Hari-hari ini bukanlah hari perayaan. Hari-hari ini adalah hari genting: ketika tuntutan rakyat atas keadilan sosial, demokrasi, dan akuntabilitas negara bergema di seluruh penjuru Indonesia—dan dijawab dengan represi serta kekerasan. ARKIPEL, yang selama ini menjadi laboratorium membaca geopolitik melalui sinema dokumenter dan eksperimental, di penyelenggaraannya yang ke-12 kini memperluas dirinya: menjadi mimbar perlawanan, ruang solidaritas, dan titik temu gerakan rakyat. Markas ARKIPEL di Forum Lenteng dibuka sebagai salah satu hotspot perjuangan, bagian dari denyut People Power yang tengah bangkit. Film-film, diskusi dan pameran di bawah tema Years of Living Dangerously tidak dihadirkan sebagai tontonan, melainkan sebagai pemantik kesadaran, sebagai senjata berpikir, sebagai agenda mengorganisir perlawanan.
ARKIPEL MELAWAN! berlangsung di dua tempat di Jakarta: Bioskop Forum Lenteng sebagai tempat pemutaran dan forum diskusi solidaritas (5 September sampai 13 September 2025) dan Contemporary Art Gallery – Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasi pameran (4 September sampai 20 September 2025).
Tema “Years of Living Dangerously” berefleksi dari Pidato Soekarno tahun 1964 berjudul “Tahun Vivere Pericoloso” atau TAVIP. Soekarno melakukan pembacaan atas momentum otak-atik kekuatan imperialis di kawasan Selatan Global yang menuntut gerak bersama dalam kerangka revolusioner, lewat rekontekstualisasi Konferensi Bandung sebagai muara pemikiran dekolonisasi dan aktivisme. Walaupun berkali-kali disudutkan kuasa, gerakan-gerakan masyarakat tersebut terus bertahan dan menang sesekali, dengan belajar bersama-sama untuk menandingi bahasa para gatekeeper, baik itu praktik filibuster, mengakali algoritma dan sistem, dan menciptakan noise. Tahun ini sebagai 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika, menjadi momentum yang tepat untuk memikirkan ulang capaian untuk menyusun kekuatan Global Selatan, khususnya di ranah kebudayaan, sinema secara spesifik.
Dengan kesadaran atas eksperimen dan aktivisme sinema yang terjadi di tengah peristiwa bahaya di negeri sendiri, dan secara umum di ranah global, ARKIPEL ingin menggali wacana sinematik yang memetakan agenda produksi pengetahuan bersama atas bagaimana membangun kesadaran hidup ulang-alik antara sistem dan non-sistem sebagai individu atau kolektif—bukan hanya dalam tema-tema yang diangkat dan bentuk estetika, tetapi juga dalam cara produksi dan distribusi yang revolusioner. Tema ini mengundang interpretasi dan metode sinematik seluas-luasnya dalam membedah persoalan genting di irisan yang privat dan publik. Years of Living Dangerously, menjadi pemantik untuk merakit imajinasi baru dalam menyiasati zero-sum game dari realitas geopolitik hari ini. Terlepas kita semua hidup di lokasi cincin api, patahan, subtropik, dan sejarah kawasan yang berbeda, hasrat untuk hidup menyiasati bahaya menjadi hasrat kolektif untuk membangun dunia-dunia baru.
PROGRAM-PROGRAM ARKIPEL MELAWAN! YEARS OF LIVING DANGEROUSLY
ARKIPEL MELAWAN! Years of Living Dangerously terdiri atas tujuh program utama. Diantaranya Kompetisi Internasional, Kuratorial Years of Living Dangerously, Candrawala, Pameran Milisifilm Collective, Presentasi Khusus, Penayangan Khusus, dan Forum ARKIPEL MELAWAN! (diskusi dan simposium). Secara keseluruhan ada 80 film dokumenter dan eksperimental dari 26 negara yang kami tayangkan. Semua acara di ARKIPEL gratis dan terbuka untuk umum. Beberapa pembuat film turut hadir pada sesi diskusi dan tanya-jawab.
