THE EAST (2020) – PEMBANTAIAN DAN TRAUMA PERANG

Perilisan film The East (De Oost) di Belanda baru-baru ini menimbulkan kontroversi di negara asalnya. Film yang diarahkan oleh Jim Taihuttu, seorang sutradara yang memiliki darah Maluku ini berani menceritakan pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan yang terjadi pada akhir 1946 hingga awal 1947 sebagai upaya Belanda mendirikan Negara Indonesia Timur. Sejarah kelam tersebut adalah salah satu bagian yang disampaikan film ini, disamping konflik antar tentara, pengkhianatan dan trauma pasca perang.


Film ini secara silih berganti menceritakan dua kehidupan Johan de Vries, seorang tentara muda yang ditugaskan di Hindia. Satu kehidupannya semasa ia bertugas sebagai tentara, satu lagi setelah ia kembali ke Belanda. Di awal kedatangannya di Hindia, seperti tentara muda lainnya, ia terlihat bingung untuk beradaptasi. Apalagi ketika itu tidak banyak yang ia dan pasukannya lakukan: hanya berkeliling, bertanya pada warga, mengunjungi pasar, hiburan malam dan sebagainya. Tidak banyak ketegangan terjadi, hingga sekelompok yang mereka anggap pemberontak melakukan aksinya.


Adaptasi Johan di Hindia (yang sejak awal diperkenalkan sebagai “tentara yang baik”) dibantu oleh “de Turk”, julukan bagi Kapten Raymond Westerling. Johan sangat mengagumi de Turk. Ia pun berhasil menjadi orang kepercayaan de Turk dan diikutsertakan dalam berbagai misi. Belanda kemudian menjadikan Westerling sebagai pemimpin Depot Speciale Troepen (DST), sebuah pasukan khusus yang ditugaskan untuk memberantas perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan. Westerling dan DST pun mengunjungi kampung-kampung, mencari nama-nama, membakar rumah-rumah dan membantai orang-orang yang mereka anggap pemberontak tanpa basa-basi. Disinilah rasa kemanusiaan Johan diuji. Ia harus memilih antara mengikuti pembantaian tersebut atau menghentikan.


Dalam kehidupan Johan di Belanda, ia menjadi pendiam, sesekali mencoba berbaur dengan lingkungannya dan mencari pekerjaan. Raut mukanya seolah tidak tenang. Ada trauma panjang yang enggan lepas dari mimpi-mimpinya. Hingga suatu malam, ia memutuskan menghentikan trauma tersebut dengan penutup yang mengejutkan.

The East yang tayang di Mola TV mengingatkan kita masih ada orang-orang yang bisa mengangkat sejarah yang dianggap tabu oleh banyak pihak. Pasca kemerdekaan, Indonesia juga punya banyak cerita yang seolah terlarang untuk disampaikan. Kita tunggu siapa berikutnya yang berani menceritakannya secara gamblang.