Waiting For The Barbarians – Sebuah Kisah Mengenai Orang-Orang Marjinal

Cerita Orang-Orang Marjinal dalam “Waiting For The Barbarians”

J.M. Coetzee seringkali berbicara tentang moral dan kolonialisme dalam novel-novelnya, antara lain bisa ditemukan dalam tiga karya utamanya: “Waiting For The Barbarians” (1980), “Life and Times Of Michael K” (1983) dan “Disgrace” (1999). Para tokohnya hidup dalam situasi dimana perjuangan terhadap hak seperti hal yang semu. J.M. Coetzee sendiri telah menulis dua adaptasi skenario dari dua novelnya, yaitu “In The Heart Of The Country” dan yang kedua, “Waiting For The Barbarians” telah difilmkan oleh sutradara asal Kolumbia, Ciro Guerra, sebagai film berbahasa Inggris pertamanya. Film ini pertama kali diputar di Venice Film Festival pada tahun 2019 dan mulai didistribusikan ke berbagai negara pada tahun ini.

“Waiting For The Barbarians” diperankan oleh tiga aktor ternama: peraih Oscar, Mark Rylance, Johny Depp dan Robert Pattinson, serta seorang aktris dari Mongol, Gana Bayarsaikhan, dan seorang aktris dari Italia, Greta Scacchi. Film ini bercerita tentang seorang Hakim yang menangani kasus-kasus kecil di sebuah perbatasan terpencil yang musti berhadapan dengan ambisi seorang Kolonel. Keinginannya untuk pensiun dengan baik-baik harus pupus ketika ia tahu kalau ambisi Sang Kolonel menjelma menjadi tindakan-tindakan kejam terhadap Orang-Orang Barbar yang ia anggap kaum berbahaya. Sementara Sang Hakim sendiri menganggap mereka hanyalah orang-orang marjinal yang tinggal secara nomaden dan tidak akan menyakiti siapapun. Sang Hakim bertindak sesuai dengan kata hatinya, sementara Sang Kolonel juga tidak akan menghentikan obsesinya.

Ciro Guerra sebelumnya hadir dengan film-film yang sangat khas Kolumbia, baik secara tema, karakter maupun budaya dan permasalahan yang ditampilkan. Dalam “The Wind Journeys” ia mengisahkan tentang perjalanan seorang musisi vallenato (musik folk khas Kolumbia). Sementara “Embrace Of The Serpent”, sebuah film yang meraih nominasi Best Foreign Language Film pada perhelatan Academy Awards ke 88 bercerita tentang kehidupan seorang Dukun Karamakate di Hutan Amazon Kolombia. Serta “Birds Of Passage” berkisah tentang pergerakan Orang-Orang Wayuu, yang merupakan salah satu etnis asli Amerika yang tinggal di bagian paling utara Kolombia. Tiga film tersebut seperti mencerminkan keahlian Ciro Guerra dalam memunculkan tema-tema yang sangat spesifik yang juga bisa kita lihat dalam film “Waiting For The Barbarians” dimana ia kembali bercerita tentang permasalahan Orang-Orang Marjinal: dikucilkan atau ditindas. Film-filmnya juga unggul dalam hal sinematografi dan mampu menampilkan keeksotisan dan keindahan lokasi-lokasi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ia sebelumnya beberapa kali bekerjasama dengan seorang Sinematografer yang juga berasal dari Kolombia, David Gallego. Namun untuk film terbarunya ini ia bekerjasama dengan Chris Menges, seorang Sinematografer asal Inggris.

Kekuatan lain film ini ada pada akting Mark Rylance yang dominan sepanjang film. Tidak dapat diragukan lagi, ia mampu menampilkan sosok hakim yang lembut dan seringkali tidak berdaya menghadapi situasi. Sementara Johny Depp, tanpa tata rias berlebih seperti beberapa filmnya terdahulu, dapat menampilkan sosok kolonel yang kejam tanpa terlihat memunculkan amarah dan suara lantang, bahkan jarang memperlihatkan sorot matanya.

Di Indonesia, film “Waiting For The Barbarians” hanya bisa disaksikan secara streaming di bioskop eksklusif Mola TV. Namun sebelum menonton, pertama-tama harus membuat akun pribadi terlebih dahulu untuk berlangganan. Tata caranya mudah dan murah. Saat ini, Mola TV menyediakan harga paket yang amat sangat terjangkau. Dengan “Paket Anak Indonesia” seharga dua belas ribu lima ratus rupiah, pecinta film sudah bisa menonton “Waiting For The Barbarians” dan film-film lainnya serta serial TV selama tiga puluh hari non-stop. Pembayaran paket bisa melalui transfer bank, credit card dan bisa juga menggunakan OVO. Harga paket tersebut selain memberikan akses menonton lewat mobile phone juga bisa digunakan jika ingin menonton di web browser (Desktop & PC). Selain menayangkan film dan serial, Mola TV juga menghadirkan tayangan olahraga yang bisa disaksikan secara live, reality show, serta tontonan untuk anak-anak. Dengan demikian, seluruh anggota keluarga bisa menikmati Mola TV sesuai dengan pilihan mereka.

Film “Waiting For The Barbarians” mengingatkan kita tentang hak-hak Orang-Orang Marjinal di luar sana yang seringkali direnggut paksa. Mereka ada di sekitar kita dan sekali-kali mereka tidak bisa tinggal diam.