MONKEY MAN (2024) – WAJAH PERLAWANAN DARI KAUM MARJINAL

Ditinjau dari permukaan, Monkey Man yang menandai debut penyutradaraan Dev Patel (juga menulis naskah bersama Paul Angunawela dan John Collee) hanyalah satu dari sekian banyak “kloning” John Wick yang bertebaran dalam satu dekade terakhir. Sampai kita menyelami filmnya lebih dalam, kemudian menyadari bagaimana Patel memberi pembeda lewat sentuhan personal berbasis aspek kultural yang mampu menghadirkan dampak emosional.

Melakukan pengambilan gambar di Batam (itu sebabnya di sebuah shot nampak bangunan minimarket yang familiar), Monkey Man berkisah tentang pria tanpa nama (Dev Patel), yang dirujuk sebagai “Kid” di kredit filmnya. Kid kerap bertarung di arena tinju bawah tanah milik Tiger (Sharlto Copley) dengan mengenakan topeng monyet. Dia dibayar untuk kalah, membiarkan petarung lain memukulinya hingga babak belur.

Kid hanya punya satu tujuan dalam hidupnya, yakni membalas dendam kepada Baba Shakti (Makarand Deshpande), pemuka agama yang terjun ke dunia politik, dan anak buahnya, Rana Singh (Sikandar Kher), seorang polisi korup. Keduanya menjual agama demi kepentingan politis serta kekayaan pribadi, bahkan tidak ragu merenggut nyawa rakyat jelata, termasuk ibu Kid.

Estetika Monkey Man jelas berkiblat ke John Wick. Beberapa adegan aksi berlatar ruang gelap berhiaskan lampu neon, sedangkan Kid nantinya bakal menghajar para musuh sembari mengenakan setelan jas rapi. Tapi sekali lagi, Patel tidak berniat melahirkan kopian semata. Dia ingin “bersuara”. Alhasil, paruh pertamanya lebih berfokus pada penceritaan ketimbang baku hantam.

Prosesnya tidak selalu mulus. Layaknya individu yang baru belajar berjalan, filmnya sempat tertatih-tatih di awal tatkala absennya aksi tak mampu ditambal oleh cerita yang belum seberapa menarik. Terasa melelahkan, walaupun Patel coba menutupi kelemahan tersebut melalui berbagai trik pengadeganan stylish, pula teknik penyuntingan bertempo cepat yang dinamis.

Titik baliknya adalah sebuah montase latihan yang menjauh dari templat generik. Di situ Kid mempelajari banyak hal. Bukan cuma kekuatan fisik, ia pun menemukan “ritmenya”, juga jati diri yang mengakar kuat pada aspek kultural. Tentang Hanuman yang menolak jatuh demi menggulingkan para dewa, tentang Siwa yang membawa kehancuran guna memberi ruang bertumbuh bagi kehidupan baru.

Patel menyusun montase itu bukan cuma untuk mengisi durasi atau memenuhi obligasi. Dia menjadikannya sebagai narasi kecil yang indah, lalu menggiringnya menuju titik puncak menggugah yang menyulut kebencian penonton terhadap politisasi agama, kekerasan polisi, dan praktik-praktik busuk lain yang dipakai para penguasa untuk mempertebal dompet mereka.

Sejak montase tersebut, tidak hanya sang protagonis, filmnya pun bertransformasi, dari kloning John Wick yang digarap secara layak, menjadi suguhan spesial yang mampu berdiri sendiri. Aksinya brutal (sebuah aturan tak tertulis bila ingin mengikuti jejak si Baba Yaga), dihiasi tata kamera yang bak secara tegas menolak stagnasi, juga iringan musik kreatif nan variatif yang membentang dari distorsi metal hingga petikan akustik syahdu.

Monkey Man merupakan wajah perlawanan dari kaum marginal, termasuk para Hijra (transgender) yang membentuk komunitas di sebuah kuil. Di satu titik Kid membunuh musuhnya menggunakan sepatu hak tinggi, sementara di kesempatan lain kita menyaksikan sari yang berayun dalam gerak lambat di tengah pertumpahan darah. Tatkala tontonan serupa cenderung memuja maskulinitas belaka, Patel melukiskan warna yang berbeda.

Share