Bincang-Bincang dengan Tiga Sutradara Dunia di Mola Living Live

Dengan program Mola Living Live, Mola TV konsisten menghadirkan bintang tamu kelas dunia untuk berbincang-bincang secara intim perihal karir hingga pandangan-pandangan mereka tentang kehidupan. Para bintang tamu tersebut antara lain: Mike Tyson (atlet), aktris Sharon Stone, tiga sutradara legendaris, Luc Besson, Darren Aronofsky dan Spike Lee.

Selain bisa menonton mereka bercerita, kita juga bisa bertanya langsung lewat Whatsapp lho (nomor WA untuk bertanya diberikan ketika Mola Living Live disiarkan secara langsung). Supaya tidak ketinggalan segmen Mola Living Live secara langsung berikutnya, penonton bisa berlangganan Mola TV yang memiliki harga paket sangat terjangkau.

Mola TV menyediakan harga paket yang amat sangat terjangkau, dimulai dengan harga Rp. 12.500,- kita sudah bisa menonton film-film bermutu, serial TV, reality show, acara olahraga, bahkan teater. Pembayaran paket bisa melalui transfer bank, credit card dan bisa juga menggunakan OVO. Harga paket tersebut selain memberikan akses menonton lewat mobile phone juga bisa digunakan jika ingin menonton di web browser (Desktop & PC).

Dari beberapa kali menonton Mola Living Live dengan bintang tamu tiga sutradara dunia legendaris, yaitu Luc Besson, Darren Aronofsky dan Spike Lee, yang dipandu oleh tokoh-tokoh kenamaan dari Indonesia, kami mencatat hal-hal menarik tentang mereka sebagai berikut:

Luc Besson

Sutradara asal Perancis yang memiliki peran besar dalam Cinéma du look film movement ini telah terlibat dalam lebih dari 80 film selama 4 dekade karirnya, baik sebagai sutradara, penulis hingga produser. Dipandu oleh Mirwan Suwarso dan Rayya Makarim, ia bercerita kalau ia mulai menulis sejak usia 16 tahun. Sejak saat itu, ia telah menulis sebanyak 70 skenario. Luc Besson tidak pernah mengenyam sekolah perfilman. Ia sebetulnya sempat mendaftar, tapi karena sebuah pertanyaan, ia gagal masuk sekolah film tersebut. Ia ditanya tentang siapa sutradara favoritnya, ia menyebutkan beberapa sutradara populer Amerika. Harusnya ia menjawab dengan nama sutradara Perancis ketika itu, seperti Goddard atau Truffaut, tambahnya.

Lantas setelah itu ia memutuskan untuk tetap membuat film karena menurutnya hanya itu yang ia bisa. Film pertamanya ia buat ketika ia berumur 19 tahun bersama 4 temannya yang tidak punya pengalaman dalam perfilman sama sekali. Dan pada usia 20 tahun ia bisa membuat film dengan budget $500,000. Sejak saat itu, ia memiliki komitmen bahwa film merupakan media untuknya dalam menyatakan sesuatu.

Sejak awal, Luc selalu berusaha memiliki kendali atas film-filmnya. Suatu ketika seorang produser menginginkan ini itu pada filmnya yang ia rasa tidak cocok, ia pun menolak. Saat usianya 23 tahun, ia berselisih pendapat dengan produser. Ia pun tidak melanjutkan proyek tersebut, ia pulang dan ia mengaku menangis saat itu.

Untuk karya-karyanya, Luc mendapatkan inspirasi dari cerita-cerita kecil yang ia dapatkan sehari-hari untuk nantinya bisa digabungkan. Contohnya pada film “Lucy”, ide ceritanya ia dapatkan ketika ia diundang makan malam oleh seorang Walikota dan ia mengobrol dengan seorang gadis ilmuwan muda. Mereka mengobrol tentang sel kanker yang immortal selama 2 jam. Obrolan itu terjadi 10 tahun sebelum “Lucy” dibuat. Sementara premis film “Taken” terinspirasi dari berita di sebuah media, lalu ia dan Robert Mark Kamen menulis skenarionya selama 2 minggu.

Sarannya bagi para sineas Indonesia adalah: be yourself, kami ingin tahu cerita-cerita tentang Indonesia.

Darren Aronofsky

Obrolan dengan Darren Aronofsky dipandu oleh Rayya Makarim dan Timo Tjahjanto, dibuka dengan ketertarikan Darren pada banyak hal selain film, salah satunya pada sains. Ia pernah mengikuti sebuah program di The School for Field Studies dimana ia ditempatkan di Kenya untuk mempelajari Ungulates. Di Harvard University pun jurusan yang ia pilih adalah Social Anthropology. Kecintaannya pada alam membuatnya sangat cinta dengan kegiatan yang bersifat outdoor, seperti hiking dan mendaki gunung.

Kecintaannya pada film dimulai ketika ia memiliki sahabat yang berkutat dengan animasi, ditambah kesukaannya pada hal-hal detil. Lalu ia pun ikut berbagai kelas seni, dari kelas melukis hingga film. Selama karirnya sebagai penulis dan sutradara, ia berkarya dalam beragam genre. Hal itu tergantung pada isi cerita film itu sendiri, katanya. Ia mengaku selalu menjadi orang yang berada in between genre, oleh karena itu terkadang karyanya sulit sampai pada penonton. Seperti “The Black Swan” yang baginya sendiri adalah film horor, tapi dicampur dengan unsur psikologi, dance, dan sebagainya. Masalahnya terkadang penyuka horror tidak suka ballet, pun sebaliknya, pecinta ballet belum tentu menyukai film horor. Sementara “The Wrestler” baginya adalah sebuah sport film, tapi film ini tidak masuk nominasi sebuah festival film yang fokus pada dunia olahraga. Karena menurut mereka, gulat bukanlah jenis olahraga. Membuat kedua film tersebut adalah obsesinya sejak lama. Menurutnya, kedua film ini melibatkan atlet yang tubuhnya dihancurkan oleh seni mereka. ballet sendiri dianggap seni tinggi oleh banyak orang, sementara wrestling dianggap seni rendahan.

