Sejak berkembang pesat di era kolonial sebagai bagian dari tanam paksa hingga sekarang, tebu tak semanis rasanya di lidah. Ia memberikan kepahitan dan kesakitan tak terperi untuk banyak orang. Nikmatnya hanya terasa bagi para kolonialis dan pemilik modal. Van Den Bosch mewajibkan pribumi untuk menanam tebu, seraya mengambil kebebasan mereka untuk menanam apa yang baik untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Di masa Orde Baru, tuntutan menanam tebu masih berlaku dengan peraturan Tebu Rakyat Intensifikasi dimana sekian persen tanah petani berubah menjadi kebun tebu. Saat ini, dua juta tanah adat di Merauke terancam menjadi kebun tebu raksasa demi food estate.
Dari sekian banyak isu tersebut, film PABRIK GULA memilih untuk memotret nasib pekerja pabrik yang terancam entitas yang geram karena suatu pelanggaran. Sementara para pekerja juga tidak punya pilihan lain selain terus bekerja demi tuntutan hidup. Ternyata di dunia nyata dan tidak kasat mata, buruh masih menjadi orang-orang yang ditindas di bawah tapak kolonialisasi.
Mana yang lebih menyeramkan, ditindas oleh penjajah, bangsa sendiri, atau entitas gaib? Sejauh mana mereka bisa berkompromi? Apa yang dialami oleh buruh Pabrik Gula seperti lingkaran kolonial kecil. Ada batasan untuk tiap tuntutan. Persembahan seolah masih bisa dijangkau. Tapi setan-setan kecil ini rupanya juga mewujud dan berkumpul menjadi setan penjajah yang besar dan serakah, yang tidak cukup dengan persembahan beberapa ekor kerbau dan upacara. Mereka tidak akan selesai dengan sejumlah tanah dan sekali musim. Ada saja ambisi dan kebijakan untuk memeras rasa manis dengan ego yang tak habis-habis. Dan cerita di Pabrik Gula seakan menjadi bagian dari ambisi tersebut. Sayangnya, isu yang sangat besar ini hanya dimunculkan lewat setan-setan kecilnya saja.
Sebagai spektakel, Pabrik Gula memiliki kelebihan dalam hal teknis. Layar IMAX menjadi bukti pada keunggulan tersebut, dimana kita bisa melihat detail ekspresi, sinematografi, dan besarnya skala produksi. Unsur soundscape yang mengepung seisi ruang: depan, belakang, dan berbagai sisi juga menjadi kekuatan film ini. Sebagai contoh, ketika satu sosok hadir, kemunculannya didahului oleh suara-suara yang terasa dari tengkuk, kepala, hingga dua sisi telinga. Ini lebih menyeramkan dari penampakan sosok itu secara kasat mata.
Sayangnya di bagian tengah, ada adegan-adegan penjelasan yang terlalu lugas melalui verbal. Hal ini membuat beberapa karakter sekadar menjadi pendengar pasif dan bergerak seolah tanpa tujuan. Tapi momen datar ini untungnya dialihkan dengan klimaks yang layak dengan konflik dan ancaman yang semakin meninggi, untuk kemudian ditutup dengan tanya, apakah nanti kisahnya berlanjut? Masihkan nasib buruh-buruh ini menjadi bagian dari spektakel hari raya?
Film Pabrik Gula tayang di bioskop mulai 31 Maret 2025!

Tinggal di Planet Bekasi!