KOMPETISI INTERNASIONAL
Program Kompetisi Internasional telah memilih 32 film dari 20 negara sebagai peserta dari total 900 lebih film terdaftar dari 80 negara. Anggota Dewan Juri Kompetisi Internasional ARKIPEL adalah Abhishek Nilamber (kurator dan aktivis kebudayaan asal India), Enoka Ayemba (Kurator dan penulis asal Kamerun yang berbasis di Berlin), Anjalika Sagar (seniman dan kurator, pendiri The Otolith Group dari Inggris), dan Yuki Aditya (Pembuat film dan kurator, sekaligus Direktur Artistik ARKIPEL). film-film terbagi ke dalam 10 slot pemutaran.
Program Kuratorial Years of Living Dangerously
Merespon tema Years of Living Dangerously, kuratorial terdiri dari 5 program dari 6 kurator. Manshur Zikri melalui program bertajuk “Sinema Bunyi; Bunyi Sinema: Kesadaran dan Kebenaran” yang memutarkan 3 film dari Indonesia yang membedah performativitas bunyi dan lokasi dalam sinema. Dyah Nindyasari & Syarifa Amira Satrioputri melalui program bertajuk “Gudang Memori Kolektif: Banjir Yang Menubuh Di Ingatan Warga Jakarta” memutarkan 7 film yang mencakup 6 film hasil proyek Futures of Listening yang diselenggarakan oleh Forum Lenteng, University of Aberdeen (UK), dan kolektif urban planning Urban.koop (Istanbul). Proyek tersebut mendalami isu krisis air di wilayah kampung Kalibata Pulo di Jakarta Selatan lewat penelitian artistik para seniman muda yang terhimpun dalam Sigisora, platform Forum Lenteng yang menekankan studi bunyi dan kelindan sosiokulturalnya di Jakarta; satu film lainnya, Key to the Past, adalah hasil penelitian artistik Milisifilm Collective terkait deposit sampah yang menjadi formasi geologis di pintu Air Manggarai.
Selain kedua program kuratorial yang membedah lokasi kontemporer itu; tahun ini para kurator mempresentasikan film-film yang penting dalam sejarah sinema Indonesia di kancah global, yaitu film-film yang berjaya sepanjang sejarah penyelenggaraan Festival Film Asia Afrika 1958-1964. Anggraeni Widhiasih melalui program bertajuk “Sinema dan Poiesis Solidaritas Resiliensi” akan memutarkan film Niguruma No Uta/Ballad of the Carts (Satsuo Yamamoto, 1959, Jepang). Pemutaran film ini didukung oleh National Rural Film Association Jepang. Alifah Melisa menguratori program bertajuk “Kartografi Sinematik Pulau Hainan” yang memutar film Red Detachments of Women (Xie Jin, 1961, RRC). Keduanya merupakan film yang penting dalam perhelatan Festival Film Asia Afrika di Jakarta 1964, di mana Niguruma no Uta memenangkan penghargaan tertingginya. Rahmania Nerva menguratori film Turang (Bachtiar Siagian, 1957) dalam kuratorial bertajuk “Bergerak dalam Cincin Api”. Film Turang sendiri menjadi primadona dalam Festival Film Asia Afrika 1958 di Tashkent dan dianggap mewakili semangat solidaritas antar Negara Dunia Ketiga melawan kolonialisme lewat penggambaran perjuangan laskar rakyat Karo melawan Belanda di masa Agresi Militer II di Indonesia.
CANDRAWALA
Program Candrawala – Melihat pada yang Lalu dikuratori oleh Ananta Wijayarana. Candrawala menayangkan 4 film Indonesia dengan membaca fenomena visual terkini dari produksi gambar bergerak di konteks lokal Indonesia. Gejala yang tampak dari film-film Indonesia tahun ini adalah kecenderungan banyak pembuat film menengok ke belakang, berusaha berinteraksi dengan para pendahulu. Dari peta ini, muncul berbagai motif: upaya merumuskan identitas diri, relasi personal dengan keluarga, hingga pemahaman situasi masa lalu. Hal penting dari keempat film ini adalah bahwa penelusuran asal-usul ke masa lalu didasari kesadaran politik yang kuat.
