READY OR NOT (2019) – THRILLER DARK COMEDY TENTANG TRADISI KELUARGA

Pernikahan itu menyeramkan. Pertanyaan “sudahkah aku siap?” bakal setia menggelayuti. Tapi kita takkan pernah siap berada di posisi Grace (Samara Weaving), tatkala keluarga sang suami (Keluarga Le Domas) bukan cuma menolak, tapi berusaha membunuhnya. Dan sembari Grace ketakutan setengah mati, penonton diajak bersenang-senang menikmati penderitaan sang protagonis.

Sejatinya Grace telah mengetahui bahwa Alex (Mark O’Brien) punya keluarga disfungsional. Si ayah mertua (Henry Czerny) membencinya, si kakak ipar (Adam Brody) gemar merayunya, sementara Helene (Nicky Guadagni), bibi Alex, terus memandanginya lewat tatapan menghantui. Grace siap menghadapi kesulitan adaptasi, tapi tidak dengan ritual aneh yang memaksanya mengikuti permainan tepat tengah malam selepas upacara pernikahan.

Ritual ini adalah rutinitas, layaknya perploncoan bagi calon anggota keluarga baru. Kenapa melalui permainan? Karena kekayaan melimpah Dinasti Le Domas dibangun di atas bisnis permainan. “Kamu hanya perlu bermain”, demikian ucap Alex guna menenangkan sang istri. Tiba tengah malam, dan Grace mesti memilih jenis permainan dengan mengambil kartu acak dari kotak misterius, yang konon diperoleh kakek buyut Keluarga Le Domas dari seorang pria bernama Mr. Le Bail.

Grace menarik kartu bertuliskan “Hide & Seek”. Bukan petak umpet biasa tentunya, karena di sini Grace mesti bersembunyi dari kejaran Keluarga Le Domas yang berusaha membunuhnya sebelum matahari terbit. Muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi bila Grace mendapat kartu lain?”. Permainan lain jelas lebih ringan, melihat banyaknya menantu Keluarga Le Domas yang selamat. Sebuah eksplorasi tambahan yang niscaya menambah daya tarik, namun ketiadaannya bukanlah dosa.

Terpenting, bagaimana Ready or Not menghantarkan hiburan efektif melalui sajian horor/thriller seru berbumbu komedi hitam yang cenderung brutal. Tingkat kekerasannya di atas rata-rata, yang bersumber dari situasi sepeti wajah meledak, kepala pecah, pemenggalan, dan lain-lain. Tapi hampir seluruh kebrutalan tersebut berujung memancing tawa, tatkala duo penulis naskahnya, R. Christopher Murphy (Minutes Past Midnight) dan Guy Busick, berani menerapkan selera humor unik sekaligus sakit milik mereka.

Filmnya semakin menggelitik pasca kondisi berbalik, ketika Keluarga Le Domas yang awalnya ditampilkan bak gerombolan psikopat, mulai memperlihatkan kecanggungan, ketidakmampuan, serta kebodohan masing-masing, sedangkan Grace sang buruan pelan-pelan menemukan pijakan bahkan berbalik mengancam para pemburunya.

Diperankan begitu apik oleh Samara Weaving, sosok Grace jadi bukti nyata bahwa skena horor butuh lebih banyak figur protagonis wanita yang sanggup melawan balik. Selain tampak tangguh, Samara pun mampu menangani sikap (dan tutur kata) “peduli setan” milik Grace untuk menciptakan situasi komedik yang tak jarang histerikal. Serupa kesuksesan Jessica Rothe dalam peran serupa di seri Happy Death Day,Samara Weaving pantas mendapat perhatian lebih selepas film ini.

Sayang, penyutradaraan duet Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (V/H/S, Devil’s Due, Southbound) kerap kurang mampu mengejar naskah playful dan performa energetik sang aktris utama. Di beberapa kesempatan, khususnya momen aksi bernuansa kacau, sulit melihat detail kejadian akibat pemakaian close up plus pergerakan kamera yang terlampau cepat. Pun keduanya tak kuasa memberi pertolongann saat naskahnya sempat kehabisan ide jelang babak ketiga, di mana jalan menuju ke sana disusun oleh repetisi melelahkan.

Beruntung, baik departemen penulisan maupun penyutradaraan sama-sama enggan menahan diri meluapkan banjir arah pada klimaks yang menyentuh ranah hororsplatter, bak gabungan Scanners dan Dead Alive. Pun selagi menggila, Ready or Nottak ketinggalan menyisipkan pesan, dari persoalan keluarga seperti pola asuh, keserakahan, sampai pertanyaan, “Jika seseorang memihak keluarga ketimbang pasangan hidupnya, apakah itu sungguh wujud kasih sayang atau sebatas sikap pengecut?”