Sebuah sekuel yang menggunakan formula film sebelumnya itu sebetulnya lumrah. Apalagi film horor. Tapi yang membuatnya istimewa adalah bagaimana filmmaker memanfaatkan kreativitasnya dalam menggunakan narasi berulang, ditambah dan dilengkapi dengan hal-hal lain, atau bahkan mendeformasi pengulangan tersebut supaya penonton tidak bosan. Ini yang terjadi pada film Smile 2 yang masih diarahkan oleh Parker Finn. Bagi penonton film pertamanya, barangkali sudah bisa menduga bagaimana teror ini berlanjut. Bagaimana entitas ini meneror mangsanya lewat hal yang buat banyak orang adalah ibadah: senyum. Betul. Memang formulanya masih sama. Tapi Smile 2 berhasil membentuk kembali teror yang berulang itu ke dalam wujud yang tidak kalah mengerikan.
Sebagai cerita yang menitikberatkan pada teror yang terjadi dalam kehidupan satu orang, tentu memilih pemain utama adalah tugas besar. Tugas ini berhasil dituntaskan oleh Naomi Scott yang akhirnya bisa menguras kemampuan aktingnya melalui film ini. Lewat penampilannya yang menunjukkan emosi berlapis-lapis, ia membangun sosok Skye Riley sebagai bentuk kritik terhadap dunia hiburan, tempat yang mendorong seseorang untuk memuaskan banyak pihak di luar batas kemampuannya. Entitas yang hadir menggerogoti mental Skye Riley adalah tekanan itu sendiri yang muncul dengan wujud baik sesaat melalui senyum, tapi sebetulnya menghancurkan perlahan.
Seperti di film sebelumnya, entitas yang merasuk ke siang dan malam Skye Riley juga berupa trauma dan rasa bersalah. Setelah energinya terkuras menghadapi tuntutan hidup sebagai bintang, trauma terhadap kecelakaan yang melukai fisik dan psikisnya membuat teror semakin kuat. Histeria yang dilontarkan oleh para fansnya bahkan terbawa hingga ke ruang pribadi. Sementara kesakitan yang ia rasakan saat sadar dari kecelakaan membawa ngilu sampai ke kursi-kursi penonton. Performa Naomi Scott yang menggabungkan berbagai ketakutan tergelap manusia membuat horor Smile 2 tidak hanya bertumpu pada jump scare, tapi juga bagaimana penonton bisa ikut terhisap dalam panik, cemas, takut, dan histeris.
Apalagi kerusakan yang dialami Skye Riley melibatkan elemen body horror, seperti ketidak sadarannya mencabut sejumput rambut yang tidak nyaman untuk disaksikan. Menariknya, ada momen-momen antara kejadian mengerikan dan respon yang dilakukan sang karakter yang bisa membuat kita turut diam dan menarik nafas.
Smile 2 juga menghadirkan adegan-adegan memorable yang bisa didiskusikan lebih lanjut setelahnya. Contohnya saat Skye Riley berada di tempat tinggalnya, teror sang entitas muncul dalam gerak-gerak ganjil. Pergerakan-pergerakan performatif itu dikoreografi dengan rapi, namun terlihat menakutkan, tidak lupa senyum-senyum mengerikan itu. Ini menjadi perumpamaan usaha entitas parasit untuk menguasai seutuhnya dan perjuangan Skye Riley untuk memberontak.
Dengan menjangkit seorang pop star sebagai mangsa, sang entitas memiliki kesempatan berkuasa lebih luas dan spektrum teror yang hadir akan semakin panjang. Dan tentunya, terbuka jalan untuk sekuel yang lebih besar.
Smile 2 tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, 16 Oktober.

Tinggal di Planet Bekasi!




