GRETA (2019): ANTARA KESEPIAN, KERINDUAN DAN OBSESI

Kesepian, kerinduan dan obsesi adalah tiga kata yang memiliki keterkaitan dan sebab akibat. Seseorang yang kesepian akan muncul dari benaknya kerinduan akan sesuatu. Jika ia tidak bisa menahan diri, atau semua di luar kendali, maka semua akan memuncak dalam sebuah obsesi. Obsesi bisa berbentuk positif, namun tidak jarang juga tercermin dalam perilaku-perilaku negatif, bahkan menyeramkan. Keterkaitan inilah yang muncul di dalam diri Greta, seorang guru piano yang sangat mencintai Perancis.

Greta adalah seorang janda yang kesepian karena ditinggal anaknya yang belajar ke Perancis. Setidaknya itulah kesan pertama yang muncul. Sedangkan Frances McCullen adalah seorang gadis yang mencoba hidup mandiri di New York. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran dan tinggal bersama sahabatnya, Erica Penn. Suatu hari tas milik Greta tertinggal di kereta dan Frances menemukan lalu mengembalikannya. Dari situ mereka mulai dekat dan melakukan banyak hal bersama. Hingga Frances menemukan keganjilan yang membuatnya memutuskan untuk menjauhi Greta. Tapi Greta bukanlah orang yang berhenti begitu saja. Ia mulai menteror kehidupan Frances, dari mulai meneleponnya terus menerus, mengawasinya sepanjang hari, hingga menteror sahabatnya. Dan teror itu pun semakin lama semakin sakit.

Kesepian yang dialami Greta membuatnya merasa rindu akan sesuatu, entah sahabat yang bisa menemani atau anak yang bisa menuruti segala keinginannya. Jika keinginannya tidak dituruti, maka ia dengan mudah melakukan kekerasan. Kesepian dan rasa rindunya yang sakit melahirkan obsesi yang tidak lazim. Obsesi itu membuatnya tidak segan menyakiti orang-orang yang ia undang.

Tidak Cuma Greta yang merasakan tiga rangkaian kata tersebut, Frances sendiri sebetulnya mengalaminya sendiri. Setelah Ibunya meninggal dan Ayahnya sibuk dengan pekerjaannya, Frances merasa kesepian. Ia mencoba meredam kesepian tersebut dengan hidup mandiri bersama sahabatnya dan bekerja. Kerinduannya pun membuatnya terobsesi pada sosok Ibu. Hal itulah yang membuat ia cepat percaya dengan sosok Greta dan langsung merasa dekat. Greta dan Frances sebetulnya memiliki nasib yang sama. Cuma mereka menyikapinya dengan cara yang berbeda.

Setelah tampil di lebih dari 120 film sejak 1971, akting Isabelle Huppert memang tidak bisa diragukan lagi. Penampilannya yang dingin sebagai Greta sukses membuat penonton turut bergidik dan merasakan terornya. Karakter Greta sendiri seperti gabungan dari karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya, seperti di film Elle dan The Piano Teacher. Dan Huppert tahu persis bagaimana bersenang-senang dengan tokoh yang ia mainkan. Sementara Chloë Grace Moretz sebagai Frances juga bisa mengimbangi penampilan Huppert. Jika orang bilang plot film ini mudah ditebak atau sebagainya, sudahlah. Ikuti saja semua obsesi yang dimiliki oleh Greta dan rasakan sakit-nya.