The Professor and The Madman: Dua Kehidupan Berbeda yang Disatukan Kata-Kata

William Chester Minor (Sean Penn), berlarian tengah malam mengejar seseorang yang ia anggap mengancam dirinya. Ia terus mengejar orang tersebut sambil melepaskan tembakan dari pistolnya, walau orang tersebut berkali-kali berteriak minta tolong. Hingga akhirnya tembakannya tersebut mengenai lelaki itu dan seketika meninggal di tempat. Lelaki itu, George Merrett, hanyalah seorang kepala keluarga yang hendak kembali ke rumah setelah bekerja demi menghidupi seorang istri dan enam anaknya. Minor dianggap tidak bersalah oleh pengadilan karena kegilaannya. Ia pun dikirim ke Broadmoor Hospital, sebuah rumah sakit jiwa dengan pengamanan tinggi di Crowthorne, Berkshire, Inggris. Minor mengidap paranoia yang sangat akut dan seringkali mengalami delusi, terutama berkaitan dengan pengalamannya sebagai dokter di medan perang.

James Murray (Mel Gibson) tengah menyaksikan pertandingan hoki putranya. Ia sangat bersemangat sambil sesekali mengingatkan putranya agar tidak mengumpat dan menggunakan kata-kata yang baik. James Murray (yang nantinya menjadi seorang Leksikograf dan Filolog) adalah seseorang yang sangat terobsesi dengan bahasa dan sejarahnya. Ia mendapatkan keahliannya tersebut secara otodidak. Karena keotodidakannya ini, kemampuannya sempat diragukan ketika ia diwawancarai sebagai editor untuk proyek Oxford English Dictionary yang telah dimulai sejak tahun 1844 (30 tahun sebelum Murray bergabung sebagai editor). Murray pun menunjukkan kemampuannya di depan para pewawancara. Ia menyebutkan begitu banyak bahasa yang ia pahami. Bahkan ia bisa menjelaskan sejarah kata “clever” dengan begitu panjang. James Murray memiliki keluarga yang bahagia dengan istri yang pengertian dan anak-anak yang ceria.

Dua lelaki dengan kehidupan yang sangat bertolak belakang ini lantas dipertemukan lewat kata-kata. Pada suatu titik, James Murray mengalami kebuntuan dan rintangan yang sempat membuatnya hampir putus asa. Hingga seseorang mengirimkannya begitu banyak daftar kosakata dengan kutipannya pada Murray. Orang tersebut adalah William Chester Minor yang menjadi salah satu relawan dengan buku-buku yang ia baca di rumah sakit jiwa. Murray kembali bersemangat dan menghirup tenaga baru untuk proyek ini. Mereka berdua pun menjalin persahabatan lewat surat-menyurat. Hingga Murray mengetahui siapa Minor sebenarnya.

Ini adalah kisah “The Professor and The Madman”, sebuah film yang terinspirasi dari kisah nyata hubungan antara seorang lelaki dengan kehidupan sempurna dan seorang lelaki sakit jiwa. Film ini disutradarai oleh Farhad Safina (dengan nama samaran P.B. Sherman), seorang sutradara berkebangsaan Iran. Ia telah beberapa kali bekerjasama dengan Mel Gibson, mulai dari film “The Passion of the Christ” (2004), “Apocalypto” (2006), hingga saat ini. Awalnya, Mel Gibson sendiri yang hendak mengarahkan film ini, tapi ia memilih menyerahkannya pada Farhad Safina.

Naskah film ini berangkat dari buku berjudul “The Surgeon of Crowthorne: A Tale of Murder, Madness and the Love of Words” karya Simon Winchester, yang hak pembuatan filmnya telah dibeli oleh perusahaan Mel Gibson, Icon Productions sejak tahun 1998, tapi baru memulai syuting pada tahun 2016.

Dengan durasi 124 menit, pergantian adegan film “The Professor and the Madman” tergolong berjalan cukup cepat, tidak menyisakan ruang kebosanan untuk penonton. Penampilan para tokoh utamanya tentu sudah tidak diragukan lagi. Sean Penn sebagai William Chester Minor berhasil menampilkan sosok yang selalu khawatir dan ketakutan, di satu sisi ia juga sosok yang fokus dan bersemangat dalam mengerjakan suatu hal, termasuk hobi membacanya. Begitu pula Mel Gibson yang bisa menampilkan sosok James Murray sebagai sosok lelaki baik-baik dan lurus, seorang kepala keluarga yang dari raut mukanya kita bisa melihat kegigihannya menyeimbangkan waktunya demi proyek pekerjaan dan keluarga. Tidak kalah dengan dua aktor penuh pengalaman tersebut, Natalie Dormer, yang berperan sebagai Eliza Merrett, istri mendiang George Merrett, juga bisa menunjukkan kemalangannya sebagai janda yang harus mengurus enam orang anak, bersamaan juga harus menghadapi pembunuh mendiang suaminya.

Kelebihan lain film ini bagaimana Kasper Tuxen sebagai sinematografer bisa menyajikan shot-shot yang apik dan bisa menangkap hiruk pikuk Inggris pada era 1800 an. Sebelumnya, Tuxen berhasil menjadi sinematografer untuk film Beginners (2010), Darkland (2017) dan film lainnya.

Film “The Professor and the Madman” merupakan bagian dari bioskop exclusive Mola TV dan hanya bisa disaksikan secara streaming melalui situs dan aplikasi Mola TV. Untuk bisa menonton film  “The Professor and the Madman” dan film-film lainnya di platform ini, penonton bisa berlangganan paket terbaru persembahan Mola TV, yaitu paket HBO GO dengan cukup membayar Rp. 65.000 saja perbulan, atau bisa juga berlangganan paket yang lebih hemat mulai dari Rp. 12.500. Pembayaran paket bisa melalui transfer bank, credit card dan bisa juga menggunakan OVO. Dengan harga paket tersebut, penonton bisa menonton lewat mobile phone , bahkan bisa juga melalui web browser (Desktop & PC). Mola TV menyediakan berbagai film dan serial, hingga tayangan olahraga yang bisa disaksikan secara live, ada juga reality show, serta tontonan untuk anak-anak. Seluruh anggota keluarga bisa menikmati Mola TV sesuai dengan pilihan mereka.

Film “The Professor and the Madman” mengingatkan kita bahwa seringkali persahabatan bukanlah berasal dari persamaan status atau latar belakang, tapi terwujud dari cara yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.