Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) kembali hadir di tahun 2025 dengan semangat baru dan sejumlah penyegaran. Tahun ini, festival yang telah menjadi tonggak apresiasi karya film Indonesia melalui sudut pandang jurnalis ini akan berpuncak pada bulan November. Tidak hanya itu, FFWI juga mengumumkan perubahan resmi namanya menjadi Festival Film Wartawan (FFW), sebuah pilihan sadar yang mengandung makna filosofis mendalam tentang peran wartawan sebagai penghubung antara dunia perfilman dan publik.
Dalam suasana duka sekaligus semangat yang membara, Panitia Festival Film Wartawan (FFW) 2025 secara resmi mengumumkan peluncuran penyelenggaraan FFW edisi ke-15, yang tahun ini menjadi tribut mendalam bagi almarhum Wina Armada Sukardi, Presiden FFW yang baru saja berpulang. Wina bukan hanya sosok penggerak, tetapi juga jiwa yang tak tergantikan dalam menjaga ruh FFW sebagai wadah kritis bagi wartawan film untuk mengawal elan vital perfilman Indonesia.
Seleksi Ketat oleh Juri Jurnalis Film dari Seluruh Indonesia
FFW 2025 akan memulai proses seleksi dengan memilih 21 juri awal yang terdiri dari jurnalis film terpercaya dari berbagai kota, termasuk Yogyakarta, Bandung, Medan, Makassar, dan Jabodetabek. Mereka bertugas menyeleksi sejumlah film yang kemudian akan dinilai lebih lanjut oleh lima juri akhir—para pelaku film terkemuka Indonesia—yang akan menentukan pemenang terbaik. Karya- karya terpilih akan memperoleh Piala Gunungan, simbol pencapaian tertinggi yang merepresentasikan dinamika, keseimbangan, dan keagungan dalam dunia sinema.
Perubahan Nama Menjadi FFW: Filosofi di Balik Pembaruan
Penyesuaian nama dari FFWI menjadi Festival Film Wartawan (FFW) bukan sekadar perubahan identitas, melainkan penegasan visi. “Wartawan” dipilih sebagai representasi dari independensi, keadilan, dan kedekatan dengan publik. Sejak awal kemerdekaan Indonesia, wartawan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan perfilman tanah air, baik sebagai pengkritik, pencatat sejarah, maupun pendorong kemajuan industri. Dengan nama baru ini, FFW ingin menegaskan komitmennya sebagai festival yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada kualitas karya.
Lomba Desain Logo FFW: Mencerminkan Keterikatan dengan Publik
Sebagai bagian dari pembaruan, FFW 2025 juga menggelar lomba desain logo yang terbuka untuk umum. Logo baru ini diharapkan dapat mencerminkan visi FFW sebagai festival yang tanpa jarak dengan publik, mengutamakan fairness, dan menjadi representasi suara penonton yang paling jujur. Berbeda dengan banyak festival film lain di Indonesia yang kerap diwarnai benturan kepentingan, FFW hadir dengan prinsip “oleh wartawan, untuk film Indonesia”.
Dukungan Penuh Pemerintah dalam Pengembangan Ekosistem Perfilman
FFW 2025 kembali mendapatkan dukungan penuh dari *Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kementerian Kebudayaan RI. Dukungan ini menegaskan peran negara dalam membangun ekosistem perfilman yang sehat, di mana wartawan sebagai bagian aktif turut berkontribusi.
“Keberadaan FFW adalah bukti bahwa kolaborasi antara insan pers, sineas, dan pemerintah dapat menciptakan ruang apresiasi yang lebih objektif dan membangun,” pungkas Benny Benke, Ketua Panitia FFW 2025.
Rangkaian FFW 2025 akan bergulir hingga puncak acara pada November mendatang, dengan serangkaian program baru yang dirancang untuk memperluas dampaknya. Diantaranya:
- Forum Kritik Film & Literasi Media, untuk menggali peran wartawan dalam membangun apresiasi publik.
- Pemutaran Khusus Karya Legendaris, sebagai penghormatan pada film-film yang pernah dibela Wina. Anugerah Khusus Wina Armada Sukardi, diberikan kepada insan film yang konsisten berkontribusi pada kemajuan industri.
“Manusia datang dan pergi, tapi nilai-nilai yang mereka tinggalkan abadi. FFW akan terus menjadi bagian dari napas panjang perfilman Indonesia,” tambah Benny.
Di tengah duka, FFW 2025 memilih untuk bangkit, mengubah kepedihan menjadi energi, mengubah kenangan menjadi karya. Seperti api yang justru semakin berkobar ditiup angin, FFW akan tetap menyala: mengawal, mengkritik, dan merayakan film Indonesia dengan keberanian dan cinta.