PAMERAN MILISIFILM COLLECTIVE: YEARS OF LIVING DANGEROUSLY
Pameran Milisifilm Collective: Years of Living Dangerously dikuratori oleh Adi Osman dan Alifah Melisa. Milisifilm Collective, sebagai platform edukasi alternatif di Forum Lenteng yang mendalami praktik eksperimentasi audiovisual, selama 8 tahun, telah menghimpun partisipan dari seluruh Indonesia untuk merefleksikan fenomena sosiokultural dalam studinya. Tujuh puluh tahun setelah Konferensi Asia-Afrika (KAA), Milisifilm Collective berupaya merespons dan melanjutkan kembali Semangat Bandung melalui berbagi pengetahuan akar rumput dan solidaritas lintas wilayah. Pameran ini merespons sejarah-sejarah yang terpinggirkan dengan mendorong dialog antar partisipan dari beragam latar belakang kultural dan akademik. Pameran Milisifilm Collective: Years of Living Dangerously diselenggarakan di Contemporary Art Gallery – Taman Mini Indonesia Indah sejak tanggal 4 September s.d. 20 September 2025 pukul 09.00-16.00 WIB. Untuk pameran ini, berlaku HTM (Harga Tiket Masuk) Taman Mini Indonesia Indah. Penyelenggaraan pameran ini didukung oleh Contemporary Art Gallery – Taman Mini Indonesia Indah dan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Indonesia.
Pameran ini mengundang 30 seniman muda yang terdiri dari: Ali Satri Efendi, Afrian Purnama, Ananda Firman Syarif, Ananta Wijayarana, Anggraeni Widhiasih, Azhar Arrival, Beny Kristia, Dahlan Khatami, Dyah Nindyasari, Fachri Ghazali, Hanna Haris Rifai, Helmi Yusron, Manshur Zikri, Maria Silalahi, Mathew Gunawan, Misbahul Khoir, Kayla Miska, Muhammad Hafidz, Pingkan Polla, Prashasti Wilujeng Putri, Rafael Marius, Rahmania Nerva, Rahmat Gunawan, Raras Umaratih, Riyan Kelana, Robby Ocktavian, Shelvira Alyya, Syarifa Amira Satrioputri, Taufiqurrahman Kifu, Theo Nugraha, Van Luber Parensen, Volta Jonneva, Wildan Iltizam, dan Zahra Zulya. Pameran ini turut menghadirkan karya kawan-kawan Forum Lenteng dari seluruh dunia yang dianggap mewakili semangat kuratorial, antara lain: Andres Denegri (Argentina), Chen Singing (Taiwan), Lee Yung-chuan (Taiwan), Scott Miller Berry (Kanada/AS), Sorayos Prapapan (Thailand), Tulapop Saenjaroen (Thailand), Bo Wang (Cina/Belanda), Yosep Anggi Noen (Indonesia), Zbyněk Baladrán (Rep. Ceko), dan Zhang Zimu (Cina/Hong Kong).
PROGRAM PRESENTASI KHUSUS
2 Program Presentasi Khusus bekerjasama dengan: Videotage (Hong Kong) dengan program “Pieces of Pieceing (Bagian-bagian Perangkaian)” yang dikurasi oleh Videotage. Program ini akan mencakup pemutaran 18 film eksperimental dari Hong Kong dan lokakarya 3D Scanning bersama seniman Albert Kaho Yu. Lokakarya ini gratis dan terbuka untuk umum melalui registrasi di sosial media ARKIPEL. Kerjasama dengan Videotage ini didukung oleh Hong Kong Art Development Council. Yoikatra, sebuah organisasi nirlaba egaliter yang memiliki fokus pada jurnalisme warga serta pemberdayaan dan pengembangan media alternatif di Timika, Papua, akan mempresentasikan film Tete Nene karya Yonri S. Revolt dan Mahardika Yudha dengan kuratorial “Penelitian Asal Usul Tandingan dari Yang Sakral” yang dikuratori oleh Dyah Nindyasari. Film ini menelusuri sejarah dan praktik Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih di Papua—sebuah institusi yang berkaitan dengan warisan Arnold Ap dan kelompok budaya Mambesak—melalui ruang, komunitas, dan teknologi media.
