Guru-Guru Gokil (2020) – Gambaran Kondisi Guru-Guru

Menonton film Guru-Guru Gokil di Netflix mengingatkan penulis pada beberapa kondisi Guru ketika bersekolah dulu di kampung halaman. Seperti tokoh Pak Taat yang ada di film ini, ada kisah seorang Guru yang bercerita kalau cita-cita beliau bukanlah menjadi Guru, tapi ingin jadi tentara. Tapi karena berbagai sebab, beliau terpaksa menjalankan profesi ini dan beberapa tahun kemudia beliau menikmatinya. Lalu ada Guru yang berjualan selain mengajar. Gaji Guru honorer yang kecil tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarganya. Sebab gaji kecil itu juga, dengan tidak sengaja penulis juga mendengar obrolan seorang Guru terpaksa kasbon pada TU sekolah. Dan yang sering kita temui, seorang Guru yang galak tapi masih peduli sama anak-anak muridnya. Kondisi-kondisi Guru tersebut bagi berhasil digambarkan di film Guru-Guru Gokil.

Penulis setuju dengan beberapa kritikan terhadap film ini dari para kritikus film di media sosial. Hubungan antara Guru-Guru dengan muridnya di film ini kurang dibangun dengan kuat. Hasilnya klimaks film dimana Para Guru bekerjasama dengan murid-murid untuk menyelesaikan sebuah masalah terasa terjadi begitu saja. Sangat disayangkan memang. Fokus cerita pada perjuangan Para Guru mendapatkan gaji mereka kembali membuat hal tersebut menjadi nomor dua. Tapi di sisi lain, Guru-Guru Gokil memberikan kisah yang cukup segar tentang perjuangan Guru tanpa melupakan ironi-ironi lama.

Berbagai kekurangan yang ada pada film ini bukan berarti membuat film ini menjadi sajian yang hambar, banyak hal yang membuat penulis menikmatinya, antara lain tentu saja akting jajaran pemainnya: Gading Marten yang sudah tidak asing lagi dengan peran comedic seperti ini, Faradina Mufti sebagai Ibu Guru galak tapi paling peduli dan Dian Sastrowardoyo yang berhasil dengan tantangan peran yang ia ambil sendiri. Penulis juga senang kembali menonton film arahan Sammaria Simanjuntak yang pulang ke ranah komedi setelah terakhir dibuat tertawa oleh aksi Ibu dan Anak di film Demi Ucok.

Di situasi pandemi seperti ini, tantangan yang dihadapi oleh Guru-Guru yang mengajar di pelosok semakin berat, seperti akses teknologi yang tersendat dan tidak murah. Tapi yang namanya Guru tulus mengabdi, selalu saja ada cara yang bisa mereka lakukan. Beberapa kali kita membaca berita seperti seorang Guru yang rela mendatangi muridnya satu per satu atau membuat kelompok kecil siswa yang belum memiliki gawai canggih. Padahal mereka sendiri bingung sebagai Guru honorer, jam mengajar mereka dipangkas. Hal yang kembali luput dari kebijakan pemerintah pusat.