I’m Thingking of Ending Things (2020) – Dari Tulisan-Tulisan Kecil Hingga Realita Yang Jungkir Balik.

Sepanjang karirnya sejak tahun 1999, Charlie Kaufman telah menulis sembilan skenario dan menyutradarai tiga film panjang. Dari semua karyanya tersebut, ia mendapatkan empat nominasi Academy Awards (dan memenangkan satu piala Oscar) serta masuk dalam Writers Guild of America’s 101 greatest movie screenplays ever written (tiga skenario sekaligus). Karya-karya Charlie Kaufman memiliki ciri khas tersendiri, yang paling terasa adalah dunia sureal dimana tokoh-tokohnya hidup dalam pergolakan realitas, identitas dan eksistensi. Dalam cerita yang dibangun Charlie Kaufman, pencarian realita dan imajinasi seperti mempertanyakan mana yang lebih dahulu: telur atau ayam. Hal yang seringkali membuat para penontonnya keasyikan dalam kebingungan.

“I’m Thingking of Ending Things” menjadi film ketiga yang ia sutradarai sekaligus ia tulis naskahnya, dirilis secara terbatas pada 28 Agustus 2020 dan secara luas melalui Netflix mulai 4 September 2020. Tentunya masih dengan formula yang serupa dengan cerita-cerita yang ia tulis sebelumnya. Yang berbeda adalah film ini diadaptasi sepenuhnya dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Iain Reid, walau Kaufman memilih jalannya sendiri di bagian akhir. Naskah film yang dibuat Kaufman sebelumnya, “Adaptation” sebetulnya juga berasal dari sebuah novel, “The Orchid Thief” karya Susan Orlean, tapi tidak murni dari plot novel tersebut dan dicampur dengan cerita lain.

“I’m Thingking of Ending Things” dibuka dengan tulisan-tulisan yang sangat kecil sehingga butuh usaha lebih untuk dapat membacanya. Hal ini seperti menjadi petunjuk pertama untuk para penonton agar memperhatikan hal-hal detil sepanjang film ini. Misalnya, ketika kamar Jake (Jesse Plemons) ditampilkan, bukan tanpa sengaja ada DVD film “A Beautiful Mind” disana, bukan kebetulan pula ketika Jake menoleh kepada pacarnya (Jessie Buckley) ketika ia berbicara dalam pikirannya, atau bukan juga tanpa implikasi ketika si Janitor menemukan buku tentang make up di kamar mandi sekolah, dan tiga cewek di Tulsey Town tentu meninggalkan pengalaman tersendiri bagi Jake dan pacarnya. Semua diatur oleh Kaufman dalam pergolakan realita yang jungkir balik dan dijejalkan pada kehidupan tokoh-tokohnya. Penonton seperti dituntut untuk teliti memilah, mana bagian imajinasi, mana bagian yang nyata dialami oleh mereka. Bagi yang biasa berhadapan dengan skenario yang ditulis oleh Kaufman, tentu mereka sudah memiliki bekal. Jikapun masih tersesat, biarkan saja menafsirkan ke segala arah secara terbuka, toh itulah bagian serunya.

Jesse Plemons seringkali berperan sebagai tokoh pendukung dalam film-film sebelumnya. Tapi perannya tersebut kerap membuatnya sebagai scene stealer. Di “I’m Thingking of Ending Things”, kita kembali tersadar potensi besar yang dimiliki oleh aktor ini. Ia boleh saja tidak semenarik aktor-aktor berperawakan lebih “sempurna”, tapi kemampuannya jauh melampaui hal klise tersebut. Aktingnya mengingatkan saya pribadi pada penampilan Philip Seymour Hoffman dalam “Synecdoche, New York” yang juga disutradarai dan ditulis oleh Charlie Kaufman. Penampilan luar biasa juga ditunjukkan tak lain dan tak bukan oleh Toni Collette sebagai ibu yang berkelakuan “aneh” dan berada dalam beberapa “fase” kehidupan Jake.

Hal yang menarik lainnya dalam film ini tentunya obrolan Jake dan pacarnya yang banyak berlangsung di dalam laju mobil yang menembus badai salju. Mereka mengobrol banyak hal, mulai dari karir, buku, puisi, film, karya ilmiah dan lain sebagainya. Mereka berdua terlihat memiliki kesamaan dalam segalanya, hal yang membuat sang pacar barangkali menunda untuk menghentikan “keutuhan” mereka. Namun setelah film ini usai pun, saya khususnya sebagai penonton berpikir untuk tidak berhenti bertanya-tanya dan berdiskusi tentang film ini, baik dengan sesama penonton, atau penonton lainnya dalam pikiran saya sendiri.