PROGRAM PENAYANGAN KHUSUS
Program Penayangan Khusus mempersembahkan: Penayangan film Bachtiar (2025) yang disutradarai oleh Hafiz Rancajale dan diproduksi Forum Lenteng. film ini juga menjadi statement Forum Lenteng yang selama 22 tahun mengekskavasi arsip sejarah sinema Indonesia lewat kerja penelitian dan berjejaring untuk menawarkan historiografi alternatif bagi sejarah sinema Indonesia. Ada pula pemutaran 2 film karya The Otolith Group, kolektif seni interdisipliner yang berbasis di London yang menggabungkan penelitian, film, dan seni visual untuk membahas isu-isu seperti rasialisme, anti-kolonialisme, dan teknologi media yang didirikan oleh seniman, kurator, teoretikus seni, dan pengajar, Kodwo Eshun dan Anjalika Sagar. Dua filmnya, Otolith III (2005) dan In The Year of Quiet
Sun (2013) yang akan dipresentasikan Luthfan Nur Rochman sangat penting untuk membaca relevansi Konferensi Asia Afrika dan spekulasi atas proyek geopolitik tersebut bagi pengalaman hari ini. Ketiga, penayangan proyek film oleh Milisifilm Collective Angkatan 8: Kenanga yang merespon novel 100 Tahun Kesunyian oleh Gabriel Garcia Marquez. 11 orang partisipan Milisifilm membuat karya filmnya untuk kali pertama akan dipresentasikan ke publik.
FORUM ARKIPEL MELAWAN!
Program simposium yang membicarakan situasi dan kondisi Indonesia saat ini, serta persoalan global secara luas dan kritis dengan mengundang para ahli di ranah sinema, seni kontemporer, dan keilmuan yang spesifik. terdiri dari 5 Panel dan 1 Pidato Kunci yang diselenggarakan pada 5 September 2025 di Forum Lenteng.
- Pidato Kunci disampaikan oleh Ronny Agustinus (penulis dan pendiri penerbitan Marjin Kiri);
- Panel 1. Bahasa Vernakular dalam Geopolitik Global, yang mengundang pembicara Enoka Ayemba, Esha Tegar Putra, dan Yonri Revolt, dan dimoderatori oleh Rafael Marius;
- Panel 2. Politik Citra Film Klasik Indonesia, dengan pembicara Annissa Larasati dan Yuki Aditya, serta dimoderatori oleh Ananta Wijayarana;
- Panel 3. Estetika Lingkungan: Keterhubungan Masyarakat, Seni dan Ekologi, dengan pembicara Syarifa Amira Satrioputri, Van Luber Parensen dan Volta Ahmad Jonneva, serta dimoderatori oleh Helmi Yusron;
- Panel 4. Komunitas, Estetika Berbahaya, dan Praktik Kreatif sebagai Perlawanan, dengan pembicara Hardiwan Prayoga dari kolektif Sinemartani Yogyakarta, Lestari dari Kolektif Arungkala Yogyakarta, dan Kazuki Niiya dari kolektif Eiganabe (Independent Cinema Guild) Jepang serta dimoderatori oleh Shelvira Alyya;
- Panel 5. Pedagogi Kritis dan Aliansi Baru: Percakapan Forum Lenteng dan The Otolith Group, dengan pembicara Otty Widasari dari Forum Lenteng, Kodwo Eshun, dan Anjalika Sagar dari The Otolith Group, serta dimoderatori oleh Luthfan Nur Rochman.





