Geliat sinema Cina Taipei sudah lama mondar-mandir ke Indonesia baik lewat bioskop maupun DVD. Setelah dulu punya You’re The Apple of My Eye yang sudah diremake oleh banyak negara, serta Our Times yang memiliki nafas romance yang senada, kini bermacam genre sudah dihasilkan oleh negara yang sampai saat ini tengah berkonflik dengan Tiongkok.
Genre horor sempat hadir lewat Detention, Incantation serta fantasi romance lewat ‘Til We Meet Again, kini lewat Dead Talents Society, genre horor komedi coba dihadirkan oleh sutradara John Hsu dengan menggandeng Sandrine Pinna, Bo-Lin Cheng, Gingle Wang dan Yi Ti Yao sebagai para aktor utamanya.
Scary Ghost is The Best Ghost
Di dunia hantu, gelar hantu terseram selalu jadi rebutan, setelah bertahun-tahun bergelar hantu perempuan terseram Catherine (Sandrine Pinna) si hantu Kayang dari Kamar Hotel 408 harus rela digeser oleh anak didiknya, Jessica (Yi Ti Yao), sang hantu perempuan bergaun merah.
Sementara itu seorang hantu baru berjuluk The Rookie (Gingle Wang), terancam dihapuskan rohnya karena mulai dilupakan keluarga. Satu-satunya jalan baginya untuk tidak terhapus adalah mendapat lisensi hantu untuk menakut-nakuti. Tapi bagaimana mungkin, ia cenderung imut daripada lucu. Sosok Makoto (Bo-Lin Chen) pun datang mencoba membantu, begitu pun Catherine yang ketus tapi diam-diam bersimpati. Usaha menjadi hantu yang seram pun harus dilalui oleh The Rookie.
Being Scary is Not The Only Purpose
Dalam usahanya menghadirkan sebuah horor komedi, Dead Talents Society sangat sukses. Adegan horornya memang digarap serius tapi tidak pernah menjadi seram karena dipatahkan dengan jokes dan punchline yang tepat timingnya.
Di beberapa momen dramanya sering membuat tensi film menurun tapi itu memang harus dilakukan guna mengalirkan backstory karakternya. Selain konflik Catherine vs Jessica dan kisah pilu The Rookie, film ini juga menyimpan sempilan-sempilan kisah masa lalu karakter-karakter ajaibnya, terutama si Makoto yang tak bisa ditebak kisahnya.
Sutradara John Hsu (Detention) yang juga menulis skripnya bersama Kun-Lin Tsai (We Are Champions) terlihat bersenang-senang mengimajinasikan apa yang terjadi di dunia hantu. Walaupun terkesan seenaknya namun universe yang mereka ciptakan terasa logis. Apalagi saat kita melihat manusia ditakut-takuti tapi lewat POV sang hantu. Momen karyawan IT yang sering lembur (jadi kebal sama takut) berusaha ditakut-takuti oleh The Rookie adalah momen paling kocak dalam film.
Di tengah kekocakan serta keseruan di dalam dunia hantu film ini juga tanpa diduga fasih dalam menanamkan pesan bermakna dalam. Sosok The Rookie, Makoto dan Catherine digambarkan memiliki persoalan masing-masing terkait masa lalu mereka. Dari mereka film menampilkan elemen parenting, penerimaan diri, mimpi yang tak terwujud serta ketenaran masa lalu yang membuat diri sombong.
Sandrine Pinna (The Legend of The Cat Demon, Yang Yang) yang cantik tampil total tak kenal malu dalam film ini, perseteruannya dengan Yi Ti Yao (The Gangs, The Oscars and the Walking Dead) terasa organik seakan benci dan julid betulan. Bo-Lin Chen (A Chinese Tall Story) sendiri tampil menawan dengan wajah bunglon dengan kumis dan tanpa kumis yang mirip Takeshi Kaneshiro. Tapi Gingle Wang (Detention, ‘Til We Meet Again) sekali lagi kembali mencuri perhatian. Bintang muda ini bermain hebat sebagai hantu gadis yang manis dan menyimpan kesedihan mendalam.
Yay or Nay
A most def Yay! Kocak, imajinatif, seru, haru dan hangat, persahabatan para hantu-hantu gagal seram dalam Dead Talents Society ini jadi salah satu film kuda hitam yang layak ditonton di layar bioskop. Beruntung Sony Pictures mau membawa film ini dan menayangkannya di bioskop Indonesia.
Dead Talents Society sedang tayang di bioskop Indonesia.





