CLAYFACE (2026) – FILM KELAHIRAN VILLAIN BERKEDOK BODY HORROR YANG BIKIN NGILU

Tahun ini DCU (DC Universe) kembali merilis salah satu judul andalannya yaitu Clayface, yang merupakan villain dari pahlawan bertopeng Gotham Batman. Disutradarai oleh James Watkins, Clayface akan menghadirkan origin story, dari seorang Matt Hagen (Tom Rhys Harries) bertransformasi menjadi seorang villain ikonik.

SINOPSIS

Bercerita tentang seorang aktor bernama Matt Hagen yang karirnya tengah naik daun di Gotham setelah ia bekerja keras bersama sahabatnya yang bernama Corey (Joshua James). Tidak hanya itu saja, Matt bahkan mendapatkan nominasi sebagai aktor terbaik di dunia perfilman disaat yang sama, membuatnya berada dalam periode terbaik kehidupannya.

Namun dalam waktu semalam, semua kesuksesan itu hilang karena satu “keteledoran” Matt yang menyebabkan ia kehilangan wajah tampannya hingga berpengaruh terhadap karirnya, keuangan, persahabatan, hingga orang-orang sekitarnya. Kini Matt berusaha mencari cara agar ia bisa kembali ke kehidupan normalnya.

REVIEW

NGILU! Itulah satu kata yang penulis bisa sematkan pada film Clayface yang diberikan rating 17+ dari LSF Indonesia. Bukan tanpa alasan, karena memang beberapa adegan-adegan yang ditampilkan bisa membuat penonton menutup mata atau juga meringis bahkan berteriak.

Clayface bisa dikatakan minim adegan aksi, karena film ini lebih banyak berfokus pada cerita kehidupan Matt Hagen dari ketika ia pada fase puncak kesuksesan lalu ke fase kekelaman hingga transformasi ia menjadi seorang villain.

Alur cerita Clayface pun juga sangat nyaman buat diikuti, dan membuat penasaran hingga filmnya berakhir, dan tidak mengherankan karena dari sisi penulis ada maestro horor Mike Flanagan (Ouija: Origin of Evil, The Haunting of Hill House, dan The Haunting of Bly Manor) dan co-writer Hossein Amini. Penonton awam yang tidak terlalu mengikuti cerita-cerita Batman di komik atau yang mungkin menonton tanpa informasi apapun dijamin akan bisa menikmati cerita dari seorang Matt Hagen yang bertransformasi menjadi Clayface.

James Watkins sebagai sutradara juga secara agresif dan brutalnya sudah tancap gas dari awal menunjukkan adegan-adegan body horror yang akan membuat penonton mungkin merasa tidak nyaman, tetapi di sisi lain juga akan merasakan empati terhadap keadaan Matt Hagen setelah ia dikhianati oleh orang-orang terdekatnya.

Disisi lain ceritanya, akan menampilkan sisi trauma terdalam dari Matt Hagen, dan juga perubahan karakter setelah ia menjalani perawatan bersama Caitlyn (Naomi Ackie). Unsur-unsur kengerian lainnya ditampilkan dalam bentuk visual, dari penggunaan senjata tajam yang menyayat wajah hingga isi kepala yang pecah dan bagian-bagian tubuh yang terburai.

Pengunaan CGI dan efek praktikal juga digunakan untuk menampilkan perubahan bentu tubuh dan khususnya pada wajah Matt yang tiba-tiba bisa menjadi lumer atau lentur seperti karet yang terkadang menimbulkan rasa ngeri sekaligus juga jijik.

Menurut penulis apa yang ditampilkan oleh James Watkins untuk Clayface sudah berada dalam jalur yang benar, walaupun ada sedikit pertanyaan tentang suasana kota Gotham yang kurang ter-capture sebagai kota yang kelam dan juga apakah timeline ceritanya sudah muncul Batman atau belum.

Clayface overall menyeramkan, tragis, plus bikin ngilu. Experience menontonnya yang seru dengan ceritanya yang tidak membosankan.

Clayface tayang di bioskop Indonesia mulai hari Rabu, 21 Oktober 2026. Buat yang menanyakan apakah ada mid-credit atau after credit scene jawabannya adalah tidak ada, buat yang kalian yang buru-buru untuk keluar bisa langsung meninggalkan studio bioskop.

 

Share