ARKIPEL JAKARTA INTERNATIONAL DOCUMENTARY AND EXPERIMENTAL FILM FESTIVAL KE-13 THE DAMNED OF THE EARTH

Forum Lenteng kembali menyelenggarakan ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival untuk edisi ke-13 dengan mengangkat tema The Damned of the Earth. Berlangsung pada 3–13 September 2026, ARKIPEL tahun ini menghadirkan rangkaian pemutaran film, pameran video Piled Images – Tumpukan Citra,  serta  Simposium  Forum  Festival  yang  mempertemukan  sineas,  seniman,  akademisi, kurator, peneliti, jurnalis, dan komunitas lintas disiplin.

Tema The Damned of the Earth terinspirasi dari buku Frantz Fanon, The Wretched of the Earth (1961). Melalui tema ini, ARKIPEL membaca kembali gagasan  Fanon untuk melihat berbagai bentuk penyingkiran dan kekerasan yang masih berlangsung dalam tatanan geopolitik kontemporer. Istilah the damned tidak hanya merujuk kepada masyarakat yang hidup di bawah kolonialisme,  tetapi  juga  mereka  yang  berada  di  luar  pusat  kekuasaan:  masyarakat  yang kehilangan tanah, pengungsi, pekerja yang dieksploitasi, komunitas yang mengalami kekerasan, masyarakat adat yang berhadapan dengan ekstraktivisme, hingga kelompok yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana dirinya direpresentasikan.

Dari persoalan tersebut, ARKIPEL mengajukan pertanyaan tentang siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan sejarah, kebenaran, dan pengetahuan. Sinema dokumenter dan eksperimental menjadi penting karena kamera tidak pernah sepenuhnya netral. Selalu terdapat pertanyaan  tentang  siapa  yang  memegang  kamera,  siapa  yang  menjadi  subjek,  siapa  yang berbicara, dan kepada siapa gambar ditujukan. Bagi ARKIPEL, dekolonisasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan kelompok yang sebelumnya tidak terlihat di layar, tetapi juga perlu mempertanyakan struktur representasi itu sendiri.

Selama lebih dari satu dekade, ARKIPEL telah menjadi ruang untuk membaca persoalan sosial-politik kontemporer melalui sinema dokumenter dan eksperimental. Dalam kerja Forum Lenteng, sinema tidak ditempatkan semata sebagai produk budaya, tetapi sebagai praktik pengetahuan—sebuah   cara   untuk   membaca   realitas   sekaligus   membangun   kemampuan masyarakat dalam memproduksi narasinya sendiri. Festival kemudian menjadi semacam laboratorium untuk mempertanyakan apa yang terlihat dan tidak terlihat, siapa yang memiliki suara, siapa yang menulis sejarah, dan siapa yang memiliki hak untuk mendefinisikan masa depan.

Pemutaran Film dan Program Kuratorial

Program pemutaran film ARKIPEL ke-13 berlangsung di Forum Lenteng, Jakarta. Tahun ini, kompetisi internasional menerima lebih dari 1.000 film dari 100 negara, dengan 83 film di antaranya berasal dari Indonesia. Karya-karya yang diseleksi memperlihatkan beragam upaya sineas dalam menyigi konflik geopolitik, perkembangan teknologi medium sinema, serta ekspresi vernakular masyarakat di berbagai lokasi.

Program kuratorial tahun ini membaca The Damned of the Earth melalui keragaman epistemik di berbagai lokasi, antara lain Lebak, Beirut, Blora, dan India. Program-program tersebut menelusuri mitologi, negosiasi sosial, keanekaragaman hayati, dan bencana melalui bahasa sinema.

ARKIPEL juga menghadirkan dialog antara sinema Djibril Diop Mambéty, sineas Senegal yang dikenal dengan sikap non-kompromis dalam sinemanya, dan The Otolith Group, yang berada di garis depan praktik riset artistik mengenai warisan gerakan dekolonisasi global.

Piled Images – Tumpukan Citra

Selaras dengan ARKIPEL sebagai platform eksperimentasi bahasa audiovisual, edisi ke-13 turut menghadirkan Pameran Piled Images – Tumpukan Citra yang dipresentasikan oleh Video Art Forum (VAF) di Forum Lenteng.

Video Art Forum merupakan platform penelitian dan pengorganisasian video dan seni media di Indonesia yang digagas di Forum Lenteng. Pameran ini menampilkan karya-karya video yang diproduksi melalui proses inkubasi dan eksperimentasi artistik selama enam bulan terakhir. Melalui karya-karya tersebut, VAF memeriksa, menguji, sekaligus mengkritisi teknologi video hari ini dan keterlekatan kultur layar sebagai kanal arus citra dan informasi. Layar dipandang sebagai  zona  perebutan  kognisi,  informasi,  dan  tubuh-tubuh  politis  masyarakat  abad  ke-21. Pameran  ini  sekaligus  membuka percakapan  mengenai  perkembangan  wacana  seni  video  di Indonesia dan dunia dalam satu dekade terakhir.

Simposium Forum Festival

Simposium   Forum   Festival   akan   berlangsung   di   Auditorium   Pusat   Studi   Jepang, Universitas Indonesia. Dalam format diskusi panel, Forum Festival membedah struktur pemikiran The Wretched of the Earth dengan melibatkan pemikir, praktisi, dan komunitas dari berbagai disiplin ilmu dan medium seni.

Selain sineas, Forum Festival melibatkan  antropolog, sosiolog, kurator, jurnalis, pegiat sastra, seniman, dan edukator untuk memperkaya pembahasan mengenai nekropolitik serta berbagai siasat warga dalam menawarkan cara pandang dan kemungkinan jalan keluar melalui teknologi media.

 

Share