Darren Aronofsky seringkali memasukkan isu lingkungan dalam film-filmnya. Ia setuju bahwa film merupakan salah satu hal yang memiliki dampak pada lingkungan. Oleh karena itu ia mencoba untuk balance, seperti menggunakan uang hasil film tersebut untuk kegiatan menanam pohon. Ia juga membuat berbagai peraturan di tempat syuting, seperti dalam syuting film “Noah”, ia menyediakan materi-materi ramah lingkungan. Baginya, film bukan hanya untuk hiburan, ada hal besar selain itu.

Ia juga bergabung dalam Sierra Club, sebuah komunitas yang berfokus pada lingkungan. Bahkan ia mengetahui beberapa isu lingkungan di Indonesia, seperti pembakaran hutan dan penanaman sawit.

Seperti yang banyak orang tahu, salah satu ciri khas Darren Aronofsky adalah memasukkan unsur religious story dalam film-filmnya. Baginya, cerita-cerita dalam alkitab adalah cerita-cerita hebat dan ia selalu berusaha untuk menghubungkannya dengan kondisi saat ini. Terutama yang berhubungan dengan alam.

Spike Lee

Kata “Joint” seringkali muncul di film-film Spike Lee. Hal ini menjadi pertanyaan Reza Rahadian sebagai moderator Mola Living Live saat itu bersama Dino Patti Djalal. Lee yang saat ini telah menjadi profesor di New York University menjawab, “joint” merupakan kata gaul yang bisa berarti tempat menyenangkan, kata yang sebetulnya bisa ditambahkan setelah kata apapun, dalam hal ini kata tersebut menggantikan  kata “pictures”.

Lee mengenang film “She’s Gotta Have It” yang melalui syuting selama 12 hari di musim panas tahun 1985. Budget film tersebut sebesar $ 170,000. Premis film panjang pertamanya itu terinspirasi dari “Rashomon” karya Akira Kurosawa yang ia tonton ketika masih berkuliah di NYU (Ang Lee adalah teman sekelasnya). Ia memiliki foto Akira Kurosawa yang ditandatangani dengan kuas bambu dan menjadi harta karus besarnya.

Selain film, Lee juga berkarya dalam video musik, iklan, dan sebagainya. Baginya, walaupun berkarya dalam medium-medium berbeda, semuanya punya kesamaan: tell a story. Entah iklan yang hanya 30 detik, feature film sepanjang 3 jam, ataupun dokumenter sepanjang 44 jam. Saat ini dengan teknologi orang bisa membuat film dengan smartphone mereka, jadi tidak ada alasan kenapa kamu tidak bisa membuat film. Teknologi telah membawa demokrasi dalam membuat seni pembuatan film, sarannya bagi calon sineas yang tidak mampu mengenyam sekolah film.

Dalam penulisan skenario,  ia selalu berusaha mengangkat isu yang belum diceritakan. Selalu ada banyak ide yang berseliweran di otaknya. Tapi yang dijadikan film adalah ide yang terus terpikirkan dan dimimpikan, lalu ia melakukan penelitian, terutama kalau subject tersebut tidak menceritakan kisah pribadi. Ia memiliki buku catatan yang berisi tulisan ide-idenya apapun berkaitan dengan film. Ia menulis seluruh naskahnya dengan tulisan tangan. Lalu meminta orang lain untuk menggantikannya.

Lee juga mengenang ketika ia membuat film “Malcolm X”. Saat itu ia mengalami kesulitan besar untuk menyelesaikan film tersebut dimana studio tidak memberikannya dana lagi. Akhirnya Lee menghubungi sahabat-sahabatnya, antara lain Oprah, Prince, Janet Jackson, Tracy Chapman dan lain-lain untuk membantunya menyelesaikan film tersebut.

Ia juga menceritakan sedikit tentang film yang akan ia garap: sebuah film musikal. Sementara ia sebetulnya ingin sekali bisa meneruskan proyek film tentang petinju Joe Louis. Naskahnya sendiri sudah ditulis bersama dengan mendiang Budd Schulberg, penulis skenario “On The Waterfront”.

Semua hal di atas baru sebagian kecil, lho. Masih banyak lagi informasi yang bisa didapat dari tokoh-tokoh tersebut dalam Mola Living Live di Mola TV.

Yang terbaru, Mola Living Live berhasil mewawancarai aktor legendaris Robert De Niro. Episode bersama aktor yang menjadi salah satu founder Tribeca Film Festival ini bisa ditonton sejak 16 Desember 2020. Seperti episode sebelumnya, para penonton juga bisa bertanya langsung lewat WA kepada narasumber ketika menontonnya secara live. Oleh karena itu, supaya tidak ketinggalan, yuk segera berlangganan Mola TV.


            Saksikan juga Mola Living Live yang menampilkan diskusi LIVE bersama sutradara legendaris asal Amerika Serikat, Francis Ford Coppola hanya di Mola TV, pada tanggal 22 Januari 2021 pukul 22.00 WIB. Coppola akan berbagi pengalamannya dalam acara yang dipandu oleh Dino Patti Djalal & Rayya Makarim.

Menonton para tokoh dunia tersebut bercerita mengingatkan kita, selalu saja ada rencana yang bisa terlaksana dan selalu saja ada mimpi yang kandas. Tapi berhenti bukan pilihan, mencintai apa yang kita lakukan adalah kemenangan.