PEREMPUAN TANAH JAHANAM (2019) – SEBUAH PERJALANAN MENUJU NEGERI YANG KELAM

Judul Impetigore sering kita dengar dari mulut Joko Anwar sejak sekitar 10 tahun terakhir, tepatnya paska Modus Anomali. Namun rupanya takdir membuat Joko harus menelurkan karya-karya lain, termasuk Pengabdi Setan yang menjadi titik balik karirnya di pasar mainstream dan Gundala.

Akhirnya film yang diubah judulnya menjadi berbahasa Indonesia, Perempuan Tanah Jahanam ini berhasil diwujudkan dan siap rilis 17 Oktober 2019 ini dengan melibatkan banyak pihak, mulai Base Entertainment yang menandai produksi pertamanya, Rapi Films, CJ Entertainment, sampai Ivanhoe (yang memproduksi Crazy Rich Asians). Dengan passion Joko yang begitu terasa akan proyek ini dan dukungan banyak pihak, harapan penonton tentu melambung tinggi.

Perempuan Tanah Jahanam bercerita tentang Maya (Tara Basro) dan sahabatnya, Dini (Marissa Anita) yang memutuskan ke desa terpencil bernama Desa Harjosari setelah Maya penasaran dengan sebuah foto lama bersama keluarganya yang baru ditemukan. Melihat kondisi dan sikap warga desa yang aneh, Maya dan Dini menjadi semakin penasaran, termasuk tentang masa lalu Maya yang tidak bisa diingatnya. Apalagi ternyata kemudian Maya menjadi incaran warga desa. Tak satu pun warga bisa dipercaya, termasuk Ratih (Asmara Abigail) yang sempat buka suara tentang sejarah kelam desa mereka.

Perempuan Tanah Jahanam sudah membuka film dengan gelaran adegan thriller slasher yang mendebarkan. Seolah menjanjikan suguhan keseluruhan film yang bakal lebih nikmat lagi.

Benar saja, semenjak masuk Desa Harjosari penonton disodori kepingan demi kepingan misteri yang bikin penasaran. Berikut sesekali suspense thriller, horor penampakan, dan sedikit slasher yang ditata dengan porsi pas tapi selalu efektif memberi efek ke penonton.

Sayang ketika hampir mencapai puncaknya, Joko menggunakan treatment pintas untuk menjelaskan sisa misteri secara keseluruhan. Di satu sisi memang cara ini diperlukan agar sejalan dengan pola komunikasi sekaligus selera penonton umum kita yang lebih suka penjelasan sejelas-jelasnya. Namun di sisi lain, bagi penggemar berat Joko yang sudah mengikuti karya-karyanya sejak awal tentu berharap treatment penyampaian yang lebih cerdas dan mind-blowing. Memang konsep yang ditawarkan rumit, tidak sesederhana, misalnya saja, Pengabdi Setan, maka kembali ke selera masing-masing. Apakah menyukai treatment yang demikian atau tidak.

Chemistry antara Tara dan Marissa tampak meyakinkan sebagai sahabat. Pun juga hampir semua aktor-aktris pengisi peran penting lainnya masih menyisakan sisi-sisi misterius yang ditampilkan secara seimbang dan tetap menggelitik rasa ketidak-percayaan penonton. Terutama sekali buat Asmara Abigail yang memerankan Ratih.

Kekuatan utama yang paling berhasil membangun atmosfer Perempuan Tanah Jahanam selain set lokasi yang tampak nyata adalah sound mixing sekaligus music scoring yang luar biasa mencekam. Detail suara-suara pendukung nuansa hutan dipadu eerie music yang bersinergi dengan sempurna.

Jadilah Perempuan Tanah Jahanam proyek impian berusia 10 tahun yang berhasil menjadi horor Indonesia terbaik tahun ini (setidaknya sejauh ini, dan jika melihat daftar rilis hingga akhir tahun, agaknya masih tetap akan menjadi yang terbaik), terutama dari segi pembangunan atmosfer dan konsepnya. Namun jika disebut-sebut sebagai benchmark, pencapaian, atau level baru horor Indonesia, masih perlu diperdebatkan.

Akhir kata, “SEMOGA PERJALANAN ANDA MENYENANGKAN!!!”