PULAU PLASTIK (2021) – KOMBINASI AKTIVISME JALANAN, SENI DAN ILMU PENGETAHUAN

Di beberapa tempat belanja, karena telah diberlakukan larangan penggunaan plastik di daerah tertentu, mereka beralih dengan menyediakan plastik (yang katanya) ramah lingkungan. Salah satu bahan plastik ramah tersebut adalah singkong. Si penjual akan bersemangat menjelaskan kalau plastik tersebut segera larut jika terkena air. Lantas apakah betul demikian? Benarkah alternatif tersebut mengurangi dampak buruk plastik? Ini adalah salah satu isu yang diangkat di film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Visinema Pictures bekerjasama dengan Kopernik, Akarumput dan Watchdoc. Film ini disutradarai oleh Dandhy D. Laksono dan Rahung Nasution.

“Pulau Plastik” mengikuti aksi yang dilakukan oleh vokalis Navicula, Gede Robi yang tinggal di Bali, ahli biologi dan penjaga sungai, Prigi Arisandi, dan seorang pengacara muda yang sangat peduli akan lingkungan, Tiza Mafira. Robi selalu menggaungkan kecintaan pada lingkungan setiap kali ia manggung. Selain itu ia juga aktif melakukan berbagai aktivitas dalam hal pencegahan penggunaan plastik. Sama halnya dengan Prigi, di tengah kesibukannya meneliti dampak mikroplastik bagi tubuh manusia, ia juga menuntut agar Indonesia tidak mudah terperdaya untuk menerima sampah plastik dari luar negeri. Sementara Tiza mendedikasikan profesinya untuk melobi pejabat dan orang-orang yang berwenang demi pengurangan digunakannya plastik sekali pakai. Di samping ia juga ikut mengumpulkan sampah-sampah plastik di pulau-pulau sekitar Jakarta.

Robi, Prigi dan Tiza berencana untuk bertemu dalam sebuah pawai besar demi mengedukasi masyarakat agar berhenti menggunakan plastik sekali pakai. Tapi sebelum itu mereka mengalami perjalanan yang menunjukkan kita berbagai fakta mengerikan tentang plastik, baik bahayanya terhadap lingkungan, makanan hingga dampak buruk bagi manusia.

Dandhy D. Laksono mengatakan, film ini bukan hanya hasil kolaborasi antar pembuat film saja, tapi juga kombinasi antar aktivisme jalanan, seni dan ilmu pengetahuan. Ketiga hal ini memang kita bisa saksikan di “Pulau Plastik”, baik berupa aktivitas bersih lingkungan dan berbagai protes yang dilontarkan, pengujian sampel secara ilmiah hingga pembuatan media edukasi dengan berpedoman pada seni agar bisa diterima oleh warga. Kita patut mengapresiasi momen langka ini, yakni hadirnya film dokumenter ini di bioskop. Ke depan, semoga film ini tidak cuma bisa dinikmati oleh orang-orang kota besar yang sudah biasa menggunakan tote bag, tapi juga bisa ditonton dan mampu memberi pengertian bagi pedagang pasar tradisional, penjaga toko-toko kecil di pinggir jalan, penjual nasi uduk, hingga warga yang tinggal di gang-gang sempit, dimana plastik masih dianggap bukan perkara besar.