Setelah mengalami penundaan penayangan dari Juli 2020 akibat pandemi COVID, film Morbius akhirnya tayang di tahun 2022 ini. Morbius merupakan bagian SSU (Sony’s Spider-Man Universe) dimana karakter ini merupakan anti-hero, anti-hero digambarkan memiliki karakter yang menggunakan cara-cara menyimpang ketika melakukan perbuatan baik. Beberapa karakter anti-hero yang sudah diangkat ke layar lebar antara lain adalah Deadpool dan Venom.
Di awal peluncurannya, baik MCU maupun DCEU sama-sama tersendat. Tapi seburuk apa pun hasilnya, tujuan Marvel Studios dan Warner Bros selalu jelas. MCU ingin menghibur lewat tuturan ringan ditambah shared universe, sementara DCEU mulai bersinar lewat eksplorasi genre. Eksistensi dua pihak ini saling melengkapi. Lalu kemudian Sony menghadirkan SSU (Sony’s Spider-Man Universe).
Michael Morbius (Jared Leto) sejak kecil mengidap penyakit darah langka yang mengakibatkan dirinya lumpuh dan mengharuskan ia mendapat transfusi darah tiga kali sehari. Di sisi lain, ia ternyata dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata dan bertekad untuk menemukan obat penyembuh.
Dibantu Dr. Martine (Adria Arjona), Dr. Michael Morbius (Jared Leto) bereksperimen memadukan DNA manusia dan kelelawar, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit darah langka yang ia derita. Eksperimen yang sejatinya tak sesuai kode etik itu didanai oleh Milo (Matt Smith), sahabat Morbius yang mengidap penyakit serupa. Kita tahu akhirnya eksperimen itu berujung mengubah Morbius menjadi vampir haus darah.
Penokohan Morbius sejatinya agak menjauhi stereotip “ilmuwan gila pemakai segala cara”. Dia menyadari ketidaketisan risetnya, tapi tetap nekat demi orang lain. Motivasinya adalah sahabat dan para pasien, alih-alih mengatasnamakan kejayaan sains. Desain Morbius si vampir ini pun didukung kombinasi solid antara efek prostetik dan CGI. Di beberapa kesempatan, wajah Morbius berubah selama beberapa detik akibat kurang mampu mengontrol diri, dan hasilnya cukup meyakinkan.
Walau demikian, Morbius bukan protagonis yang perjalanannya menarik diikuti selama 104 menit (apalagi jika dikembangkan ke sekuel-sekuel serta lintas franchise). Leto tidak bermain buruk, hanya saja karakter Morbius ada di area serba tanggung. He was not fun nor engaging. Elemen terbaik film ini justru Matt Smith yang bersenang-senang dengan gaya over-the-top.
Sewaktu Milo turut bertransformasi, muncul potensi menampilkan drama persahabatan tragis, sayang, naskahnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mendapati nama Matt Sazama dan Burk Sharpless, yang sebelumnya menulis naskah untuk film-film seperti Dracula Untold (2014), The Last Witch Hunter (2015), dan Gods of Egypt (2016). Aroma “bad storytelling” sejatinya telah tercium sejak kekacauan sekuen pembuka, yang bahkan gagal menyusun timeline secara jelas.
Daniel Espinosa selaku sutradara berusaha menyuntikkan sedikit gaya melalui pemakaian gerak lambat, tapi ketika pondasi adegan aksinya sendiri sudah nihil kreativitas, tidak banyak yang bisa dilakukan. Cerita dan aksinya sama saja. Tanpa dinamika, tanpa hati, tanpa intensitas, tanpa kreativitas. Tidak heran babak puncaknya tampil antiklimaks.
Sony sepertinya kurang kreatif dalam cara menjual film ini selain mendompleng kesuksesan trilogi Spider-Man MCU, seperti halnya ketidaktahuan mereka tentang pendekatan yang pas bagi Morbius (dan keseluruhan franchise-nya).
Morbius merupakan karakter anti-hero dari Marvel Comics yang memiliki kemampuan unik layaknya makhluk pengisap darah. Pengenalan karakter Michael Morbius nya diceritakan dengan jalan cerita yang menarik, disertai efek visual transformasi yang menawan. Pertarungan akhirnya walaupun antiklimaks masih cukup seru dan menarik untuk dinikmati.
Dua after credit scene-nya, akan semakin membuat para penonton penasaran dengan dunia multiverse yang akan dihadirkan oleh Marvel.
Morbius tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2022!




