TERLALU TAMPAN (2019): KETIKA PEREMPUAN-PEREMPUAN MELIHAT KETAMPANAN

Siapa yang tidak suka ketampanan? Sang pemilik wajah bisa percaya diri dan tebar pesona, para cewek terkagum-kagum, bahkan ada juga cowok lain yang terpesona, tapi banyak juga yang iri. Tapi jika ketampanan tersebut membuat seseorang jadi pusat perhatian setiap hari, dikejar dan mengganggu kehidupan ia, apakah ketampanan tersebut perlu ditunjukkan? Begitulah yang dirasakan oleh Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, atau biasa dipanggil Kulin. Kalau segan, panggil saja Mas Kulin.

Dalam film Terlalu Tampan, nyaris setiap cewek yang ditemui Mas Kulin (Ari Irham) berlaku tidak wajar karena sengatan ketampanannya tersebut, mulai dari kerasukan seperti Regan di The Exorcist, ataupun mimisan seperti yang digambarkan oleh manga karya Yasuji Tanioka karena gairah yang berlebihan. Jika kamu sekalian pernah dengar cerita tentang Nabi Yusuf yang terlalu tampan, disana pun diceritakan perilaku perempuan yang dikumpulkan ketika memegang pisau dan buah ketika menyaksikan wajahnya.

Ya begitulah, sejak antah berantah perempuan selalu digambarkan terpesona dengan paras tampan lelaki, atau pun sebaliknya, para lelaki yang terpikat dengan kecantikan perempuan. Seperti yang digambarkan lewat sosok Amanda (Nikita Willy). Itu membuat kondisi fisik seseorang merupakan hal yang utama sejak dulu bagi masyarakat dunia. Jika kau punya fisik oke, kau akan jadi orang populer jika mau, kalau tidak oke, siap-siap saja jadi bahan bully. Makanya tayangan dengan orang-orang cakep di dalamnya basanya punya respon memuaskan. Dan acara jumpa fans selalu diiringi dengan teriakan nama-nama idola. Tapi memiliki fisik di atas rata-rata kadang tidak seseru itu. Seperti halnya yang dialami Mas Kulin. Hingga ada seorang cewek bernama Rere (Rachel Amanda) yang menganggap dia biasa saja.


Salah satu hal yang menarik dari film Terlalu Tampan adalah dimana harta berharga para cowok tersebut digambarkan oleh sutradara perempuan bernama Sabrina Rochelle Kalangie. Sementara skenario adaptasinya (skenario film Indonesia pertama yang diadaptasi dari webtoon) ditulis oleh sang sutradara sendiri bersama Nurita Anandia. Dua orang perempuan yang berbicara tentang ketampanan. Tentu harus dilakukan banyak penyesuaian dari apa yang dilihat di webtoon dengan sajian film bioskop. Salah satunya adalah penghilangan atau penambahan karakter tertentu. Hal yang menarik lainnya dari film ini adalah desain produksinya yang cerah dan segar dan lagu-lagu pengiring yang nyaman didengar.


Dengan dua perempuan yang punya kendali terhadap nasib seorang tokoh lelaki, walaupun sudah memiliki cerita latar sendiri dari media terdahulunya, mereka seperti punya kuasa terhadap nasib tokoh tersebut. Pada akhirnya, setampan apapun fisik seorang lelaki, selalu ada kisah dimana para makhluk maskulin bertekuk lutut dan pasrah dalam kendali perempuan.