Detention – Ketika Film Horor Berbicara Tentang Isu-Isu Sensitif

Film horor sering kali dianggap genre film yang dipandang sebelah mata karena hanya mengutamakan kisah dan gambar seram belaka. Lihat saja daftar nominasi di berbagai penghargaan, jarang sekali yang memasukkan film horor sebagai nominee-nya. Namun film tetaplah film, ia adalah media yang sangat fleksibel untuk disuntikan berbagai macam persoalan. Baik yang bersifat kontemplasi individu, isu-isu terkini dan lampau, protes terhadap kekuasaan, persoalan politik dan hal-hal sensitif lainnya. Kita pernah memiliki film horor komedi karya Nya Abbas Akup, “Drakula Mantu” (1974) yang oleh para pemerhati film dianggap menyindir kebijakan pemerintah saat itu yang suka main gusur. Ada juga “Lentera Merah” (2006) karya Hanung Bramantyo yang mengangkat isu sensitif yang terjadi pada tahun 1965. Baru-baru ini Netflix merilis “His House” (2020) arahan sutradara Remi Weekes yang mengisahkan perjuangan para pengungsi dari Sudan Selatan.

Sementara Taiwan belum lama ini merilis “Detention”, film horor psikologis supranatural karya perdana sutradara John Hsu. Film ini merupakan adaptasi dari game berjudul sama yang yang dikembangkan oleh Red Candle Games. Baik game dan filmnya terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi pada masa white terror (1949 – 1987) yang berlangsung setelah kejadian 28 Februari 1947 (yang lebih populer dikenal sebagai 228 incident). Cerita game dan film ini juga terinspirasi dari insiden yang terjadi di Keelung Senior High School pada tahun 1947 dimana banyak siswa yang ditangkap karena menyembunyikan buku-buku yang dianggap terlarang. Pada periode white terror, sebanyak 140.000 warga Taiwan mengalami penindasan karena dianggap sebagai pembangkang.

Pada film “Detention”, para penindas digambarkan sebagai makhluk menyeramkan yang mengejar para siswa dan guru yang bersembunyi di sekitar sekolah. Fang Ray-shin dan Wei Chong-ting, dua siswa yang juga terperangkap di sekolah itu harus berlari dan menghindar dari siksaan makhluk tersebut dan menyelamatkan guru mereka. Sepanjang alur film yang maju mundur antara kenyataan dan ketakutan, satu demi satu rahasia terbongkar dan menunjukkan siapa pengkhianat sesungguhnya.

“Detention” mendapatkan 12 nominasi Golden Horse Awards ke 56 dan memenangkan 5 piala diantaranya. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis buku bertajuk: Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Dalam tulisan ini, kiranya kita bisa mengubah kata sastra dengan “film”.