Sejatinya Black Phone merupakan adaptasi dari sebuah cerita pendek di tahun 2004 dengan judul yang sama oleh penulis Joe Hill. Black Phone 2 naskahnya kembali masih ditulis bersama dengan sang sutradara Scott Derrickson bersama C. Robert Cargill. Sekuelnya kali ini yang berjarak 3 tahun dari rilis film pertama masih menggunakan para aktor dari film pertama seperti Ethan Hawke, Mason Thames, Madeleine McGraw dan Jeremy Davies beserta Demian Bichir dan Arianna Rivas.
SINOPSIS
Mengambil latar belakang cerita empat tahun setelah peristiwa di film pertamanya. Kini Finney Blake (Mason Thames) yang berusia 17 tahun berjuang untuk mengatasi trauma akibat penculikan dari The Grabber.
Sementara itu, adiknya, Gwen (Madeleine McGraw), mulai mendapatkan dan mengalami panggilan misterius melalui mimpi dengan medium deringan telepon hitam. Melalui mimpinya, ia menyaksikan tiga anak laki-laki terbunuh di sebuah kamp musim dingin bernama Alpine Lake, tidak hanya itu saja Gwen juga terhubung dengan ibunya dari masa lalu.
Gwen pun bertekad untuk mengungkap misteri dan menghentikan teror yang mengganggu, bersama abangnya Finney mereka mendatangi kamp tersebut dan menemukan fakta mengejutkan tentang The Grabber dan sejarah keluarga mereka. Selain itu kini mereka juga harus menghadapi kembali teror The Grabber yang muncul dari “alam lain” sambil mengungkap misteri yang terjadi di kamp musim dingin tersebut.
REVIEW
Sekuel ini memiliki berbagai sisi menarik untuk dinikmati. Selain dari cerita, akting, editing, sinematografi, sampai jump scare scene yang dikemas secara menarik. Bahkan sisi kehidupan anak-anak di budaya Amerika tahun 70-an juga menarik diikuti. Sama seperti di film pertamanya, para hantu-hantu yang muncul di film Black Phone 2 sebenarnya tidak berfungsi untuk menggangu atau menakuti karakter utama seperti di film horor lainnya.
Pada babak pertama dalam film ini, penonton akan dibawa melihat kepada latar belakang kehidupan Finney 4 tahun setelah kejadian di film pertamanya, melihat bagaimana cara ia menghadapi traumanya baik di rumahnya atau pun juga di sekolahnya. Jika film pertamanya banyak menceritakan melalui sudut pandang Finney, di sekuel kali ini sang adik Gwen juga mendapatkan porsi cerita yang berimbang. Dua aktor muda yang jadi ujung tombak film ini kembali tampil memuaskan, khususnya Madeleine McGraw yang memerankan Gwen.
Di film kedua ini sutradara menggunakan teknik dan konsep teror yang sedikit berbeda dengan film pertamanya, yaitu adanya dua pengambilan gambar yang berbeda, untuk memberikan penonton pengalaman dalam membedakan mana dunia nyata dan mana yang dunia mimpi.
Film ini terbilang berhasil menyajikan sebuah kengerian yang sangat intens sejak awal hingga akhir filmnya. Penonton akan dibuat ikut tegang dalam menduga-duga bagaimana nasib Finney dan Gwen di tangan The Grabber. Sesuai dengan judul fimnya, dering telepon masih menjadi “medium” dalam ceritanya kemunculan hantu-hantu saat sedang berbicara di telepon tetap akan membuat para penonton terganggu hingga menimbulkan perasaan yang kurang nyaman.
Nuansa seram yang coba untuk diciptakan melalui audio visual dari para korban-korban The Grabber di masa lalu dijamin akan membuat penonton meringis, tidak hanya itu saja di sekuel kali ini sang sutradara juga menambahkan elemen drama keluarga yang cukup emosional dari Finney dan Gwen serta ayah mereka Terrence. Didukung juga dengan penampilan para cast yang mayoritas berasal dari film pertama yang diproduksi 4 tahun lalu, membuat chemistry para karakternya terasa mengalir dan cukup mendalami.
Film tentang serial-killer ini juga dibarengin elemen supranatural untuk menambah level ketegangan. Dengan beberapa jump scare scene yang akan membuat penonton kaget sekaligus gregetan. Jalannya cerita juga berlangsung seru hingga babak klimaks.
Film The Black Phone 2 tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu tanggal 15 Oktober 2025.





