Festival Sinema Prancis 2013

Di edisi ke-18 ini, Festival Sinema Prancis, festival film asing pertama di Indonesia, kembali hadir dengan formula baru yang telah diuji coba pada tahun 2012, bekerja sama dengan XXI/21 dan menampilkan tiga program acara utama:

»Panorama perfilman Prancis

Digagas pada tahun 1996, Festival Sinema Prancis adalah festival film asing pertama di Indonesia. Festival ini merupakan ajang bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui kualitas dan keberagaman perfilman Prancis.

Festival Sinema Prancis tahun ini, bekerja sama dengan Cinema XXI/21 dan acara “Rendez-vous with French Cinema” di Singapura, mempersembahkan delapan film terbaru Prancis yang belum pernah diputar di Indonesia, dari berbagai genre: laga, horor, polisi, drama, fantastis, romantis, komedi dan animasi.

Beberapa sutradara Prancis juga akan hadir di Jakarta untuk memberikan masterclass bagi para sineas muda Indonesia.

 

Untuk mengetahui film dan jadwal Sinema Prancis 2013 bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

 Jadwal Sinema Prancis

»Retrospektif Abdellatif Kechiche

Setelah Olivier Assayas pada tahun 2012, Festival Sinema Prancis tahun ini mempersembahkan film-film karya sutradara kenamaan Prancis saat ini, Abdellatif Kechiche. Film terakhirnya, la Vie d’Adèle, dianugerahi penghargaan Palme d’Or di Festival Cannes 2013. Empat film sebelumnya akan diputar berkat bantuan dari Institut Prancis di Paris. Dipuji oleh para kritikus, keempat film ini menerima banyak penghargaan baik di Prancis maupun di mancanegara, di antaranya Film Pertama Terbaik, Film Terbaik, Cerita Asli Terbaik dan Sutradara Terbaik. Melalui film-film ini banyak aktor muda berbakat Prancis ditemukan dan dilahirkan.

Bio Abdellatif Kechiche

Abdellatif Kechiche lahir di Tunis pada tahun 1960 dan pindah ke Prancis pada usia 6 tahun. Ia menggeluti teater sebelum memulai debutnya di dunia sinema sebagai aktor pada tahun 1985. Tahun 2000, Abdellatif Kechiche menulis dan menyutradarai sendiri film panjang pertamanya, la Faute à Voltaire, yang diganjar penghargaan Lion d’or sebagai Film Pertama Terbaik di ajang Festival Film Venesia. Tahun 2003, ia membuat l’Esquive yang dianugerahi empat penghargaan Césars (setara Oscars). Tahun 2006, film ketiganya, la Graine et le Mulet, juga memenangkan empat Césars dan Prix du Jury di Venesia. Ia kemudian berganti genre ketika pada tahun 2010 menyutradarai film historis, Vénus noire.

 

»Kompetisi Film Pendek Indonesia

Pada edisi pertamanya tahun 2012, kami menerima 60 film pendek yang dikompetisikan. Sesungguhnya, bagi sineas muda Indonesia, Kompetisi Film Pendek ini merupakan batu loncatan yang memungkinkan mereka memperkenalkan karyanya kepada para sineas profesional dan masyarakat luas. Delapan film pendek yang lolos pra seleksi akan diputar di bioskop-bioskop XXI/21 dan sutradara terbaik, seperti tahun lalu, akan dikirim oleh IFI ke ajang festival film pendek internasional paling bergengsi di Clermont-Ferrand, Prancis. Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya tahun ini, penulis skenario terbaik akan mendapatkan pelatihan intensif selama sebulan di sekolah sinematografi l’Ecole Nationale Supérieure Louis-Lumière di Prancis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *