GLASS (2019): KEAJAIBAN ATAU MASALAH KESEHATAN MENTAL?

“Mr. Glass”

Ujar David Dunn di sebuah restoran ketika orang-orang membicarakan sebuah kejadian mirip belasan tahun silam. Dan siapa sangka, adegan di penghujung film “Split” (2016) tersebut ternyata berkaitan langsung dengan film “Unbreakable” (2000)! Ya, itulah kekuatan sang sutradara dan penulis naskah M. Night Shyamalan yang terkenal seantero jagad atas kejutannya di akhir film. Walaupun tidak semuanya berhasil. Lalu tiga tahun kemudian, ia menyatukan David Dunn, Elijah Price dan Kevin Wendell Crumb ke dalam satu cerita dengan judul “Glass”.

Kata “Glass” itu sendiri seperti tidak hanya mengacu pada julukan Elijah Price sebagai Mr. Glass, tapi juga sebagai metafora yang membayang-bayangi keadaan tiga tokoh utama. David Dunn dalam bayangan dirinya yang lain adalah “The Overseer” yang sangat kuat dan bisa melihat kejahatan dengan menyentuh kulit si pelaku. Elijah Price, si Mr. Glass itu sendiri yang rentan bagai gelas di bibir meja tapi juga memiliki otak yang sangat bening. Dan Kevin Wendell Crumb alias “The Horde” si gelas retak hingga memecah belah identitasnya menjadi dua puluh empat. Mereka ditahan di mental institution dan bertemu dengan seorang psikiater bernama Dr. Ellie Staple yang ahli menangani masalah grandiose delusions. Ia menganggap tiga orang ini bukanlah orang-orang yang memiliki keajaiban, tapi mereka “terlalu pede” hingga menganggap diri mereka mempunyai kekuatan super. Dr. Staple berpikir mereka dalam keadaan delusi dan mengalami gangguan kesehatan mental yang serius. Ia pun melakukan berbagai macam persuasi dan memanfaatkan kelemahan mereka supaya tersadar dari delusi.

Di satu titik Shyamalan berusaha membawa penonton agar simpati dengan analisa Dr. Stapple bahwa apa yang dialami oleh para tokoh utamanya cuma permainan otak mereka. Tidak ada keajaiban ataupun kekuatan super. Pikiran merekalah yang mempermainkan semuanya. David Dunn mulai mempertanyakan kekuatannya, juga salah satu personalitas The Horde mulai meragukan eksistensi mereka. Tapi Dr. Stapple lengah akan kelincahan otak Mr. Glass, usaha yang ia lakukan terancam tidak sesuai dengan harapan. Di balik diamnya, rencana Mr. Glass berjalan rinci. Dan ternyata kejutan yang disiapkan Shyamalan tidak hanya ada di lapis ini.

Sebagai penutup Unbreakable trilogy, bagi sebagian orang film “Glass” adalah penutup trilogi yang mengecewakan dengan minim adegan aksi dan konklusinya terhadap tiga tokoh utama. Bahkan seorang psikolog bernama Elizabeth Howell menganggap penggambaran kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID) oleh tokoh The Horde tidak akurat. Tapi banyak pula yang mengapresiasi konsep superhero-nya yang menyegarkan dengan lebih menitik beratkan pada psychological thriller dan akting para pemainnya, terutama James McAvoy, lepas dari akurat atau tidaknya penggambaran DID.

Jika kita membicarakan sebuah film dengan tokoh-tokoh berkemampuan khusus, mau tidak mau kita teringat pada film dengan tema serupa. Film X-Men Misalnya. Apalagi James McAvoy juga berperan di film tersebut. Kadang saya berkhayal lepas, salah satu personalitas The Horde itu Professor X, atau bagian dari alternative universe yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *