Saat ini, “kedudukan” tertinggi di dalam hidup kita masih ditempati oleh generasi baby boomer. Tidak hanya pada lingkup keluarga, tapi juga pada banyak hal. Salah satunya di pemerintahan. Nasib Fadly (Jourdy Pranata) dan dua adiknya, Kifly (Christoffer Nelwan) dan Ahmad (Rey Bong) dalam film Jodoh 3 Bujang seolah merefleksikan apa yang terjadi di negara ini lewat urusan keluarga.
Dengan tabungan yang dikumpulkan semasa ia menjadi guru, Mustafa (Arswendy Beningswara) berharap bisa menikahkan tiga anak lelakinya bersamaan. Karena jika dirunut dalam aturan budaya Bugis Makassar, sebagai ayah ia wajib membiayai segala kebutuhan putra-putranya tersebut. Karena tabungannya terbatas untuk uang panai dan pesta pernikahan, ia menuntut diadakannya pernikahan kembar. Tidak hanya dua pasang pengantin, tapi tiga. Pada awalnya rencana tersebut berjalan seperti semestinya. Tapi ternyata Nisa (Maizura), pacarnya Fadly dijodohkan dengan lelaki yang menawarkan uang panai lebih besar. Fadly kelimpungan. Sayangnya keputusan sang ayah untuk melaksanakan pernikahan kembar tidak bisa ditolak. Ia pun berusaha mencari jodoh dengan berbagai media, dari aplikasi kencan hingga kenalan keluarga.
Mau ditaruh di mana muka saya, seperti itu keluhan Mustafa sepanjang film andai keluarganya tidak jadi melakukan pernikahan kembar. Padahal keputusan tersebut ia sendiri yang buat tanpa masukan yang diterima dari anak-anaknya. Ia bertindak seolah itu keputusan paling baik untuk mereka. Tanpa berpikir lebih jauh apa yang diinginkan dan dibutuhkan anggota keluarga yang lain. Fadly dan dua adiknya pun seperti tidak berkutik.
Sama seperti halnya di negara kita tercinta ini, di mana perwakilan kita masih dipegang oleh baby boomers. Sayangnya wali-wali tersebut tidak melibatkan kita dalam menyusun berbagai Undang-Undang. Mereka pikir apa yang mereka atur adalah solusi terbaik. Tapi barangkali urusan terbaik itu bukan untuk kebutuhan rakyat pada umumnya. Lihat saja ketentuan yang baru-baru ini dikeluarkan terkait perumahan sempit itu. Di generasi mereka, orang dewasa yang terhormat – apalagi lelaki – harus memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan yang mapan (kalau bisa jadi PNS), dan keluarga yang harmonis. Bagaimana dengan generasi sekarang? Dengan permasalahan yang tidak sama dengan persoalan pasca kemerdekaan, apa mereka masih butuh dengan standar sosial tersebut? Apa mereka masih membutuhkan rumah dengan upah minimum yang mentok sementara beban kerja berlebih? Sayangnya generasi setelah baby boomer, generasi X dan milenial masih memandang segan standar tersebut, lalu kembali menurunkannya pada generasi setelahnya.
Mengikuti ketentuan yang diputuskan memang sebuah pilihan personal, sebagaimana Fadly memutuskan untuk mengikuti permintaan ayahnya tersebut atas dasar cinta pada keluarga. Ia bisa saja menolak atau melakukan hal yang lebih jauh dengan berbagai konsekuensi. Fadly memutuskan untuk berbakti dan menjaga warisan sang ayah dan adat budaya.
Sebagai filmmaker yang akrab dengan dokumenter, Jodoh 3 Bujang yang merupakan film fiksi panjang pertama Arfan Sabran adalah sebuah kejutan dan patut diperhitungkan. Ia mampu mengatur unsur romantis, komedi, dan drama keluarga silih berganti dan saling melengkapi, didukung dengan penampilan para pemain yang bisa menuturkan dialog dengan mengalir sesuai dengan karakter masing-masing.
Ada hal yang disayangkan terkait dengan perjuangan karakter utama dan sikapnya yang tidak berkutik. Tapi barangkali begitulah kisah aslinya yang diadaptasi. Hidup kita juga seolah belum berdaya menyikapi kebijakan-kebijakan baby boomers di gedung sana yang melengkapi runyamnya urusan dunia.

Tinggal di Planet Bekasi!



