THE LORD OF THE RINGS: THE WAR OF THE ROHIRRIM (2024) – VISUALISASI MIDDLE-EARTH DALAM BENTUK ANIMASI DENGAN ADEGAN AKSI YANG BRUTAL

Disutradarai oleh Kenji Kamiyama yang dikenal dengan karyanya di Ghost in the Shell: Stand Alone Complex. Film ini berlatarkan 183 tahun sebelum peristiwa dalam trilogi The Lord of the Rings yang disutradarai Peter Jackson, menawarkan kisah baru yang kaya akan intrik, konflik, dan tragedi.

Barisan pengisi suara di film ini antara lain adalah Brian Cox, Gaia Wise, Luke Pasqualino, dan Miranda Otto yang juga bermain sebagai Éowyn di The Lord of the Rings: The Two Towers dan The Return of the King.

SINOPSIS

The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim berfokus kepada Helm Hammerhand, pemimpin legendaris bangsa Rohirrim, yang dikenal karena keberaniannya dalam memimpin pertempuran melawan penjajah. Namun, tragedi datang saat kerajaan Rohan diserang oleh Wulf, penguasa Dunlending yang ingin membalaskan dendam ayahnya.

Wulf kemudian memimpin pasukan untuk menyerang Rohan. Di tengah kekacauan tersebut, putri Raja Helm, Héra, harus menemukan keberanian untuk melindungi rakyatnya.

REVIEW

The War of the Rohirrim menghadirkan Rohan yang indah divisualisasikan dengan gaya anime dan dengan latar tiga dimensi yang hidup. Adegan pertempuran dan pertarungannya pun terasa mendebarkan.

Dengan durasi lebih dari dua jam, The War of the Rohirrim terkadang terasa berlarut-larut. Beberapa adegan yang seharusnya memberikan dampak emosional malah terasa sia-sia dan kurang bermakna. Dan banyaknya sub plot yang muncul di The War of the Rohirrim terkadang membuat penonton kehilangan arah jalannya cerita. Sebagai prekuel, The War of the Rohirrim memberikan nuansa yang lebih gelap dibandingkan adaptasi sebelumnya. Konflik personal dan politik antarkarakter disajikan dengan cara yang mendalam.

Sedangkan untuk karakterisasi Héra tampak seperti karakter yang cukup klise. Kehadirannya cenderung hanya mengisi peran sebagai karakter “wanita tangguh”. Namun perjuangan Héra menggambarkan perkembangan kepemimpinan dan pemimpin baru yang muncul pada saat genting. Ia menginspirasi para pejuang dan rakyatnya untuk bertahan hidup meskipun dengan segala kemungkinan yang sulit

Sedangkan sang raja Helm Hammerhand, yang disuarakan dengan penuh wibawa oleh Brian Cox, menjadi satu-satunya karakter yang menarik perhatian dan berkarisma. Wulf sebagai antagonis utama juga terasa kurang berdampak meski memiliki motif balas dendam yang jelas.

Dengan visualisasi anime yang memesona, serta scoring-scoring legendaris yang dimainkan kembali. Menjadikan filmnya memang unggul secara teknis, dan tak lupa pula komponen feminisme yang diselipkan dalam ceritanya.

Dengan nuansa kental dari trilogi The Lord of the Rings, The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim adalah sebuah usaha penyegaran buat franchise ini, walaupun eksekusinya memang kurang mengigit. Tema wanita tangguh dalam karakter serta sosok Héra memang menarik untuk lebih dieksplorasi buat kelanjutannya selain itu The War of the Rohirrim juga menyajikan perjuangan yang epik dan heroik, serta mengajak penonton bernostalgia dengan cerita dari trilogi The Lord of the Rings.

The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim tayang di bioskop Indonesia mulai Jumat, 13 Desember 2024.

Share