ALENIA PICTURES MEMPERSEMBAHKAN FILM ‘RUMAH MERAH PUTIH’ KISAH KECINTAAN TANAH AIR ANAK-ANAK PERBATASAN INDONESIA

Jakarta, 21 Mei 2019. Alenia Pictures mempersembahkan film Rumah Merah Putih, film kesembilan yang terinspirasi dari kejadian nyata dan memperlihatkan kecintaan tanah air oleh anak-anak perbatasan Indonesia. Berlokasi di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara, film ini menunjukkan kehidupan anak-anak yang tinggal di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste. Film ini akan tayang saat liburan 20 Juni 2019 dan ditujukan untuk penonton semua umur

Sutradara dan produser: Ari Sihasale

Executive producer: Nia Sihasale Zulkarnaen

Skenario: Jeremias Nyangoen

Film Rumah Merah Putih dibintangi oleh Pevita Pearce sebagai Maria Lopez

Yama Carlos sebagai Daniel Amaral

Shafira Umm sebagai Rosalia

Abdurrahman Arif sebagai Ruslan

dan Dicky Tatipikalawan sebagal Oracio Soares.

Film ini juga memperkenalkan pemain anak-anak asli NTT sebagai tokoh utama yaitu:

Petrick Rumlaklak sebagai Farel Amaral

Amori De Purivicacao sebagai Oscar Lopez

Farel Amaral dan Oscar Lopez tinggal di perbatasan NTT- Timor Leste. Meskipun hidup dengan kesederhanaan, rasa cinta mereka terhadap tanah air sangatlah dalam. Kisah berawal dari satu minggu menjelang perayaan 17 Agustus ketika Farel dan Oscar besera Anton dan David mereka mengikuti lomba panjat pinang yang meriah. Namun bukannya bersatu mereka berdebat hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka gagal dan kemudian menyalahkan satu sama lain. Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah kemana.

Takut dimarahi ayahnya, Farel, Oscar dan teman-temannya berupaya mengumpulkan uang untuk membeli cat. Namun tidak cukup itu saja masalah mereka, mereka harus menghadapl kenyataan bahwa stok cat merah putih sudah habis karena 17 Agustus sudah semakin dekat. Perjalanan Farel, Oscar dan teman-temannya untuk merayakan 17 Agustus menjadi cerita utama film.

Fim ini menandal kembalinya Alenia Pictures setelah lima tahun lalu membuat film Seputih Cinta Melati. Menurut Nia Sihasale Zulkamaen, “Sekarang waktunya pas. Film Alenia dibuat untuk semua umur. Paling cocok kalau ditayankkan selama liburan. 5 tahun belakangan jadwal liburan selalu bersamaan dengan bulan Ramadhan, maka kami menunda dulu. Setelah lebaran tahun lalu, kami memutuskan mulai bergerak lagi. Dari bulan Agustus sudah mempersiapkan produksi dengan cerita yang sudah kami punya empat tahun.”

Untuk aktris utama dipilih Pevita Pearce, sosok yang memulai debut karier bintang filmnya bersama Alenia Pictures. “Untuk fim ini, kami mencari aktris yang cukup ekslusif, jarang tampil di suatu tim tapl dkenal orang banyak Maka kami pun memilih Pevita Pearce,’ ujar Ari Sihasale. Nia Sihasale Zulkarnaen lalu menambahkan, “Dulu kita bertemu di film Denias, Senandung di Atas Awan. Sekitar 13 tahun lalu. Dia ternyata masih mengingatnya. Kami sangat menghargai itu.”

Selain Pevita dan beberapa aktor dewasa yang didatangkan dari ibukota yaitu Yama Carios, Shafira Umm, Abdurrahman Arit, dan Dicky Tatipikalawan. Nia Sihasale Zulkamaen mengatakan, “Suatu kebanggaan, tokoh utama diperankan oleh anak-anak asli Nusa Tenggara Timur. Mereka bahkan belum pemah berhadapan dengan kamera. Mereka tidak punya pengalaman sama sekali sebelumnya, film Ini adalah pengalaman pertama dan langsung sebagai pemeran utama. Semua pemeran anak kecil asli didapatkan dari daerah film dibuat dan logat yang mereka pakal pun asli sesuai lokasi pembuatan. Semuanya melalui proses casting yang cukup ketat di Kupang, Atambua dan Silawan. Dikuti oleh cukup banyak orang-orang di sana. Setelah melalul workshop akting, mereka bisa berperan secara natural dan luar biasa dengan logat asli daerah setempat. Bisa dilihat penamplannya di trailer yang bikin ternganga.”

Anak-anak ini juga menjad inspirasi selama pembuatan. Film ini adalah tentang persahabatan anak anak di gerbang terdepan Indonesia. Mereka menunjukkan kehidupan di gerbang terdepan tidak seperti yang orang pikirkan. Mereka bisa hidup dengan senang, dengan semangat yang mereka miliki, walau keadaan apapun mereka bisa bertahan hidup. Itu yang pengen kita sampaikan. Anak anak di gerbang terdepan ini bangga menjadi orang Indonesia,” jelas Ari Sihasale.

“Selama riset, kami menemukan banyak kalimat spontanitas dari anak-anak disana yang cukup menggedor hati kami,”cerita Nia Sihasale Zulkamaen. “Misalnya ketka mereka mencari cat untuk mengecat rumah setiap Agustus, kalau tidak ada wana merah puth mereka menjawab ‘Merah Putih tidak bisa digant’. Bagi mereka merah puth bukan hanya sekedar bendera, tapl warna itu sudah terpatri di hati mereka, begitu pun kami.”

“Agustus tahun lalu sempat viral sebuah kejadian ketika bendera merah putih tidak bisa dikibarkan. Baru setelah riset, kami ketamu anak-anak disana dan mereka menceritakan seperti apa kejadiannya. Ternyata apa yang terjadi jauh lebih mengharukan, saking cintanya mereka dengan bendera merah putih, meskipun benderanya sempat tidak terbuka, mereka kemudian tetap menyanyikan Indonesia Raya sampai nangis. Seorang anak kemudian mengambil alih dan mengibarkan bendera tersebut. Sebuah momen yang membanggakan. Kami menampilkan adegan itu di film agar orang tahu betapa besar kecintaan warga di gerbang terdepan untuk Indonesia,” cerita Nia Sihasale Zulkarnaen.

Ari Sihasale menekankan, “Saya ingin menularkan rasa nasionalisme, semangat untuk berubah. Ingin menunjukkan bahwa anak-anak dari Indonesia Timur punya kesempatan dan kemauan yang sama dengan anak Indonesia lain. Bahwa kita nggak bisa diem. Kita harus memupuk kembali persatuan dan cinta tanah alr. Semangat ini diawall anak indonesia Timur dan semoga bisa jadi inspirasi buat semua anak Indonesia. Di mana pun kita punya kesempatan yang sama asal kita mau.”

Film ini rencananya akan menjadi awal trilogi perbatasan yang nantinya juga akan membahas kehidupan perbatasan Papua dan Kalimantan. Melalui film-film ini akan diperlihatkan kehidupan di perbatasan yang sudah jauh lebih baik dari di masa lalu.

Dengan bangga Alenia Pictures menyampaikan bahwa film ini seluruhnya dikerjakan anak bangsa, setelah sembilan film akhirnya Ini fim pertama yang total semua pekerjanya dari negeri sendiri. Dari orang Indonesia untuk orang Indonesia. Film ‘Rumah Merah Putih’ akan tayang pada liburan 20 Juni 2019 di bioskop seluruh Indonesia.