ALI & RATU-RATU QUEENS (2021) – SEKUMPULAN IMPIAN DI KOTA BESAR

Film dengan karakter-karakter yang tergabung dalam sebuah geng atau kelompok memiliki kekuatan tersendiri. Selain para karakter tersebut mempunyai latar belakang dan ciri khas masing-masing yang menarik untuk dieksplor, film tersebut juga berpeluang memiliki ensemble cast yang sama kuat. Para pemain yang berperan dengan keunggulan yang sama tentu memberikan nilai tambah bagi sebuah film. Para pemain pun dimudahkan untuk membangun chemistry satu sama lain.

Contoh yang paling populer tentu geng cewek di film “Ada Apa Dengan Cinta?” yang menampilkan geng siswi-siswi sekolah dengan permasalahan seputar remaja, baik dalam hal percintaan maupun keluarga. Lalu ada film “Red Cobex” yang berisi ibu-ibu tangguh dengan latar belakang suku berbeda: Ambon, Manado, Tegal, Madura dan Cina keturunan. Film lainnya yang berisi perempuan-perempuan adalah “Belahan Jiwa” dengan karakter-karakter yang beragam profesi: pelukis, desainer, arsitek dan psikolog. Dengan latar belakang permasalahan, suku dan profesi tersebut tentu membuat karakter semakin kuat. Satu hal yang menarik, film-film dengan ensemble cast perempuan tangguh biasanya ada sosok tokoh lelaki yang bisa saja menguatkan kelompok mereka atau malah memecahkan kebersamaan mereka. Seperti Rangga dalam “Apa Dengan Cinta?”, Yopie dalam “Red Cobex”, dan Pria dalam “Belahan Jiwa”.

Film “Ali & Ratu-Ratu Queens” yang baru saja dirilis di Netflix kurang lebih memiliki komposisi yang sama: geng perempuan dan satu lelaki yang memasuki kehidupan mereka. Cuma tentu saja konflik yang dimiliki mereka berbeda, walau tidak jauh dari masalah keluarga. Sejak kecil Ali (Iqbaal Ramadhan) ditinggalkan ibunya (Marissa Anita) yang memutuskan mengejar impiannya di New York. Beberapa tahun berlalu, sepeninggalan Ayahnya, Ali memutuskan untuk mencari ibunya disana. Walaupun dengan penolakan keluarga besar, ia pun tetap berangkat. Alih-alih langsung bertemu ibunya dan melepas rindu, ia malah terombang-ambing dan akhirnya tinggal bersama para perempuan mandiri di daerah Queens. Mereka adalah perempuan Indonesia dengan tingkah unik masing-masing, ada Party (Nirina Zubir), Ance (Tika Pangabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma).

Empat perempuan usia empat puluhan ini sebetulnya punya mimpi yang sama, yakni membuka restoran. Tapi mereka harus berusaha lagi untuk mengumpulkan uang sewa. Ali datang di saat yang tepat. Tapi lambat laun, hubungan mereka tidak hanya sekedar seorang anak muda yang sedang mencari ibunya dengan para tante yang ingin membantu (karena Ali menyewa kamar di apartemen mereka), melainkan hubungan keluarga yang lebih kuat daripada hubungan darah dan usaha untuk meraih sekumpulan impian di kota sebesar New York. Sementara Ali sendiri harus siap dengan apa yang ia alami dengan ibunya. “Ali & Ratu-Ratu Queens” menjadi film dengan ensemble cast yang sangat meyakinkan. Para aktor dan aktris bermain dengan saling melengkapi. Walaupun konflik terkesan lurus-lurus saja, tapi melihat interaksi mereka rasanya sudah cukup menutupi kekurangan tersebut. Ini adalah film panjang keempat yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi, film panjang ketiga produksi Palari Films, serta skenario kesekian yang ditulis oleh Gina S. Noer. Para filmmaker dengan filmografi yang membanggakan dan proyek-proyek ke depan yang patut dinantikan.