antara keduanya.
Masa sulit dihadapi Mr Earnshaw (Martin Clunes) hingga membuat Cathy khawatir keluarganya akan jatuh miskin. Hal ini membuat Cathy dewasa (Margot Robbie) terpaksa mengabaikan perasaan cinta Heathcliff (Jacob Elordi) dan menikah dengan tetangga kaya, Edgar Linton (Shazad Latif). Sakit hati, Heathcliff pun pergi meninggalkan Cathy.
Lima tahun berselang, Cathy sudah terbiasa dengan kekayaan tanpa cinta di hatinya untuk Linton. Namun, perasaan haus akan cinta itu terobati dengan kehadiran kembali Heathcliff yang kini kaya raya. Mengapa Heathcliff kembali? Mengejar cinta Cathy atau justru membalas dendam karena diremehkan?
REVIEW
MENGGAIRAHKAN adalah satu kata yang paling tepat menggambarkan film Wuthering Heights. Emerald Fennell sang sutradara seakan paham apa yang diinginkan oleh penonton wanita, karena sepanjang durasi special screening, setiap ada adegan yang melibatkan keintiman Cathy dan Heathcliff, penonton wanita banyak yang terkesiap antara terkejut atau gemas dengan chemistry mereka.
Ya, chemistry Margot Robbie (Barbie, Wolf Of Wall Street) dan Jacob Elordi (Frankenstein) sangatlah kuat dalam film ini. Entah untuk adegan dialog maupun bermesraan, intensitas keduanya sangat tinggi sepertii dua binatang yang menebarkan feromon untuk saling menarik perhatian lawan jenis. Nyaris tak ada celah keraguan bahwa keduanya sungguh-sungguh tenggelam dalam karakternya.
Wuthering Heights dalam interpretasi Fennell ini bukanlah melodrama periodik penuh warna, melainkan kisah kelam cinta terlarang dan balas dendam yang digarap dengan tone gelap agak gothic lengkap dengan musik kontemporer didominasi gesekan biola mengerutkan hati. Sosok ceria Cathy berubah jadi melankolis dan klimaksnya makin tenggelam dengan penyesalan, manakala dendam menguasai hati Heathcliff melebihi cintanya pada Cathy.
Sosok Heathcliff di tangan Elordi sendiri tak terlalu berubah banyak, tetap menjaga kemisteriusannya untuk menutupi kebodohan dan ketidakmampuannya membaca. Ia hanya tahu untuk mendapatkan Cathy, ia harus jadi orang kaya.
Hong Chau (Kinds of Kindness, Asteroid City) sebagai Nelly, pelayan setia Cathy justru jadi sosok yang paling menarik. Berperan sebagai narator film, sosok Nelly adalah pemegang kunci cerita, penyimpan rahasia dan penggerak plot yang bisa dengan mudahnya ia manipulasi.
Sementara scene stealer dalam Wuthering Heights kali ini adalah karakter Isabella, adik Edgar Linton yang diperankan Alison Oliver (Saltburn, The Order) dengan fenomenal. Isabella jadi sosok obsesif, psikotik dan berkarakter unik yang keluguannya dimanfaatkan Heathcliff untuk membalas dendam pada Cathy.
Secara teknis, tone kelam yang menjadi keunikan film ini terasa megah tapi juga tidak tak terjamah. Dengan sinematografi Linus Sandgren (La La Land, No Time To Die) yang vibrant dan bernuansa kolosal, film ini sukses mengajak penonton seakan berada dekat dengan Wuthering Heights tempat Cathy dan Heathcliff tinggal.
Suasana perbukitan batu penuh angin, hujan angin yang dinginnya seakan menusuk tulang serta visual sunset oranye di tengah dominasi kelam dan gelap film menjadi gambaran betapa elemen warna vibrant menjadi penegas film yang berusaha menghadirkan warna dan cinta pada sebuah roman tragedi cinta terlarang.
YAY or NAY?
YAY! DEFINITELY YAY! Wuthering Heights adalah tontonan tepat menyambut valentine. Meskipun filmnya dark secara tone, tapi kisah asmara dan adegan-adegan romantis dalam film ini sungguh sangat menggairahkan. Gelora cinta yang ditebar oleh karakter Cathy dan Heathcliff sangat intens, memabukkan, bahkan di beberapa momen, mematikan. Kedua insan dimabuk asmara ini adalah definisi tepat dari kata bucin alias budak cinta.
Wuthering Heights tayang di bioskop mulai 11 Februari 2026.





