KOMANG (2025) – CINTA DAN SARAPATANGUNA

Komunitas Hindu Bali sudah tinggal di Kota Bau Bau sejak tahun 1978 lewat program transmigrasi. Mulai saat itu, warga Bali yang menetap disana telah menjadi bagian dan mengisi keragaman Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Tidak ada catatan konflik agama di wilayah ini, mengingat masyarakat Bau Bau memiliki falsafah Sarapatanguna, yakni pola hidup yang menjaga kerukunan dan harmoni. Norma ini kemudian diadaptasi menjadi PO-5: Po Ma-masiaka (saling menyayangi), Po Pia-piara (saling memelihara), Po mae-maeya (saling menghargai atau saling menanggung rasa malu), Po Angka-angkataka (saling mengangkat harkat) dan Po Binci-binciki Kuli (toleransi). Lima prinsip ini berusaha diperlihatkan lewat kisah cinta Ade dan Ode dalam film Komang.

Pola Sarapatanguna tidak secara eksplisit diutarakan dalam alur Komang, namun disisipkan dalam berbagai tindakan dan dialog antar tokoh yang mengalir dengan mulus. Misalnya, Raim Laode (Kiesha Alvaro) yang tidak sungkan membantu kegiatan yang dilakukan komunitas dimana Komang Ade Widiandari (Aurora Ribero) tinggal.  Begitupun sebaliknya, Ade terlihat tidak sungkan membaur dengan keluarga Ode dan anak-anak muda seusianya. Bahkan orang tua Ode menganggap Ade seolah anaknya sendiri karena kepeduliannya. Ade pun kerap memberikan perangkat ibadah untuk keluarga Ode, sementara Meme-nya Ode (ibu) sering memasak untuk dibagikan selepas Jumatan.

Sebab itu, tidak ada konflik berarti antar manusia dalam film ini. Konflik besar dalam film Komang adalah pergulatan pribadi dua tokoh utamanya dan pilihan-pilihan yang harus mereka ambil. Bagaimana Ode bergulat dengan mimpinya menjadi musisi dan stand up comedian, sementara ada kehidupan yang musti ia hargai di tanah kelahirannya, dan bagaimana Ade harus memilih siapa yang ada di depan mata atau menunggu tambatan hatinya.

Dengan dialog-dialog yang minim hambatan antar tokoh dan performa para pemainnya, terutama Kiesha Alvaro dan Aurora Ribero, kita dapat merasakan momen-momen manis, lucu, dan tentu saja emosional yang cukup rapi tersusun dari awal hingga akhir, walaupun saat-saat meet cute tidak begitu memorable dan bisa diolah lebih detail lagi, serta obsesi Ode yang kurang diterjemahkan dengan baik antara menjadi comic atau musisi sejak awal karakter ini diperkenalkan.

Tapi interaksi Ode dan Ade ini jadi salah satu chemistry paling baik dalam film romansa tahun ini. Adu rayu di beberapa adegan bakal bikin penonton ikutan baper.

Film Komang bisa menjadi kuda hitam di Lebaran tahun ini. Apalagi Idulfitri berdekatan dengan perayaan Nyepi, film ini sudah tentu menjadi film yang patut untuk dirayakan dan layak ditonton.

Share