MELIHAT PALESTINA DAN UKRAINA DALAM DUA FILM DOKUMENTER YALLA PARKOUR DAN NICE LADIES

Yalla Parkour dan Nice Ladies, dua film dokumenter yang tayang di Europe on Screen ke-25 memiliki beberapa kesamaan. Kedua film tersebut merupakan film panjang pertama dari dua sutradara perempuan: Areeb Zuaiter dan Mariia Ponomarova. Dua film ini menggambarkan kegiatan fisik yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berusaha bertahan di tengah sulitnya keadaan.

Yalla Parkour menunjukkan aksi sekelompok pemuda Palestina yang tinggal di Gaza melakukan olahraga parkur di sekitar tempat mereka tinggal. Ini bukanlah perjuangan from zero to hero layaknya film olahraga pada umumnya. Areeb Zuaiter tidak berusaha membuat film ini sebagai film olahraga yang membakar semangat. Bahkan ia sendiri mengatakan tidak menyukai parkur. Pasca ibunya meninggal di tahun 2012, Areeb memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Gaza. Ia bertemu dengan Ahmad dan tetap terhubung meski ia telah kembali ke Amerika Serikat. Ahmad mengirimkannya video-video parkur yang ia lakukan bersama teman-temannya. Film ini pun bergulir dengan narasi yang diucapkan oleh Areeb terkait tanah kelahiran, perjuangan mendiang ibunya untuk keluar dari Palestina, nostalgia tanah kelahiran, diselingi dengan komunikasi daring Areeb dan Ahmad yang saling mengomentari video-video parkur di sekitar Gaza. Di tengah latar waktu yang bergulir itu, video berita menunjukkan ledakan-ledakan genosida yang dilakukan Israel, melengkapi video kiriman Ahmad yang merekam tim parkur berlompatan dengan jarak yang dekat dengan sumber ledakan.

Dalam Nice Ladies, Mariia Ponomarova – sang pembuat film – pulang kampung ke Ukraina untuk merekam sekelompok perempuan usia lima puluh tahun ke atas yang masih aktif dalam cheerleading team. Meski tidak lagi muda, mereka merayakan proses penuaan dengan tangkas menghapal koreografi, rajin berlatih, mengikuti berbagai perlombaan, hingga acara-acara lain selain olahraga tersebut. Namun ketika agresi militer Rusia terjadi di daerah mereka tinggal, Kharkiv, kekuatan mereka diuji bukan hanya pada kemampuan untuk berani secara individu, namun juga upaya menjaga keluarga dan tim. Mereka dihadapkan pada pilihan antara cinta tanah air atau cinta keluarga. Sveta, salah satu anggota tim Nice Ladies memutuskan untuk mengungsi ke Belanda bersama anak dan cucunya dengan bantuan Mariia. Keputusan ini pun sempat digugat oleh anggota tim lain yang memilih untuk bertahan, membantu warga sekitar di tengah krisis.

Kedua film ini menunjukkan upaya orang-orang untuk bertahan di tengah gempuran api yang tiada henti dan solidaritas mereka terhadap sesama. Pemuda-pemuda parkur Palestina adalah pemuda-pemuda lain pada umumnya yang bisa kita lihat di berbagai belahan dunia. Mereka tumbuh, mencari penghiburan, juga berusaha menjalani kehidupan dengan energi muda mereka, walau dengan kondisi yang sangat berat. Rekaman-rekaman yang dikirimkan Ahmad pada Areeb menampilkan mereka berlari, melompat, dan memanjat di berbagai tempat yang hancur, dari mall hingga bandara. Mereka menunjukkan eksistensi mereka, manusia-manusia pada umumnya yang memiliki kesenangan, kesedihan, dan ketakutan. Mereka mencoba klaim tempat-tempat yang mereka lompati: bahwa reruntuhan itu masih menjadi tempat tinggal mereka.

Perempuan-perempuan tim sorak Ukraina tidak kalah menunjukkan ketangguhan mereka dibandingkan dengan tenaga militer yang mencoba menduduki rumah mereka, meskipun usia tidak lagi muda. Mereka memutuskan untuk tetap tinggal di sana, membantu orang-orang yang berjuang dan tidak tergoda untuk meninggalkan tanah kelahiran walaupun sebetulnya mereka mampu. Mereka bisa saja mencari perlindungan, menghindar, dan cari selamat sendiri. Tapi mereka mengutamakan kebersamaan, bahkan masih berlatih dalam cheerleading sebagai bentuk pertahanan dan menjaga kewarasan.

Gaza di Palestina menjadi penjara raksasa yang mengurung orang-orang di dalamnya. Tidak mudah bagi mereka untuk keluar dari jeruji Israel dan meraih kehidupan yang lebih baik. Berulang kali Ahmad mengeluarkan uang demi visa, bahkan dengan bukti undangan kegiatan olahraga dari Eropa. Tapi berulang kali pula ia hanya termangu di depan pintu penjara tersebut. Di sisi lain, orang Ukraina masih bisa pergi ke luar negara mereka dengan lebih mudah. Salah satu anggota Nice Ladies bisa mengungsi ke Belanda dengan keluarga dan kucingnya. Mereka juga masih bisa bertanding ke negara lain dan mendapat penghormatan atas perjuangan mereka. Tapi meskipun demikian, mayoritas mereka memutuskan kembali ke tanah kelahiran dengan ketidakpastian dan bahaya di tangan.

Dua film ini menjadi pengingat bahwa – memang – dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Ada pihak-pihak yang  masih bernafsu untuk menguasai dan tertawa di atas derita. Di era digital yang tanpa batas, yang bisa kita sebar adalah solidaritas.

 

Share