Awal tahun 2026 para pecinta sinema Indonesia sudah diberikan dua film zombie baru, satu dari sebuah franchise lama dan besar, satu lagi dari daratan Australia dengan latar Pulau Tasmania berjudul We Bury The Dead.
Dibintangi Daisy Ridley (Star Wars VII: The Force Awakens, Chaos Walking) dan Brenton Thwaites (Oculus, Pirates of The Carribean: Dead Men Tell No Tales) dengan gaya indie dan make up zombie yang mengerikan We Bury The Dead tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, 9 Januari 2026.
THE DEAD AND THE LIVING DEAD
Sebuah percobaan senjata Amerika Serikat yang gagal membunuh sebagian besar penduduk di Pulau Tasmania. Demi menemukan suaminya yang tengah bekerja di bagian selatan Pulau Tasmania, Ava (Daisy Ridley) mendaftar menjadi sukarelawan pengidentifikasi jenazah. Sebuah anomali muncul karena beberapa korban meninggal ternyata bangkit kembali menjadi mayat hidup yang mengerikan.
Dengan tekadnya yang kuat, dibantu rekan sukarelawan lain, Clay (Brenton Thwaites), Ava mencoba menembus bagian selatan pulau menghadapi berbagai rintangan, mayat hidup, udara yang penuh asap, serta jalanan yang dijaga ketat militer. Sebuah bantuan tak terduga dari seorang tentara bernama Riley (Mark Coles Smith) membuat perjalanan Ava jadi lebih dramatis.
MAN VS THE LIVING DEAD
We Bury The Dead memberi pengalaman unik menonton film zombie dengan pendekatan drama rumah tangga dan elemen road trip yang berbeda dengan film zombie komersil. Gaya independen dalam film ini membuat tone depresif di film ini bukan hanya terfokus pada distopia pasca kiamat di dalam skala sebuah pulau, tapi juga pada hubungan pernikahan Ava yang pelan-pelan terkuak di sepanjang durasi film.
Sutradara sekaligus penulis naskah Zak Hilditch (1922, Transmission) tampaknya tidak ingin membuat film zombie dengan pakem standar dan memilih jalur konflik internal karakter utama yang ingin menuntaskan perjalanannya seiring dengan bangkitnya beberapa mayat yang kemudian merintangi tujuannya. Lebih dari itu Hilditch juga sepertinya ingin memberi sentuhan mental issue yang membuat manusia bisa lebih mengerikan daripada zombie.
Dari sisi akting Daisy Ridley membuktikan kualitas aktingnya dengan menunjukkan range luas sebagai istri yang berduka, menginginkan closure, menyimpan rahasia dan juga sosok wanita tangguh dengan tekad kuat. Range akting Brenton Thwaites juga makin luas dengan tampil tidak dikenali lewat aura macho yang mengingatkan pada sosok Jason Momoa. Penampilan mengejutkan datang dari Mark Coles Smith (Last Cab To Darwin, Pawno) dengan karakter tentara bermotif misterius yang ia mainkan.
Secara teknis, film We Bury The Dead tidak terasa seperti film independen berbujet minim di bawah 10 juta dollar dengan berbagai bentuk zombie yang make up effects yang meyakinkan. Penggunaan lokasi dan properti yang mampu menyulap wilayah barat Australias yang menjadi lokasi syuting seperti kota mati yang hancur akibat serangan senjata nuklir. Jumlah zombie yang minim mungkin bisa membuat film terasa murah, bahkan membuat atmosfer film lebih terasa seperti film bencana daripada film zombie.
YAY OR NAY!
YAY bagi penggemar film zombie yang bosan dengan film-film zombie di pasaran. Tone We Bury The Dead memang menggunakan pendekatan distopia yang kelam dan depresif, tetapi tak pernah gagal menampilkan zombie yang seram, garang dan mengerikan. Buktikan sendiri, lebih kejam mana? Zombie atau manusia di dalam film ini?
We Bury The Dead tayang mulai hari Jumat, 9 Januari 2026 di bioskop.





