THE BATMAN (2022) – THE GREATEST DETECTIVE IN THE WORLD

The Batman akan menceritakan tahun-tahun awal Bruce Wayne ketika menjadi Batman. Bruce Wayne mencoba untuk mengungkap skandal korupsi di kota Gotham yang berkaitan dengan keluarganya.  Selain itu, Bruce juga akan menghadapi para villain seperti The Riddler (Paul Dano) dan The Penguin (Colin Farrell). Dijajaran pemeran top lainnya juga ada Andy Serkis yang berperan sebagai Alfred, pelayan setia Batman, lalu ada Peter SarsgaardJohn Turturro, dan Jeffrey Wright turut melengkapi jajaran pemeran di film ini.

Premis yang mengingatkan pada komik Batman: The Long Halloween, walau Batman: Year Two juga memberi pengaruh besar terhadap naskah buatan Reeves dan Peter Craig. 

The Batman dibintangi oleh Robert Pattinson sebagai Batman, Zoe Kravitz sebagai Selina Kyle atau Cat Woman, Film ini disutradarai oleh Matt Reeves yang lebih dulu sukses dengan Cloverfield (2008) dan Planet of The Apes (2014). 

Batman (Robert Pattinson) di tahun keduanya beraksi sebagai penjaga Gotham dari pelaku kriminal, harus memecahkan teka-teki yang disematkan The Riddler di tiap korban pembunuhannya. Dibantu Alfred (Andy Serkis) sangpelayan, penyelidikan Batman beririsan dengan sosok Selina (Zoe Kravitz) yang dekat dengan wanita simpanan walikota. Dibantu Selina yang memiliki skill mencuri ala cat burglar, Batman pun menemukan kenyataan pahit dari apa sebenarnya yang tersimpan di balik para elit kota Gotham. Sebuah kejahatan terstruktur yang berusaha dibongkar oleh The Riddler. Tugas Batman pun semakin pelik, menangkap Riddler sekaligus para tikus berdasi beserta dalangnya.  

Tapi lawan Batman kali ini berbeda. Terjadi rentetan pembunuhan, dengan jajaran pemangku jabatan Gotham menjadi korban. Pelakunya, The Riddler (Paul Dano), meninggalkan surat berisi teka-teki untuk Batman di tiap lokasi kejahatan. Alih-alih takut, The Riddler seolah justru menantang sang vigilante. 

Pendekatan berbeda yang digalang oleh Matt Reeves ini mengubah drastis adaptasi Batman yang baru saja kita tonton lewat saga Justice League yang diperankan Ben Affleck. Beraksi solo tanpa member Justice League lain, dan konon merupakan semesta yang berbeda pula. Batman versi mutakhir ini lebih menggunakan pendekatan realistis dan logis.

Tidak ada lagi alat-alat super canggih, baik itu untuk penyelidikian, pertarungan maupun kendaraan operasional. Kini Batman melakukan tugasnya dengan alat seadanya, paling hanya lensa kontak yang mampu memancarkan gambar ke monitor dan merekam video saja yang menjadi alat tercanggihnya. Otak, kemampuan kamuflase dan skill bertarung Batman adalah alat tercanggih yang ia punya.

Gelaran aksi tidak dominan apabila berkaca ke durasi 176 menitnya, pun eksekusinya sedikit meninggalkan ganjalan. Demi mereplikasi komiknya, Reeves memposisikan mayoritas baku hantam di bawah pencahayaan luar biasa minim, sedangkan satu-satunya car chase didominasi oleh close up agar tampil atmosferik. Teknik-teknik tersebut menyulitkan penonton menikmati aksi secara utuh, tapi setidaknya itu terjadi bukan karena ketidakmampuan. Semua soal pilihan. Reeves mempunyai visi, walau tak seluruhnya diterjemahkan dengan sempurna.  

Ketimbang blockbuster menghibur, visi sang sutradara adalah membangun dunia sarat teror. Gotham merupakan kota yang dirundung ketakutan. Polisi serta pejabat korup takut akan penghakiman The Riddler. Penjahat takut akan pembalasan sang Manusia Kelelawar. Rakyat sipil takut bakal menjadi collateral damage. Batman? Ketakutannya mengambil bentuk pergolakan batin. 

The Riddler ibarat representasi ketakutan protagonis. The Batman bermain-main dengan gagasan bahwa “Batman adalah simbol”. Bagaimana jika ia malah jadi simbol para penebar teror alih-alih rakyat yang tak berdaya? Sayang, eksplorasi psikis naskahnya masih berada di area permukaan. Akibatnya, durasi hampir tiga jam terkesan kurang dimaksimalkan, sehingga kala memasuki paruh akhir, The Batman seperti pelari marathon yang mulai kehabisan tenaga. 

Di sini Pattinson berperan besar menyampaikan konflik internal Batman. Layaknya aktor hebat yang menyelami seluk-beluk peran secara mandiri, Pattinson mampu menerjemahkan penderitaan karakternya, saat naskah tertatih-tatih memaparkan itu pada penonton. 

Peran sinematografer Greg Fraser sangat vital pada adegan kejar-kejaran mobil tersebut dan sangat bertanggung jawab dalam shot-shot anti pose heroik dalam film ini. Set Gotham yang bobrok dan berantakan digambarkan dalam sebuah kota modern yang terlihat kumuh, plus pembangunan tidak merata dan insfrastruktur transportasi yang tidak terawat. Kombinasi sudut pengambilan gambar dan tata artistik sangat realistis menggambarkan kebobrokan kota Gotham.

Kelam, mencengangkan dan menakutkan. Cerita The Batman walaupun didominasi oleh hal-hal tersebut namun ada pesan yang ingin disampaikan yaitu hope atau sebuah harapan. 

The Batman tayang di bioskop mulai 2 Maret 2022, ada satu easter egg di penghujung credit scene. Kalian bisa sabar menunggu atau bisa langsung keluar dari studio.

Share