Salah satu hal yang paling ikonik dari film Mendadak Dangdut yang rilis tahun 2006 adalah munculnya lagu “Jablai” yang membawa kita berdendang dangdut walau kadang gengsi dan bilang, najis loh! Tapi tetap saja, jari-jari dan mulut tergoda untuk melanjutkan lirik dan nadanya. Lantas bagaimana dengan Mendadak Dangdut versi terbaru?
Selain menulis naskahnya, kali ini Monty Tiwa juga mengemban tugas sebagai sutradara. Karakter utamanya pun tidak terjebak di dalam kasus kriminal yang sama. Mendadak Dangdut 2025 memiliki lapisan konflik yang dibuat lebih kompleks. Naya (Anya Geraldine) berusaha untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dalam kasus pembunuhan. Ia pun pergi ke sebuah desa nelayan dimana orang tuanya dulu tinggal, demi membuat Ayahnya ingat apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus itu.
Disini, hubungan Naya dan Ayahnya yang retak makin diuji. Kerentanan hubungan keluarga juga dihadapi oleh Wawan (Keanu AGL) yang merasa tidak berkembang di bawah grup dangdut Ayahnya. Sementara Tata (Wika Salim) harus mampu bertahan di dunia hiburan dangdut yang penuh persaingan demi anaknya. Semua konflik yang berdesakan ini dilantunkan dengan nuansa komedi yang sangat lucu. Apalagi dialog antara Anya Geraldine, Keanu, Opie Kumis, Fajar Nugra juga terdengar luwes seolah tanpa naskah. Adegan dangdut yang merasuk ke dalam jiwa dibuat serupa kesurupan itu asoy banget. Bagian-bagian yang jenaka ini menutupi porsi drama dan adegan kriminal yang tidak maksimal.
Bagaimana dengan Jablai? Adegan lantunan lagu ini memang tidak se-ikonik film terdahulunya. Tapi kita disadarkan betapa relevannya lagu Mars Pembantu dari dulu hingga sekarang. Kalau Jablai lebih mengarah pada persoalan personal, lagu Mars Pembantu bisa menyentuh permasalahan komunal. Perhatikan deh penggalan liriknya:
Kata orang, di atas bumi
Kita semua sama
Kata orang, di mata Tuhan
Tidak ada miskin dan kaya
Katanya, katanya
Potongan lirik di pembuka lagu ini menggugat apa yang diajarkan oleh agama pada manusia, juga sistem di dalam negara yang didasari oleh Pancasila. Ada apa ini? Kenapa kesenjangan semakin menganga? Kita semua tahu jawabannya. Tapi kita bisa berbuat apa?
Kalau memang benar begitu
Kenapa nasibku jadi babu?
Kerja apa pun ku tak malu
Tapi hidup kok nggak maju-maju?
Penggalan lirik ini mengingatkan penulis pada berita yang mengatakan sulitnya mencari pekerjaan saat ini, termasuk orang-orang dengan ijazah pendidikan tinggi. Akibatnya, lowongan dengan posisi apapun jadi rebutan. Mana janji pembukaan lapangan kerja itu?
Meski banyak padi di sawah
Hatiku selalu resah
Meski telah ganti pemerintah
Hidupku selalu susah
Presiden boleh berganti berkali-kali. Kebijakan dan undang-undang yang berubah pun malah bikin resah. Banyak padi di sawah kadang tidak sesuai dengan modal tanam petani karena harga beras murah.
Oh, nasib
Pembantu
Selalu
Disuruh-suruh
Ya…kalau dipikir-pikir kita semua adalah pembantu alias babu, baik yang kerjanya beberes rumah, maupun posisi paling tinggi di pemerintah. Kita selalu disuruh-suruh.
Ketika lagu ini dibawakan di panggung Mendadak Dangdut, warga yang hidup di desa tersebut bergoyang khidmat, berusaha melupakan berbagai kesusahan dalam kehidupan.
Film Mendadak Dangdut tayang di bioskop mulai Rabu, 30 April 2025.

Tinggal di Planet Bekasi!




