Berbicara soal pengungsi, baik itu korban bencana alam, korban kekejaman perang maupun korban penjajahan selalu menjadi masalah pelik di dunia. Termasuk para penduduk Aleppo, Suriah yang menjadi korban serangan bom dari pesawat-pesawat jet yang menyerang pada tahun 2015 lalu.
Kini kisah korban pengungsian yang mencoba menyelamatkan diri dan keluarga digambarkan dalam sebuah film dengan lima sudut pandang karakter yang asing dalam film I Was A Stranger karya Brandt Andersen bersama Angel Studios, rumah produksi yang acapkali membuat film bertema kemanusiaan.
SINOPSIS
Lima karakter, berbeda profesi, satu tujuan. Hidup aman, nyaman, tenteram bersama keluarga tercinta. Amira, seorang dokter di rumah sakit kota Aleppo, mencoba mencari hidup nyaman untuknya dan putrinya Rasha. Mustafa, tentara yang berada dalam kebimbangan. Marwan, penyelundup para pengungsi yang hidup di dunia kriminal, hanya mengenal hitam dan putih. Fathi, penyair yang ingin istri dan ketiga anaknya hidup layak di negara damai, serta Nikolas, kapten kapal patroli Yunani, yang hidup dalam kungkungan penyesalan karena tak bisa menyelamatkan seluruh pengungsi. Cerita mereka bertautan dalam sebuah usaha memperjuangkan nyawa.
WE ARE ALL STRANGERS, BUT THEY ARE THE STRANGEST!
Sendu, kelam dan pilu adalah kesan awal menyaksikan film yang dibuka dengan kondisi di tengah medan perang Aleppo, Suriah. Darah dan luka para korban perang dan proses eksekusi para pengkhianat sukses memberi gambaran betapa mengerikannya hidup di Aleppo pada periode tahun 2015 lalu di mata seorang dokter Amira, korban ledakan bom di rumahnya.
Cerita berlanjut pada sudut pandang tentara yang menangkapi para pengkhianat dan pembelot pemerintah sah Suriah. Dualisme dalam pikiran seorang tentara yang memilik orang tua pemberontak digambarkan lewat sosok Mustafa yang tak bisa memihak.
Kisah Marwan, sang penyelundup membagikan cerita soal kriminal yang melihat celah kesempatan, mencoba meraup keuntungan sebanyak mungkin dengan menjual jasa penyebrangan ilegal ke Yunani dari kamp pengungsian di Turki. Dingin, tak punya nurani dan tanpa kompromi adalah syarat utama kesuksesan usahanya menurut Marwan. Tapi harta membutakan, kawan pun jadi lawan!
Lewat Fathi dan keluarganya kita diajak melihat intensitas dan pengorbanan mereka demi mencapai kapal Marwan yang akan membawa mereka ke benua pengharapan, Eropa via Yunani. Stavros, seorang kapten kapal patroli laut Yunani pun terlibat, dalam kondisi depresi ia harus berpatroli dalam kekhawatiran, berapa orang yang mampu ia selamatkan? Berapa yang mati tenggelam lagi?
Dengan lihai sutradara Brandt Andersen merangkai lima kisah karakter orang asing yang tidak saling mengenal dalam sebuah pertautan usaha para pengungsi menyebrang ke Eropa. Dilengkapi production design apik, tata suara menggelegar, musik yang mencekam dan kualitas aktor timur tengah yang di atas rata-rata membuat I Was A Stranger jadi sebuah film yang berkualitas meski dengan bujet produksi yang tidak seberapa.
Reruntuhan Aleppo digambarkan penuh reruntuhan, hancur dan luluh lantak, membuat suasana perang tanpa pengharapan terlihat sangat nyata. Kualitas akting pun mengimbangi dengan performa menawan para aktor utama yang kurang dikenal di Hollywood, namun dipilih secara tepat oleh sutradara dan produsernya.
Yasmine Al-Massri, Yahya Mahayni, Zaid Bakri serta Omar Sy (serial Lupin, Intouchables) tampil penuh ketegaran dan kerapuhan di saat bersamaan saat usaha mereka menyebrang ke Yunani terhalang tentara menghadang, penyelundup tak punya nurani dan ancaman badai besar di tengah laut yang mematikan.
Intensitas tinggi dan tone kelam film I Was A Stranger juga dibarengi dengan penggunaan tata musik mencekam yang mengiringi berbagai adegan dramatis buah karya komposer Nick Chuba dengan supervisi oleh Atticus Ross, pentolan band Nine Inch Nails yang kerap membuat music theme untuk film-film besar seperti The Social Network, Challengers atau Tron: Ares.
YAY OR NAY?
YAY. Angel Studios dengan konsistensinya memproduksi film bertema kemanusiaan kembali dengan I Was A Stranger yang intens, mencekam dan memilukan, menyadarkan kita bahwa di luar sana masih banyak manusia yang hidup dalam cengkraman perang tak berkesudahan. Dari kesadaran akan muncul banyak tindakan, hingga nanti tak ada lagi para pengungsi. Sebuah pesan penting yang berusaha disampaikan lewat film ini.
I Was A Stranger tayang mulai hari ini di bioskop Indonesia.



