LADIES IN BLACK (2018): PEREMPUAN DAN HARAPAN MEREKA

Kadang sebuah film lebih baik memiliki plot apa adanya, alur yang lurus tanpa kelok dengan konflik yang tidak runcing. Begitulah cerita “Ladies in Black” berlangsung. Mungkin bagi sebagian orang konflik film ini dangkal sekali. Tapi inilah feel good movie, dimana kita tidak perlu menuntut macam-macam. Duduk santai dan nikmati saja 1 jam 49 menit durasinya.

“Ladies in Black”, film pembuka Festival Sinema Australia (FSAI) 2019 berkisah tentang perempuan-perempuan yang bekerja di sebuah department store bernama Goode’s menjelang Natal pada tahun 1959. Mereka melakukan persiapan di pagi hari, membereskan barang-barang, melayani konsumen yang berebut diskon, sambil berusaha terus terlihat baik di depan atasan. Di balik sibuknya pekerjaan mereka, ada harapan harapan yang mereka coba wujudkan.

Leslie, atau lebih senang dipanggil Lisa, adalah anak sekolah yang bekerja untuk menghabiskan liburan musim panasnya. Ia sangat suka membaca buku dan puisi. Harapannya adalah ingin berkuliah dan menjadi penulis. Tapi keinginannya tersebut sangat berat ia sampaikan pada Ayahnya. Fay, perempuan mandiri berusia tiga puluhan. Berkenalan dengan Lisa membuatnya tiba-tiba senang membaca buku. Walaupun sudah berkali dikecewakan, ia masih menyimpan harapan untuk menemukan jodohnya yang tepat. Patty, seorang istri yang belum juga mempunyai anak. Ia memiliki suami yang canggung dan pemalu. Seperti seorang istri pada umumnya, ia ingin membahagiakan sang suami. Sementara Magda, seorang imigran dari Slovenia yang sering kali disebut reffo (sebutan untuk para imigran), berteman akrab dengan Lisa dan membimbing Lisa menjadi seorang gadis yang tahu terhadap potensi diri. Magda memiliki harapan dapat membuka butik sendiri dan mengajarkan perempuan Australia apa itu fashion.

Kisah-kisah perempuan yang tipikal. Tapi bedanya, di “Ladies in Black” para perempuan itu tidak lantas menjadi makhluk yang lemah dan mengalah pada keadaan ataupun sebaliknya, menjadi manusia super yang cuma butuh diri sendiri. Mereka tetaplah perempuan yang bisa hidup berdampingan dan sejajar dengan makhluk lain yang disebut lelaki. Lisa yang berani memutuskan untuk kuliah dan merubah penampilan di depan Ayahnya, Fay yang bisa berlaku apa adanya di mata Rudy, Patty yang berusaha keras memahami sang suami, dan Magda, perempuan dengan segala rencana dan aturan di tangan.

Kisah mereka berdampingan dengan kebijakan pemerintah Australia pasca perang dunia kedua berupa program imigrasi. Dimana pada tahun itu, para penduduk asli Australia, atau mereka yang telah tinggal disana sejak lahir berusaha untuk hidup berdampingan dengan para imigran dari negara-negara persemakmuran. Walaupun di belakang para imigran tersebut masih ada keluhan terhadap sikap mereka dan menyebut mereka dengan sebutan khusus.

Film “Ladies in Black” dengan cerita para perempuannya yang kental mengingatkan kita pada perubahan. Entah perubahan yang kita perjuangkan sendiri atau perubahan yang mau tidak mau kita terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *