AMBULANCE (2022) – FILM “ROLLER COASTER” TERBARU DARI MICHAEL BAY

Dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Yahya Abdul-Mateen II dan Eiza GonzalezAmbulance tayang di Indonesia tiga minggu lebih awal dibanding bioskop Amerika Serikat yang baru akan tayang awal April nanti. Selain Indonesia, negara Mesir dan Filipina juga mendapatkan kesempatan untuk menayangkan duluan film Ambulance.

Michael Bay sejatinya selalu dekat dengan ledakan. Tidak keliru, walau anggapan itu kerap jadi simplifikasi atas kemampuan sang sutradara. Penceritaan yang terkadang kacau, humor yang buruk, tapi satu yang orang-orang lupa (atau tidak mau tahu), Bay jago membuat sebuah film tampak lebih mahal dari aslinya. Berikan seri Transformers ke sineas lain, dengan naskah serta budget sama persis, kemungkinan besar hasilnya bakal generik. 

Ambulance pun sama. Remake film Denmark tahun 2005 berjudul sama ini, tidak sekalipun terlihat generik. Sebab dalam situasi biasa atau normal pun Bay selalu coba melahirkan money shot, meski kali ini, beberapa pilihan gaya sang sutradara yang bertujuan agar filmnya makin megah, cukup sering memberi gangguan. 

Sekitar 20-30 menit awal Ambulance merupakan prolog. Proses persiapan panggung utama berupa extended car chase selama kurang lebih dua jam. William (Yahya Abdul-Mateen II), seorang veteran perang, membutuhkan uang bagi operasi sang istri, yang memaksanya kembali berurusan dengan Danny (Jake Gyllenhaal), si saudara angkat. Tiada pilihan lain baginya selain mengikuti rencana Danny untuk merampok bank.

Perampokan berujung kacau tatkala aparat di bawah pimpinan Kapten Monroe (Garret Dillahunt) menyerbu. Satu-satunya jalan keluar adalah mencuri ambulans sambil menjadikan polisi yang terluka dan Cam (Eiza Gonzales), seorang teknisi medis, sebagai sandera. 

Di setiap shot mahal (dibantu Roberto De Angelis selaku sinematografer, orang berjalan atau mengambil barang pun dibuat megah), terselip juga lelucon-lelucon hambar yang menegaskan kurang piawainya Bay menangani timing komedi. Ketika salah satu karakter membahas soal The Rock (1996), rasanya seperti mendengar individu dengan kemampuan sosial rendah sedang berusaha keras melucu, tanpa memahami situasi serta selera humor teman-temannya. Canggung, tidak nyaman.

Setidaknya performa jajaran pemain lebih menyenangkan untuk disimak dibanding humornya. Yahya Abdul-Mateen II memiliki aura simpatik yang memudahkan kita memahami, saat stockholm syndrome terjalin antara beberapa karakter dengannya. Sementara Gyllenhaal tampil menghibur, over-the-top sesuai kebutuhan, walau unsur penokohan yang menyebut Danny sebagai “ekspertis metode penyelidikan FBI” tak pernah benar-benar meyakinkan. 

Itulah yang filmnya butuhkan. Kapasitas Bay menggeber aksi bombastis sama sekali tidak berkurang, namun sebagai tontonan 136 menit, Ambulance perlu tambahan adu taktik, intrik yang memperkaya kejar-kejaran tanpa hentinya. Terbukti, momen-momen seperti “operasi darurat” dan “strategi tipu daya militer” memberi variasi menyegarkan.

Intinya, Ambulance punya semua hal yang disukai pecinta Bay, sekaligus dibenci pengkritiknya. Tapi seperti telah disebutkan, beberapa pilihan gaya Bay berisiko mengganggu kenikmatan, bahkan bagi mereka yang sebatas mencari hiburan, yang berkontradiksi dengan tujuan filmnya. 

Menonton Ambulance memang bak menunggangi roller coaster yang ekstrim. Karena pergerakan kamera yang cepat dan liar serta penggunaan pengambilan gambar dengan drone yang bisa dibilang berlebihan mungkin akan membuat kalian merasa pusing ataupun mual ketika menonton. Tapi itu semua merupakan Cinematic Experience dan Michael Bay bisa dibilang berhasil melakukannya di film Ambulance, tensi yang tinggi dan permainan emosi dari para karakter yang mengundang rasa simpatik sudah cukup untuk memuaskan penonton.

Film Ambulance tayang mulai 16 Maret 2022, bagi penggemar action film ini wajib banget buat kalian tonton di bioskop!

Share