TJOET NJA’ DHIEN – KISAH PERUANGAN FILM INDONESIA

Ada beberapa buku yang bercerita tentang perjuangan Cut Nyak Dhien, salah satunya ditulis oleh seorang penulis perempuan asal Belanda yang pernah tinggal di Aceh bernama Magdalena Hermina Székely-Lulofs. Sebuah buku yang tidak hanya bercerita tentang perjuangan seorang pahlawan perempuan, tapi juga menggambarkan hal-hal di sekitarnya.

Begitupun dengan “Tjoet Nja’ Dhien”, salah satu film yang paling epik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, satu-satunya film yang disutradarai oleh Eros Djarot (sementara Kantata Takwa bersama Gotot Prakosa), pencapaian peran yang sangat tinggi dari Christine Hakim, Pietrajaya Burnama dan Slamet Rahardjo, serta iringan musik yang ikonik dari Idris Sardi. Film ini semakin istimewa karena menjadi film pertama Indonesia yang diputar di Festival de Cannes dan mendapat berbagai penghargaan internasional lainnya. “Tjoet Nja’ Dhien” tidak seperti film perjuangan rakyat Indonesia lainnya yang kita temui pada masa itu, yang dengan lugas menunjukkan sisi hitam dan putih. Ia memasuki ranah yang kadang terbilang sulit untuk dieksplorasi, yakni konflik antar manusia dengan dirinya sendiri.

Di awal film, penonton disuguhi pertempuran yang begitu gagah antara para pejuang dengan para penjajah. Tapi selanjutnya, “Tjoet Nja’ Dhien” berbicara banyak hal, seperti peran perempuan, keluarga, kesetiaan, pengkhianatan, bahkan perdagangan dan konflik sesama Orang Belanda sendiri. Walaupun konflik antar tentara Belanda itu tidak sedalam eksplorasi Teguh Karya dalam film “November 1828”, tapi toh penggambarannya dalam “Tjoet Nja’ Dhien” tetap mampu memberikan kita kisah yang lain dalam film perjuangan. Keistimewaan lainnya dalam film ini adalah orang-orang Aceh yang tetap menggunakan bahasa Aceh dan orang-orang Belanda yang tetap menggunakan bahasa Belanda. Tidak ada diantara mereka yang dipaksakan menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD. Hal ini menambah kesan nyata terhadap film ini.

Walaupun versi restorasi ini bukanlah dari durasi asli film yang sepanjang dua jam setengah, tapi menonton kembali “Tjoet Nja’ Dhien” dengan kualitas yang lebih cerah di layar bioskop merupakan kemewahan tersendiri dan kesempatan yang sangat langka. Sangat sayang dilewatkan terutama bagi muda-mudi yang sedang membara. “Tjoet Nja’ Dhien” seperti kisah perjuangan film Indonesia itu sendiri, baik perjuangan para sineasnya dalam merampungkan film ini, hingga perjuangan dalam menjaga keutuhannya dari masa ke masa. Semoga ke depan semakin banyak film Indonesia yang dapat kesempatan untuk direstorasi, terutama film-film yang dirilis sebelum tahun 1980-an. Namun selagi menunggu kesempatan tersebut, semoga pemerintah kita tidak lagi kecolongan dalam menyelamatkan gulungan-gulungan film Indonesia yang bertarung dengan asam dan karat di gudang.