KITAB SIJJIN & ILLIYYIN – LEBIH DRAMATIS, LEBIH TRAGIS DAN LEBIH SADIS

Film horor Sijjin yang rilis di tahun 2023 merupakan adaptasi sukses dari film horor Turki dengan raihan mencapai 1,7 Juta penonton. Menggaet tim produksi yang sama, termasuk sutradara Hadrah Daeng Ratu dan penulis Lele Laila, rumah produksi Rapi Films membuat kisah spin off-nya yang tidak terkait sama sekali dengan film pertamanya dan tidak lagi berasal dari hasil adaptasi dengan judul Kitab Sijjin & Illiyyin.

Membuat kisah yang sama sekali baru dengan elemen santet yang jadi penghubung dengan film sebelumnya, Kitab Sijjin & Illiyyin memiliki barisan cast hebat dalam sosok Yunita Siregar, Dinda Kanya Dewi, Kawai Labiba, Tarra Budiman, Septian Dwicahyo dan Djenar Maesa Ayu sebagai para pemerannya.

SINOPSIS

Kehidupan Yuli (Yunita Siregar) selalu dipenuhi penderitaan selama tinggal bersama ibu tirinya Ambar (Djenar Maesa Ayu) dan saudari tiriya, Laras (Dina Kanya Dewi), di rumah milik ayah Yuli yang meninggal bersama ibu Yuli, sang istri muda. Diperlakukan layaknya pembantu dengan hinaan sebagai anak pelakor membuat Yuli menyimpan dendam.

Kondisi Ambar yang lumpuh lama tidak juga melembutkan hatinya dalam memperlakukan Yuli. Hingga Ambar meninggal pun, Laras selalu menghina Yuli di depan suaminya Rudi (Tarra Budiman) dan kedua anak mereka Tika (Kawai Labiba) dan Dean (Sultan Hamonangan). Dendam Yuli berkembang menjadi kebencian. Ia merencanakan rangkaian rencana balas dendam yang akan berujung kematian pada Laras dan keluarganya.

REVIEW

Setelah melihat duet maut Anggika Bolsterli dan Niken Anjani di film Sijjin, kini Kitab Sijjin & Illiyyin tak mau kalah dengan hadirnya Yunita Siregar (Home Sweet Loan, Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti), sang gadis manis dan si spesialis antagonis, Dinda Kanya Dewi (Cinta Fitri, Tuyul part 1). Terselip di antara keduanya adalah sosok Kawai Labiba (1 Kakak 7 Ponakan), pendatang baru yang sangat mencuri perhatian dalam film ini.

Kekuatan casting dalam film ini memang jadi salah satu andalan utama selain naskah yang ditulis penulis naskah spesialis film horor, Lele Laila (KKN Di Desa Penari, Pemandi Jenazah). Drama keluarga jadi penyulut konflik di dalam film yang berdurasi 99 menit ini. Kendati persoalan perselingkuhan dan poligami ini jadi formula perseteruan internal keluarga yang banyak dipakai di berbagai film horor, namun kehebatan para pemainnya mampu menghidupkan naskah sehingga emosi penonton dipermainkan sedemikian rupa.

Kebingungan juga kami rasakan untuk mendukung siapa dalam film ini, karena nyaris semua karakternya memiliki dosa, kecuali Tika yang menjadi katalisator film, menghubungkan elemen horor dan reliji dengan karakternya yang solehah, anak santri yang dekat dengan guru agamanya.

Di film Kitab Sijjin & Illiyyin ini, sutradara Hadrah Daeng Ratu memperlakukan film ini sebagai layaknya sebuah sekuel yang harus memiliki kualitas horor yang lebih seram, lebih mengerikan dan lebih grande skalanya daripada film sebelumnya. Salah satu yang menonjol adalah penggunaan mayat prostetik yang menjadi bagian penting dalam proses santet di film ini. Tim art dan departemen make-up diuji kehandalannya dalam membuat pocong yang tubuhnya benar-benar terlihat seperti mayat asli dan digunakan dalam banyak adegan santet.

Tidak hanya jasad prostetik, di beberapa bagian horornya film ini juga sangat memanfaatkan efek praktis dalam beberapa adegan brutal nan sadis. Bola mata dan kulit di tusuk-tusuk, kepala hancur kejepit, teror manusia kesurupan layaknya zombie, sampai berbagai teror santet yang believable membuat tim visual efek dalam film ini layak diacungi jempol.

Hadrah dengan pengalamannya juga mampu mengalirkan cerita dengan baik kendati sekuens santet dalam naskah terasa terlalu lancar tanpa halangan berarti, serta minimnya kecurigaan karakter pada banyaknya kasus kematian aneh. Hanya karakter Tika yang benar-benar curiga pada kematian-kematian tersebut sampai-sampai ia diteror sedemikian rupa.

Karakter Rudi dan Yono yang dimainkan Tarra Budiman (Modal Nekad, Berangkat!) dan Banon Gautama (The Shadow Strays, Wage) juga tidak membantu, dan menjadi dua karakter dengan motivasi yang kurang dieksplorasi, keduanya bak ditenggelamkan para karakter perempuan dalam film ini. Padahal porsinya terbilang cukup penting berinteraksi dengan karakter utama. Rules dari santet juga layak diberikan catatan soal bagaimana para karakternya bisa mati terkena santet, sementara ada yang hanya kerasukan dan menjadi zombie.

Di luar beberapa kekurangan minor tersebut, pesan utama Kitab Sijjin & Illiyyin yang merupakan kitab pencatat amalan perbuatan orang-orang jahat dan orang-orang baik tersampaikan dengan baik, terutama lewat akhir film yang menunjukkan sosok manusia yang selamat dari ancaman santet.

Yay or Nay?

Yay, recommended. Kitab Sijjin & Illiyin membuktikan peningkatan dari film sebelumnya dengan treatment horor lebih kompleks dan sadis, lebih menyeramkan dan dengan skala yang lebih besar. Yunita Siregar tampil di luar zona nyaman, Dinda Kanya Dewi tak ada matinya dan di tengah-tengah mereka ada Kawai Labiba yang ketakutannya sangat ekspresif.

Kitab Sijjin & Illiyyin tayang mulai Kamis, 17 Juli di bioskop Indonesia dan menurut kabar juga akan tayang di berbagai bioskop negara-negara lain di seluruh dunia.

Share